
Opsi pertema sebelum menjelajah cukup jauh tentu saja makan siang bersama, terlebih sejak tadi Alana sudah mengeluh ke kelaparan.
Dan di sinilah Dito, Aurora dan Alana berada, yakni restoran yang tidak terlalu mewah. Restoran terdekat dari sekolah Alana tadi.
Semua menu yang dipesan oleh Dito telah berada di atas meja dan siap untuk disantap. Namun, kecanggungan tiba-tiba menghampiri ketika celetukan Alana terdengar tanpa disangka oleh siapapun, terlebih Dito.
"Tante cantik udah punya pacar? Tante cantik mau jadi mommy Alana? Alana nggak nakal kok, Alana anak pintar kata daddy," ucap gadis kecil itu dengan binar bahagia diwajahnya.
Aurora menanggapi dengan senyum, sedangkan Dito mengaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa sangat gatal.
"Tante Rora nggak bisa jadi mommy Alana, lagian baru ketemu udah minta yang aneh-aneh. Nggak takut tantenya risih?"
Alana lantas mengeleng. "Alana suka sama tante cantik, daddy."
"Makan Sayang, jangan debat mulu sama daddynya," ucap Aurora menengahi pertengkaran yang ada. Sesekali menatap Dito yang juga curi-curi pandang terhadapnya.
Di tengah-tengah Alana fokus ke makanan, Aurora akhirnya memberanikan untuk bicara.
"Kenapa tiba-tiba hilang kabar? Kamu bahkan blokir aku Dito, padahal aku nggak tau letak salahnya di mana. Apa kamu tahu sakitnya nahan rindu itu gimana?"
"Nggak udah bahas macem-macem ada Alana," sahut Dito pura-pura fokus pada makanannya.
Pria itu berusaha menghindari pembicaraan Aurora. Memang benar yang memutus kontak lebih dulu adalah Dito. Bahkan ketika orang tua Aurora ingin bertemu Alana, ada banyak alasan yang pria itu berikan pada mertuanya.
Sungguh Dito adalah pria yang sangat egois hanya karena tidak bisa menerima bahwa hatinya telah jatuh pada Aurora. Wanita yang berhasil mematahkan kepercayaan yang selama ini dia bangun dalam rumah tangga yang dia bayangkan akan selalu indah.
"Kapan ada waktu berdua? Aku nggak mau ada kesalahpahaman di antara kita lagi, Dito. 4 tahun bukan waktu yang singkat untuk berdamai bukan?" Tangan Aurora mengerak untuk menyentuh tangan Dito yang berada di atas meja.
Tersenyum sangat manis. "Mari sama-sama dewasa untuk menyelesaikan semuanya."
Dengan ragu, akhirnya Dito menganggukkan kepalanya.
Jalan-jalan yang katanya akan penuh kesenangan hanya angan semata ketika kabar daddy Aurora tiba-tiba masuk rumah sakit. Wanita cantik itu terpaksa meninggalkan putri dan mantan suaminya di restoran setelah mendapatkan telpon dari sang mommy.
Suara derap langkah terus saja bersahut-sahutan seiring detak jantung tidak beraturan. Aurora terus berdoa sepanjang melewati koridor agar daddynya baik-baik saja.
Penyakit jantung akut telah daddy Aurora derita sejak lama. Namun, baru akhir-akhir ini semakin parah.
Aurora menatap pria tampan yang kini menjadi kekasihnya, pria itu berdiri tepat di depan ruangan perawatan sang daddy.
"Gimana kabar daddy?" tanya Aurora pada Adam. Pria yang berhasil memikat hatinya setelah berjuang selama kurang lebih 3 tahun untuk mendapatkan cinta Aurora yang selalu terbayang akan masa lalu.
"Habis ketemu Alana?" tanya balik Adam tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Dam, plis jangan berdebat sekarang! Aku mau tahu kondisi daddy!" pinta Aurora memaksa untuk masuk tapi tangannya dicekal oleh Adam.
"Dengerin aku dulu Rora. Kalau daddy tanya kamu dari mana, ngomong habis jalan-jalan sama teman ya? Ntah dari mana informasi tentang kamu yang ketemu sama Dito, tapi itu berhasil mancing emosi daddy," ucap Adam memperingatkan setelahnya mengizinkan Aurora untuk masuk.
Aurora memaksakan senyumnya setelah berada di dalam ruangan, di belakang Aurora tentu ada Adam ikut serta.
"Gimana kondisi Daddy?"
"Kamu ketemu sama Dito? Apa kamu nggak hargai perasaan Adam sebagai calon suami kamu Nak? Dito itu pria egois! Dia tega ngajuhin Alana pada keluarga kita."
"Daddy, Rora nggak ketemu Dito kok. Rora cuma ketemu Alana di sekolah tanpa Dito. Lagian Rora udah nggak cinta sama dia, terlebih undangan udah ke sebar." Aurora mengenggam tangan daddynya yang terasa dingin.
Mommy Aurora? Wanita paruh baya itu sedang keluar membelikan suatu untuk suaminya.
"Kamu bisa ambil Alana, Nak? Dia cucu pertama daddy."
"Bisa Daddy, tapi bukan untuk selamanya. Hanya beberapa jam saja."