Love Scandal

Love Scandal
Part 19 ~ Love Scandal



Mungkin kata bahagia dalam pernikahan tidak akan Aurora dapatkan karena memulai semuanya dengan kebohongan. Entah mendapatkan ancaman dari Aron yang membuat mentalnya terguncang, atau rasa bersalah setiap kali Dito memberinya perhatian-perhatian dan kasih sayang.


Namun, yang lebih sulit lagi karena kini Aurora telah menjatuhkan hatinya pada Dito padahal wanita itu tahu Dito tidak akan membalas cinta. Lalu apa yang terjadi jika Dito tahu yang sebenarnya?


Semua pertanyaan dan berbagai asumsi terus bersarang di hati Aurora, membuat wanita itu tidak tenang setiap harinya.


"Nak, suami kamu ada di bawah."


Aurora mengerjapkan matanya ketika sang mommy datang ke kamar untuk memberitahukan bahwa Dito telah tiba di rumah.


"Iy-iya Ma, Rora nyusul bentar lagi," sahut Aurora.


Wanita itu keluar dari kamar setelah merubah ekpresi wajahnya menjadi biasa-biasa saja. Tersenyum untuk menyambut kedatangan Dito yang sedang berbicara dengan mommy dan daddynya.


"Mau pergi sekarang?" tanya Aurora padahal Dito baru saja duduk.


"Udah nggak kangen?" tanya Dito balik.


"Kenapa buru-buru? Tinggalah dulu sampai makan malam tiba," ujar mommy Aurora.


Dito dan Aurora lantas saling tatap seakan berbicara lewat pancaran mata masing-masing.


"Boleh." Akhirnya Dito bersuara.


"Kalau gitu ganti baju dulu biar nggak gerah." Menarik tangan Dito agar segera berdiri.


Karena memang gerah, akhirnya Dito berpamitan pada mertuanya untuk ke kamar. Berjalan beriringan bersama Aurora layaknya pasangan asli.


"Pizza pesanan kamu ada di meja makan, kayaknya kecampur sama pizza buat mommy dan daddy," ucap Dito setelah sampai di kamar.


"Nanti gue ambil, sekarang kita obatin luka lo dulu." Antusias Aurora. Memang mengganti baju hanyalah alasan wanita itu, tujuannya hanya ingin mengobati luka di wajah Dito sebab tahu suaminya tidak akan mengobati sendiri.


Aurora memutuskan untuk menjadi istri yang baik bagi Dito agar rumah tangganya baik-baik saja. Lagipula Aurora tidak ingin kehilangan pria sebaik suaminya.


"Nggak sakit."


Tanpa banyak protes karena mengantuk, Dito langsung saja berbaring di paha Aurora setelah melepas jaket kebaggannya. Pria itu memejamkan mata ketika sebuah kapas mendarat di sudut bibirnya.


"Lo nggak risih tiap hari liat gue luka?" tanya Dito.


Aurora lantas mengeleng. "Nggak, soalnya udah biasa dulu. Lagian wajar karena lo anak geng motor."


"Suka deh cara pikir lo, Rora. Nggak ngekang pasangan." Dito merubah posisinya menghadap perut Aurora setelah selesai diobati. Menatap perut yang terbungkus piyama.


"Apa kata dokter?"


"Pertumbuhannya baik, dedeknya sehat."


"Syukurlah. Bentar kalau pulang kita mampir beli susu hamil sama cemilan sehat buat kamu."


"Kok perhatian banget?"


Dito menatap Aurora dari bawah dengan kening mengkerut. "Lah memangnya salah perhatian sama istri dan calon anak sendiri? Udahlah jangan canggung gini Rora. Meski anak itu hadir tanpa kemauan kita dan tanpa rencana, tetap saja itu anak kita. Yakali ditelantarin gitu aja."


"Dewasa banget," gumam Aurora.


"Berusaha jadi daddy yang baik," gumam Dito yang perlahan-lahan kesadarannya mulai memudar. Mungkin karena kenyang juga kurang tidur. Bohong jika masuk kamar Dito akan tidur, pria itu akan bermain game hingga puas bahkan sampai dini hari, itulah mengapa sering kali mengantuk di siang hari.


Mendengar dengkuran halus dari Dito, Aurora memberanikan diri mengelus kepala pria itu.


"Maafin gue karena udah bohongin lo. Tapi maaf juga karena gue nggak bisa jujur sama lo. Dulu gue nggak mau jujur sebab takut dibenci semua orang, tapi sekarang gue nggak mau jujur karena takut dibenci sama lo. Gue takut lo ninggalin gue."


"Dito? Gue nyaman ada di dekat lo. Tolong terima gue apadanya meski gue bukan orang suci."


Batin Aurora terus saja berbicara bersamaan dengan air mata terus membasahi pipinya.


Wajah terlelap Dito sangat damai dan enak dipandang mata. Hati siapa yang melihatnya tentu akan jatuh cinta. Bolehkan Aurora egois sekali lagi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan?