
Di saat semua orang mengira Dito hilang bagai ditelan bumi. Berbeda dengan pria itu sendiri yang tengah berbaring di atas ranjang, dia baru saja terlelap beberapa jam yang lalu padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 9 pagi.
Selama tiga hari Dito sibuk mencari tahu apa saja yang disembunyikan Aurora padanya. Selama ini dia terlalu memberi kepercayaan pada Aurora sehingga bisa ditipu selama berbulan-bulan, bahkan tidak terhasut oleh teman-temannya.
Satu yang membuat Dito bersyukur, sebab belum mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada wanita yang telah membohonginya.
Menghilang dari hadapan orang tuanya, orang tua Aurora dan istrinya bukan berarti pria itu menghilang dari hidup putrinya.
Putri yang telah dia beri nama Alana tanpa mendiskusikan pada siapapun. Meski tahu bayi mungil itu bukan darah dagingnya, Dito masih menganggap putrinya sebab terlanjur jatuh cinta ketika Aurora mengatakan bahwa mengandung anaknya.
Terlebih sejak dulu Dito sangat menyukai anak kecil.
Dito terlelap setelah menemukan semua fakta tentang istrinya yang dulu pernah pacaran dengan Aron karena sebuah insiden. Di mana wanita itu menolong Aron yang hendak melompat dari jembatan.
Di situlah awal Aron mulai tertarik pada Aurora, berujung memaksa hingga akhirnya Aurora jatuh cinta dan menyerahkan kesuciannya. Itulah yang Dito temukan.
Fakta tentang Aurora sengaja menjebaknya untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan salahnya juga sudah terkuak. Hal itu membuat Dito sangat terpukul dan merasa terhina.
Mungkin masa lalu yang kelam Dito bisa menerimanya sebab tahu tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Namun, menyangkut kebohongan besar sangat menghina harga dirinya.
Pria itu mengorbankan banyak hal untuk membela Aurora, bahkan karena pengakuannya, ayahnya sempat masuk rumah sakit.
Satu pertanyaan yang terlintas di benak Dito setelah mengetahui semuanya.
Pernahkah Aurora menyesali semua perbuataannya? Pernahkah wanita itu berkeninginan untuk memberitahukan yang sebenarnya.
Namun, jawaban di hati Dito terus mengatakan TIDAK. Jika keinginan itu memang ada, sudah lama Aurora mengatakan semuanya. 6 bulan bersama, mengarungi rumah tangga penuh kedamaian, bukanlah waktu yang singkat untuk mengumpulkan keberanian berterus tetang kebenaran.
Rak buku sangat tinggi sebagai penyekat tempat tidur dari ruang rapat inti Avegas jika merencakan sesuatu untuk menajalankan misi dengan identitas Bayangan.
Sayangnya dunia hitam yang pernah Avegas geluti berhenti ketika ketua mereka meninggal dunia demi memberi keadilan pada detektif yang kebetulan ayah Salsa.
"Tidur jam berapa?" Samar-samar Dito mendengar celetukan dari ruangan meeting yang terdapat komputer.
"Sembilan kayaknya," sahut Dito menghampiri Ricky. Sekarang jarum jam telah menunjukkan angka 3 sore.
"Lo beneran nggak butuh bantuan buat nyari yang lainnya? Misal apa yang Aurora lakukan di restoran pas kecelakaan. Gue bisa retas CCTV ...."
"Nggak, gue nggak sanggup liat kebenaran lainnya. Dahlah, gue mau ke rumah sakit jemput putri gue. Hari ini dia dah bisa pulang." Menyambar jaketnya di kursi lalu pergi setelah menepuk pundak Rocky.
Dito melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, takut didahului oleh orang tua atau mertuanya. Bayi itu miliknya, bukan milik Aron ataupun Aurora.
Dia bernafas lega setelah sampai di rumah sakit menemukan putrinya berada di gendongan suster yang akan membawanya keruangan Aurora.
"Biar saya aja, Sus." Dito mengambil alih Alana kecil dalam gendongan suster. Membalik tubuhnya menuju lift tanpa ada keinginan berkunjung ke ruangan Aurora. Pria itu membenci istrinya yang tega membohonginya. Padahal jika Aurora ingin berkata jujur, mungkin Dito bisa berbaik hati untuk memaafkan.
"Putri daddy cantik banget. Tenang aja Sayang, kamu nggak bakal kekurangan kasih sayang meski sedikit aja. Maafin daddy karena harus misahin kamu sama mommy," bisik Dito di telinga putrinya sebelum meletakkan di box tanpa kaki.
Box tersebut berada di jok depan samping kemudi agar terus berada dalam pantauan Dito.
"Minummya susu formula aja ya, Sayang?" Dito tersenyum, senyum penuh kepalsuan untuk menutupi luka.
Dulu ditinggal nikah, sekarang ditipu. Sungguh perempuan begitu kejam mempermainkan hati Dito yang selembut sutra.