Love Scandal

Love Scandal
Part 70 ~ Love Scandal



Pukulan bertubi-tubi Aron dapatkan di dalam ruangan yang temarang akan cahaya. Kali ini pria itu tidak bisa berkutik ataupun mengelak. Tubuhnya telah bersimbah keringat, mulutnya mengelurkan darah segar seiring batuk yang terus melanda setiap detiknya.


Aron mengerang kesakitan, menatap daddynya penuh pengharapan. Berharap pria paruh baya yang berdiri tidak jauh darinya menyuruh anak buahnya untuk berhenti memukul.


"Daddy!" panggil Aron.


Tepat saat itu pukulan pria bertubuh kekar berhenti, bertepatan lampu ruangan menyala hingga menyilaukan mata pemiliknya.


"Dia anakmu kan? Bawa dia pada Daddy atau kau akan menerima akibatnya," ucap daddy Aron berjongkok di depan Aron yang tidak lagi berdaya.


Alasan Aron begitu keras dan tidak bisa diatur di luar sana, itu semua karena dia tidak pernah mendapatkan ketenangan di dalam rumah. Hanya Auroralah tempat Aron untuk pulang, tapi wanita itu menghilang tanpa jejak.


"Kenapa nggak pernah ngomong kalau kau punya anak perempuan sangat cantik hm? Bawa dia pada daddy dan kau akan mendapatkan sebuah mobil baru," ucapnya.


Aron menghela nafas panjang setelah kepergian daddynya bersama anak buahnya. Inilah salah satu alasan Aron tidak ingin bertanggung jawab pada Aurora, terlebih setelah tahu anaknya seorang perempuan.


Daddy Aurora adalah mafia yang memperdagangkan manusia secara ilegal, anehnya lagi polisi tidak bisa menyentuh daddy Aron.


Menyuruh mengugurkan kandungan sebab Aron takut anaknya akan dijual seperti yang lainnya. Namun, sekuat apapun dia menyembunyikan daddynya tetap tau keberadaan Alana.


Aron menemui Dito tadi dan meminta putrinya hanya karena ada orang suruhan daddynya yang mengawasi. Jika tidak, Aron lebih rela jika Alana bersama Dito.


Sama seperti daddynya, Avegas tidak bisa disentuh oleh polisi.


"Rora, gue kangen sama lo," gumam Aron memegangi perutnya yang terasa sakit. Pria itu berusaha merain ponselnya yang tergeletak untuk menghubungi sang kekasih.


Namun, bukannya mendapat jawaban, Aurora malah menolaknya. Semua orang menganggap Aron adalah pria bren*gsek, tapi tidak semua orang bisa ada di posisi Aron. Menanggung semua beban karena memiliki daddy berjiwa psi*kopat seperti daddynya.


Jangankan orang lain, istri sendiri pria itu jual karena mendapatkan bayaran yang sangat besar. Mungkin jika Aron adalah perempuan, pria itu juga akan dijual oleh daddynya.


***


Jika Aron sedang mendapatkan siksaan dari daddynya, berbeda dengan Dito yang tengah memeluk Alana yang sedang tertidur.


"Alana putri daddy kan? Alana nggak bakal ninggalin daddy? Daddy janji bakal jaga Alana sebaik mungkin," bisik Dito di telingan Alana yang masih terlelap setelah makan siang.


Baru saja akan memejamkan mata, ponsel yang berada di atas nakas berdering, dia lantas menjawab tanpa merubah posisi tidurnya.


"Gimana kabar Alana? Apa dia baik-baik aja? Dito, jaga dia untukku, jangan pernah berikan pada Aron. Tolong ...," ucap Aurora dengan suara bergetar di seberang telpon.


Hal tersebut berhasil mengalihkan semua perhatian Dito.


"Lo tau dari mana?" tanya Dito.


"A-Aron ngirim pesan sama gue. Dia mau ngambil hak asuh Alana. Gue takut dia nyiksa putri gue Dito. Dulu dia pernah ngomong nggak suka anak cewek," jujur Aurora.


Dito menghela nafas panjang, bahkan ketika sudah berada di negara berbeda, hidup Aurora belum tenang. Padahal Dito berharap mantan istrinya hidup bahagia meski tidak bersamanya.


"Ganti no Hp, nonaktifkan semua akun lo dan ganti yang baru!" ucap Dito.


"Tapi ...."


"Nurut Rora, ini semua demi kebaikan lo sama Alana!"


Terdengar helaan nafas di seberang telpon sebelum akhirnya Aurora setuju akan saran Dito.


"Iya, tapi kalau udah ganti semua gue bakal hubungin lo."


"Nggak usah, cukup beritahu orang tua lo aja!"


Dito lantas mematikan sambungan telpon, di mana dia baru saja memicu salah paham di benak Aurora tanpa pria itu sadari.


Dito mungkin berpikir tentang keselamatan Aurora, tapi tidak dengan Aurora yang mengira Dito tidak mau diganggu olehnya lagi.