Love Scandal

Love Scandal
Part 64 ~ Love Scandal



Warung bu Warni masih saja ramai akan anak-anak Avegas. Berbagai sampah, entah bungkus makanan, gula-gula bahkan kopi minuman berserakan di sekitar sebab ulah Avegas.


Namun, itu tidak membuat bu Warni marah, bisa dibilang malah senang sebab dangangannya laris manis. Hari ini yang mensponsori adalah Samuel, pria yang baru saja mendapatkan gaji pertamanya sebagai Pilot.


Dito yang merasa matahari semakin menghilang segera beranjak dari duduknya. Terlebih mata Alana telah menyipit, pertanda mengantuk.


"Gue balik dulu lah," ucap Dito diangguki yang lainnya.


Mereka mengerti kalau Dito tidak lagi seperti dulu yang bebas bepergian. Baru saja Dito mendorong troly Alana, dua motor besar telah berhenti tepat di depan warung Bu Warni.


"Wih ramai banget njir, gue ketinggalan banyak." Heboh Rayhan yang baru saja turun dari motor. Meletakkan helmnya di di bangku kosong.


Lirikan pria itu tertuju pada Dito. "Pulang lo? Nggak setia kawanlah, gue baru datang. Iya nggak Ky?" Menoleh pada Ricky yang datang bersamanya.


Dito berdecak. "Lonya aja yang lambat kek cewe. Sana makan sepuas lo, noh si kutub lagi baik hati." Menunjuk Samuel dengan bibirnya.


Setelah berpisah ala-ala laki-laki bersama anggota Avegas, akhirnya Dito meninggalkan warung tersebut. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang demi keselamatan putri kecilnya.


Hampir satu jam berkendara barulah Dito sampai di rumah. Pria itu lantas mendapatkan tatapan tajam dari mamahnya.


Jam 5 sore, barulah Dito pulang. Jika tidak membawa Alana itu tidak masalah bagi wanita paruh baya yang berdiri di ambang pintu.


Dito meringis ketika telinganya ditarik layaknya anak kecil.


"Benar-benar ya kamu. Udah punya anak masih aja keluyuran, mana ngajak-ngajak cucu mamah lagi," geram mamah Dito, berjalan sambil menarik telinga putranya sehingga Dito harus mengikuti sambil mengendong Alana yang mulai cekikikan.


Alana baru saja bangun sedang tertidur dalam perjalanan pulang.


"Mamah ngerti nongkrong nggak sih? Alana juga suka-suka aja," sahut Dito.


"Malam ini Alana tidur sama Mamah!"


"Nggak!" Bukan, itu bukan sahutan Dito melainkan papahnya. "Mamah gimana sih? Ya kali tidur sama cucu, terus Ditonya tidur sama siapa?"


Dito mengulum senyum mendengar pertanyaan papahnya. Buru-buru dia melarikan diri karena mendapatkan kesempatan.


Dito tahu betul papahnya bukan perhatian padanya sehingga tidak membiarkan tidur sendiri. Yang sebenarnya, pria paruh baya itulah yang tidak ingin tidur sendiri jika istrinya memilih tidur dengan Alana.


"Putri Daddy cape ya? Mandi sore dulu ya, terus pakai baju cantik lagi," ucap Dito dibalas dengan gumaman tidak jelas oleh Alana.


Selang beberapa menit akhirnya Alana telah rapi dengan pakaian rumahan, begitupun dengan Dito. Keduanya menikmati senja di balkon kamar.


Dito lantas mengambil ponselnya, lalu memposting foto yang dia ambil beberapa jam yang lalu di sekitar warung bu Warni.



Baru saja memposting beberapa menit yang lalu, berbagai komentar telah masuk. Salah satunya Rayhan dan Ricky yang selalu menyiram bensin pada api.


Ada beberapa pujian dari fans-fans Dito, bahkan ada yang mengatakan rela menjadi ibu tiri dari Alana. Namun, bukan itu yang Dito inginkan.


Dia sedang menunggu seseorang bertanya setidaknya kabar tentang Alana. Tidak kunjung ada harapan, Dito meletakkan ponselnya di atas meja.


Mengecup pipi Alana yang mengembung. "Sepi ya Sayang? Alana mau makan apa hm? Apa mau mommy ...."


Belum selesai ucapan Dito, sebuah panggilan telah masuk ke ponselnya. Senyuman pria itu mengembang sempurna. Berdehem untuk mentralisir rasa yang membuncah di dada tanpa tahu apa sebabnya.


"Habis jalan-jalan ya sama Alana?" tanya Aurora tanpa basa-basi di seberang telpon. Wanita itu baru saja melihat postingan Dito dan kebetulan baru sampai di apartemennya bersama Adam.


"Iya, mau liat nggak?" tanya Dito. Dia buru-buru melakukan panggilan Video ketika mendapatkan persetujuan. Mengarahkan ponselnya pada Alana, sementara Dito sibuk menatap wajah Aurora di seberang telpon.


"Habis jalan-jalan ya putrinya Mommy? Pasti senang banget." Aurora terus mengajak Alana berbicara, sementara Alana selalu ingin merebut ponsel di tangan daddynya.


Berbeda dengan Dito yang atensinya teralihkan pada pria yang sibuk mondar-mandir di belakang Aurora.


"Tinggal sendiri?" tanya Dito akhirnya.


Aurora mengangguk di seberang telpon.


"Iya tinggal sendiri, tapi ada anak teman daddy di apartemen sebelah. Ini dia lagi bantuin beres-beres," jawab Aurora. "Ingat tetangga yang lo tanyain itu nggak? Dia orangnya, namanya Adam. Dia juga ternyata satu jurusan sama gue." Aurora tersenyum lebar menatap putrinya.


Berbeda dengan Dito yang air mukanya telah berubah sejak beberapa menit yang lalu.


"Rora, gue patahin ya leher lo! Malah asik telponan padahal gue sibuk!" Suara Adam terdengar berbarengan sambungan terputus begitu saja.