Love Scandal

Love Scandal
Part 40 ~ Love Scandal



Meski sudah membereskan semua barang-barang dan bersiap untuk pulang kerumah, suasana hati Aurora masih tidak baik-baik saja karena suaminya tidak kunjung datang meski hanya mempertanyakan bagaimana keadaanya sekarang.


Wanita itu menatap mommy dan mertuanya. "Putri aku mana?" tanya Aurora dengan suara lirihnya. Sesekali menatap pintu berharap seseorang masuk.


"Tadi pas mamah jemput kata suster nanti diantar ke sini. Duh kok susternya lelet sih." Mamah Dito menggerutu. Wanita paruh baya itu lantas meningalkan ruang rawat untuk menemui cucu pertamanya.


Kebetulan mamah Dito berpapasan dengan suster yang berjanji padanya.


"Mana cucu saya?"


"Bukannya sudah diambil sama ayahnya, nyonya?" tanya suster dengan alis bertaut.


"Ayah? Kamu yakin?"


"Benar nyonya, namanya pak Dito. Katanya dia yang bakal bawa ke ruang rawat nona Rora."


Mamah Dito menghela nafas panjang, segera menghubungi putranya untuk memastikan bahwa cucunya ada di tangan pria tersebut.


Hanya dalam satu deringan panggilannya telah dijawab oleh sang putra.


"Akhirnya ponsel kamu aktif juga Nak. Selama ini kemana aja, hah? Tiga hari nggak ada kabar, bahkan kamu nggak ngurusin istri dan putrimu! Ini yang mamah takutkan kalau kamu menikah muda!" Omelan demi omelan keluar dari mulut wanita paruh baya tersebut. Membuat Dito yang baru saja sampai di rumah menghela nafas panjang.


"Sibuk, nggak punya waktu!"


"Dito!"


"Udah dulu Mah, Dito mau buat susu untuk putri Dito!"


Tut


Api amarah seketika membara di hati mamah Dito ketika panggilan diputus begitu saja. Wanita paruh baya itu kembali ke ruang rawat untuk menjemput menantunya dan memberitahukan di mana bayi Aurora berada.


***


Aurora terus menatap keluar jendela sambil menikmati perjalanan dengan perasaan tidak menentu. Rasa takut menghampiri hati wanita itu saat ini. Takut kalau saja Dito berubah karena mengetahui kebohongan yang berusaha dia tutupi.


Aurora berlari memasuki rumahnya setelah turun dari mobil. Mencari keberadaan suami dan putrinya karena sangat rindu.


"Syukurlah lo baik-baik aja," ucap Aurora menghampiri Dito, sementara yang diajak bicara tampak tidak peduli.


"Dari mana aja? Gue khawatir banget sama lo."


"Mamah dan Mommy ada di bawah?" tanya Dito tanpa berkeinginan menjawab pertanyaan Aurora.


Wanita itu mengangguk, membuat Dito lantas bangun, mengendong putrinya keluar dari kamar untuk menemui mamah dan mertuanya.


Dito meringis kesakitan ketika telinganya ditarik sangat keras padahal baru saja sampai di anak tangga terakhir.


"Mah?"


"Ini belum seberapa dari pada masalah yang kamu buat, Dito!" omel mamahnya dengan tatapan menukik.


"Mamah udah, jangan tarik telinga Dito terus. Dia kesakitan!" pinta Aurora. "Lagi pula Rora nggak papa, sekarang udah balik kerumah."


Dito melirik Aurora sekilas, ssbelum duduk di sofa bersama mamah dan mertuanya setelah jeweran terlepas. Jika boleh jujur pria itu muak melihat wajah Aurora yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Bu Besan, Rora dan Dito tinggal di rumah saya dulu ya? Nanti setelah babynya besar baru kerumah bu Besan," pinta mamah Dito.


Mommy Aurora mendelik. "Nggak, mereka harus tinggal di rumah saya dulu! Saya kan ibunya pihak peremuan!"


"Kami tinggal di rumah sendiri! Kalian boleh pulang!" ucap Dito dan Aurora serempak membuat dua wanita paruh baya itu melonggo tidak percaya.


Namun, tetap mengikuti keinginan anak-anaknya untuk mengurus bayi mereka sendiri. Dua wanita paruh baya itu memutuskan untuk berkunjung jika ada waktu luang.


Sebenarnya ingin tinggal, tapi Dito menolak dengan halus padahal sebelum-sebelumnya pria itu tidak pernah bersikap demikian.


"Papah dan Daddy nggak bakal setuju kalau mamah dan mommy tinggal di sini. Kalau kalian rindu, bisa datang sesekali atau kami yang berkunjung."


"Benar Mah, Mom. Nanti kita yang berkunjung. Lagi pula Rora sama Dito bisa ngurus bayi kita sendiri kok. Usia kita udah memasuki 20, ya kali ngurus bayi nggak bisa." Aurora memeluk lengan Dito di depan orang tuanya, membuat pria itu sedikit risih dan ingin segera menepis tangan Aurora dari lengannya.


"Nggak usah sok baik," bisik Dito, berhasil membuat tubuh Aurora menegang.