
Bangun pagi dan mendapati putrinya tertidur dengan lelap, adalah yang sangat Aurora impikan sejak dulu. Namun, wanita itu baru bisa merasakannya sekarang.
Itupun momen indah yang dia dapati pagi ini tentu tidak akan berlangsung lama. Dito akan mengambil putrinya kembali Aurora yakin tentang hal tersebut.
Senyuman Aurora mengembang ketika Alana mengeliat dan mengerjapkan matanya secara perlahan.
Balita berusia 7 bulan itu menatap Aurora seakan memastikan sesuatu, tidak lama kemudian seutas senyuman menghiasi wajah cantik Alana. Mungkin mengenali bahwa wanita yang ada di sampingnya adalah bidadari tidak bersayap yang bersedia melahirkannya ke dunia.
"Benar-benar mirip mommy," guman Aurora.
Wanita itu membiarkan Alana berguling-guling untuk menenangkan hatinya. Sebab anak kecil sering kali histeris jika bangun tidur langsung diganggu.
Sambil menunggu suasana hati Alana membaik, Aurora membereskan kamarnya yang tampak sedikit kacau sebab tidak sempat beres-beras kemarin.
Setelahnya mengendong Alana keluar kamar untuk membuatkan susu sekalian sarapan.
Langkah Aurora memelan ketika melihat Dito berbaring di atas sofa dengan tangan menutup wajah. Dia mendekat karena Alana meronta ingin diturunkan.
"Katanya mau pulang semalam, nggak jadi?" tanya Aurora duduk di sisi sofa yang masih tersisa. Membiarkan Alana naik ke tubuh Dito yang ternyata sudah bangun sejak lama.
"Baru datang."
"Tau sandi apartemen?"
"Cuma sandi apartemen? ATM lo aja bisa gue bobol." Dito senyum miring. Merubah posisinya agar lebih menempel pada sofa. Itu semua untuk memudahkan Aurora duduk dengan nyaman.
Bisa dibilang posisi keduanya cukup intim, membuat pria yang berdiri tidak jauh dari mereka menghentikan langkahnya.
"Lupa kalau ada tamu," cengir Adam hendak berbalik dengan beberapa kresek di tangannya. Namun, urung ketika Aurora bersuara.
"Mau kemana? Itu lo pasti bawa sarapan buat gue kan? Ayo sarapan sama-sama!" ajak Aurora menarik tangan Adam menuju meja makan yang bisa dilihat langsung dari ruang Tv.
Percayalah tatapan Dito sangat sulit untuk dijabarkan. Namun, marah bukanlah selousi terlebih dia dan Aurora tidak punya hubungan apapun lagi.
"Ayo sarapan dulu Dito. Biar Alana sama gue!" ajak Aurora dari dapur.
"Kenyang."
"Bohong kan lo? Yakin dah lo malu sama gue," cibir Adam sambil menyiapkan sarapan di atas meja.
Pria itu kebetulan memesan beberapa karena tahu Aurora baru saja sembuh. Biasanya masa pemulihan orang kurang selera makan.
Apa keputusan Dito untuk berkunjung kurang tepat? Aurora tidak membutuhkan keberadaanya sebab ada yang lebih baik.
"Dito kenapa melamun? Ayo cepat!" Menarik tangan Dito agar segera bergabung.
Akhirnya ketiga manusia berbeda generasi itu makan di meja yang sama dengan pikiran tentu berbeda.
Alana berada di pangkuan Aurora, sesekali menerima suapan bubur instan yang dibawa oleh Dito.
Jika boleh jujur, Dito lebih handal dalam mengurus bayi dibandingkan Aurora. Dito sangat sempurna menjadi seorang daddy. Semua keperluan Alana tidak ada yang tertinggal meski satu barangpun padahal sedang bepergian cukup jauh.
"Lahap banget makannya, ayo Sayang lagi ... ammmm." Sibuk menyuapi Alana membuat Adam dan Dito menatap Aurora jengah.
"Makan!" ujar Dito.
"Lo sakit nggak ditanggung BPJS jadi jangan banyak tingkah!" ucap Adam menyodorkan sesendok Japchae ke mulut Aurora.
Japchae adalah salah satu makanan korea yang lumayan terkenal, itulah mengapa Adam memesannya untuk sarapan pagi ini.
Aurora menahan pegelangan tangan Adam. "Gue mau bibimbap," ucapnya.
Dengan sigap Adam menyendok bibimbap (Salah satu makanan korea yang dicampur dengan nasi. Di indonesia bisa dikatakan nasi campur)
Suara sumpit yang dilentakkan terdengar nyaring setelah satu suapan berhasil masuk ke mulut Aurora.
Adam dan Aurora lantas menatap Dito yang wajahnya sangat masam. Terlebih sejak datang, Dito seakan engang untuk tersenyum.
"Kenapa nggak makan?" tanya Aurora.
"Nggak selera, gue bisa beli sendiri!" sahutnya dan meninggalkan apartemen tanpa pamit.
"Cemburu," guman Adam.
"Huh?"
"Mantan suami lo cemburu tuh, gue yakin banget," cetus Adam.
"Nggaklah, dia emang gitu kalau lagi nggak mood. Lagian buat apa cemburu, dia nggak cinta dan kita udah cerai."