
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk
Aurora, wanita itu mengusap lehernya yang terasa ngilu setelah cengkraman tangan Aron terlepas. Matanya berair tapi itu tidak membuat amarah Aron mereda setelah dikhianati.
"Ceraikan Dito!"
"Nggak, gue nggak bakal nyia-nyiain pria sebaik dia Aron. Yang harusnya dijauhi itu lo ...."
Plak
Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Aurora, membuat penglihatan wanita itu seakan mengelap. Kaget? Tidak Aurora sering sekali mendapatkannya saat masih menjalin hubungan dengan Aron.
Bahkan jika dia menolak untuk berhubungan, Aron selalu menyiksa dan memaksa dirinya untuk melayani pria itu. Entah dalam keadaan emosi atau mabuk.
"Tampar gue Aron! Tampar gue sepuas hati lo, tapi setelah ini tolong pergi jauh dari hidup gue. Gue mau hidup tenang."
"Selamanya lo bakal tetap jadi milik gue! Kalau lo nggak bisa ninggalin Dito, maka gue bakal buat dia ninggalin lo!" Usai mengatakan kalimat bermakna ancaman pada Aurora, Aron segera meninggalkan rumah mewah tersebut.
Rasa marah sedang menyelimuti perasaan Aron saat ini karena wanita yang dia cintai menikah dengan musuhnya. Wanita yang selalu menjadi tempatnya untuk pulang diambil oleh Dito.
"Sialan! Gue nggak bakal buat hidup kalian bahagia!" teriak Aron di atas motornya. Melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
Sementara Aurora langsung berlari masuk ke rumahnya setelah memastikan Aron benar-benar telah pergi. Langkah wanita itu berhenti ketika mobil hitam berhenti di depan rumah. Turun wanita paruh baya yang membawa tas ransel berukuran kecil.
"Ma-mamah?" sapa Aurora sedikit canggung, mungkin karena baru resmi menjadi menantu wanita paruh baya itu.
"Ini pakaiannya Dito. Ah iya sebentar malam jangan lupa berkunjung kerumah ya, papah baru sadar."
Aurora mengangguk, mengambil tas ransel pemberian ibu mertuanya. Ternyata mamah Dito tidak seseram yang ada dibayangan Aurora selama ini. Terbukti ketika wanita paruh baya itu tahu dia hamil, mamah Dito malah menasehati bukan malah menyalahkan seperti yang daddynya lakukan.
"Nggak mau masuk dulu, Mah?"
"Nggak usah Nak, papah sendirian di rumah."
Aurora menatap Dito dengan sendu, tentu saja ada perasaan bersalah setiap kali Dito membelanya mati-matian di depan orang lain juga orang tuanya. Namun, tidak ada yang bisa Aurora lakukan selain berbohong untuk keberlangsungan hidupnya.
Salahkan dirinya yang terlena akan bujuk rayuan Aron setiap kali pergi berdua sehingga rela melakukam hubungan badan atas nama cinta tanpa memikirkan resiko yang terjadi.
"Gue emang tampan, tapi nggak harus ngeliatin sampai segitunya juga kali."
Aurora buru-buru mengalihkan perhatiannya ke arah jendela, sedikit salah tingkah ketahuan memperhatikan pria yang baru saja menjadi suaminya.
"Tas gue?" Menunjuk tas ransel yang tergeletak di sofa. Aurora mengangguk cepat. "Iya, tadi mamah ya nganter. Mamah juga nyuruh kita kerumah malam nanti buat jengukin papah."
"Nggak masalah?"
"Nggak kok, lagian mereka juga udah jadi orang tua gue sekarang. Sebaiknya lo mandi, udah sore ini!"
Dito mengangguk, beranjak dari ranjang dan berjalan masuk ke kamar mandi. Canggung? Oh ayolah Dito pria yang mudah beradaptasi dengan lingkungan juga ramah, jadi tidak masalah baginya meski berada di tengah-tengah orang yang baru dia kenal.
Setelah mandi, Dito menatap tubuh telanj*angnya pada pantulan cermin. Senyum miring entah karena apa.
"Gila, gue nggak nyangka bakal nikah sama dia. Hati gue masih milik Alana."
Usai mengeringkan tubuhnya barulah Dito keluar dari kamar mandi dan mendapati Aurora duduk selonjoran di ranjang tanpa merapikan kekacauan di kamar.
"Nggak pernah rapi-rapi kamar?" tanya Dito.
"Nggak, semuanya di kerjain Bibi. Kenapa?"
"Cuma nanya aja sih, ah iya lo mau tinggal berdua aja nggak? Keknya aneh kalau tinggal di rumah orang tua terus."
"Boleh, nanti gue minta rumah sama ...."
"Ck, rumah urusan gue. Sekarang lo dan anak kita tanggung jawab gue. Ya kali rumah masih minta bokap lo, harga diri gue hilang cui." Dito terkekeh membuat Aurora ikut tertawa dibuatnya.