
Jika Dito dan inti Avegas lainnya sedang sibuk menjalankan misi dari polisi untuk mengungkap siapa dalang dibalik perdagangan manusia, berbeda dengan Aurora yang sejak beberapa hari ini tidak enak badan.
Sudah seminggu lamanya Aurora tidak mendengar kabar putrinya dan hati wanita itu terasa hampa. Tumpuan hidupnya seakan hilang.
Matahari yang mulai menyapa kedalam kamar tidak membuat Aurora beranjak dari ranjang. Tubuh wanita itu mengigil, anehnya ada keringat menyertai dan tubuhnya terasa sangat panas.
Namun, wanita itu tidak mengabari siapapun termasuk daddy dan mommynya yang mungkin sibuk. Aurora ingin belajar mandiri terlebih usianya sudah memasuki angka 20.
Suara ketukan yang terdengar beberapa kali Aurora hiraukan, tetap memajamkan mata sambil membelakangi pintu kamarnya.
"Gue masuk nih," ucap Adam yang berada di balik pintu.
Namun, Aurora terap memejamkan matanya, tidak ingin membuang tenaga untuk bicara atau bergerak.
Adam perlahan-lahan membuka pintu setelah mengumpulkan keberanian dalam hatinya. Bagaimanapun pria itu baru saja menerobos kamar seorang wanita.
"Udah jam 9 pagi, bentar lagi ada kelas. Lo nggak ke kampus?" tanya Adam berdiri di sisi ranjang.
"Izin," lirih Aurora.
Lantas saja Adam semakin mendekat, memutari ranjang dan terkejut melihat wajah Aurora yang sedikit memerah. Adam menyentuh tubuh tetangganya yang ternyata sedang demam.
"Kok lo nggak ngabarin sih kalau lagi sakit? Mana tidur mulu lagi kerjaanya! Lo kira bakal sembuh hah?" Omelan Adam mulai membuat telingan Aurora ingin meledak.
"Jangan ngomel, lo pergi aja!"
"Nggak, masa iya gue ninggalin lo sendirian. Kita ke dokter!" ajak Adam.
Aurora mengelengkan kepalanya. "Gue kangen sama anak gue, Dam. Tapi daddynya nggak ngizinin buat hubungin lagi," lirih Aurora di sertai air mata yang mengalir di pipinya.
"Gue kira bakal baik-baik aja tanpa mereka, nyatanya nggak."
"Mereka? Mantan suami Lo? Lo masih cinta sama dia? Tapi kok lo bego mau selingkuh?"
"Gue boleh telpon dia nggak sih? Gue kangen," lirih Aurora.
Adam menghela nafas panjang, lantas mengambil ponsel Aurora yang tergeletak di atas nakas. Sebelum menghubungi kontak bertuliskan.
Daddy Alana
Panggilan terus saja tidak ada jawaban, Adam sudah menyerah dan meletakkan ponsel tersebut ke tempat semula.
"Gue yakin putri lo baik-baik aja Ra. Sekarang lo harus nata hidup lebih baik. Buat putri lo bangga suatu hari nanti dan pastinya buat mantan suami lo nyesal, ya meski yang selingkuh lo sih," sindir Adam yang tidak sadar terus mengusap rambut Aurora.
Sesekali menyeka air mata yang terus berjatuhan ke bantal. Adam sedikit tahu tentang perpisahan Aurora dan Adam karena Aurora yang menceritakannya sendiri dengan versi Dito adalah suami yang baik untuknya.
"Mau makan apa? Biar gue yang ...." Ucapan Adam terhenti ketika deringan ponsel terdengar.
Dengan sigap Adam menjawab panggilan dari mantan suami Aurora.
"Lama banget sih angkat telponnya. Kalau orang sekarat dia udah mati!" omel Adam.
Membuat Dito di seberang telpon mengernyit heran. Nomor baru, suara asing tapi langsung mengomel. Tentu semua orang akan bingung termasuk Dito.
"Salah sambung lo? Ganggu aja!"
"Aurora sakit! Dia kangen sama anaknya. Lo jangan egois dong mikirin diri sendiri! Sampai nggak biarin Rora ketemu anaknya. Lo waras?"
"Bacot!"
Dito lantas memutus sambungan telpon sepihak, membuat Adam tentu kesal.
Berbeda dengan Aurora yang menatap tajam pria yang membuat kondisinya semakin membaik sebab kepalanya dipijat ringan.
"Lo kok cerewet banget jadi cowok? Itu Dito marah!"
"Ya udah sih, emang benar kan gue ngomongnya? Meski kalian pisah dan lo salah, bukan berarti dia berhak sama anak kalian! Lo yang ngandung, lo yang pertaruhin nyawa buat lahirin dia! Harusnya kalau telpon apa Vc bisa dong."
"Adam!"
"Rora! Gue kesal karena lo sakit!"
"Gue bukan siapa-siapa lo!"
"Lo tanggung jawab gue selama di korea! Artinya lo sakit dan disakitin gue berhak marah!" ucap Adam penuh tekanan tidak peduli bahwa wanita yang sedang dia ajak berdebat sedang sakit.
Namun, meski mulut sibuk misu-misu, tangan Adam terus aktif memijit kepala atau tangan Aurora sambil menunggu dokter datang.