Love Scandal

Love Scandal
Part 28 ~ Love Scandal



Mendapatkan persetujuan dan lampu hijau untuk mencintai suaminya sendiri membuat Aurora mempunyai keberanian besar untuk berkorban menyelamatkan Dito dari marabahaya.


Wanita itu duduk di sisi ranjang, menunggu balasan pesan dari mantan kekasihnya di seberang telpon setelah mengirimkan sebuah pertanyaan.


Di mana?


Itulah isi pesan yang Aurora kirimkan pada Aron.


Markas, napa? Kangen lo?


Setelah mendapatkan balasan, Aurora akhirnya bersiap-siap dan menemui Dito yang hendak pergi ke kantor sebab sekarang hari libur kuliah.


"Udah mau berangkat?" tanya Aurora dengan senyuman manisnya. Rambut sedikit gelombang yang tergerai indah membuat wanita itu terlihat cantik.


Celana panjang tidak terlalu ketat berserta kaos putih di balut cardigan menyertai penampilannya untuk menutupi perut yang semakin membuncit.


Kening Dito mengerut. "Mau kemana? Rumah Mommy?" tanya balik Dito.


"Mau jalan-jalan sama teman, gue bakal jaga diri dan pulang cepat."


Dito mengangguk paham, mengusap pipi Aurora yang terlihat cubi. "Hati-hati, kalau ada apa-apa langsung kabarin gue. Ah ya, pintar nyetir kan? Pakai mobil di luar aja, gue pakai motor ke kantor."


"Boleh?"


"Banget."


Aurora mengangguk antusias, dia mengira Dito akan curiga atau bertanya banyak hal tentang kepergiannya ternyata tidak. Pria itu benar-benar telah memberikan kepercayaan penuh pada Aurora.


"Andai aja gue bisa mutar waktu, gue bakal milih jatuh cinta pada Dito dibandingkan Aron," batin Aurora menatap punggung kekar Dito yang berjalan di depannya.


Refleks Aurora meraih tangan Dito untuk dia kecup sebelum masuk ke mobil. "Semangat kerjanya, Dito."


"Cielah diberi semangat sama istri." Cengir Dito bercanda. Pria itu mengangguk sebelum memasang helmnya.


Aurora memperhatikan motor Dito yang telah menghilang di balik pagar. Segera menyusul agar bisa pulang cepat kerumah.


Wanita itu berencana berkunjung ke markas Aron untuk membicarakan sesuatu. Mungkin akan sangat berbahaya, tapi Aurora yakin Aron tidak akan menyakitinya.


Aurora memejamkan matanya, menguatkan tekat sebelum turun dari mobil.


"Bos, liat siapa yang datang!" teriak anggota Aron yang lebih dulu melihat Aurora.


Aron segera bangkit untuk melihat siapa yang datang. Senyum miring terbit di bibirnya melihat wanita yang dia cintai berkunjung di waktu yang tepat.


"Sayang, gue tahu pasti lo bakal nemuin gue karena kangen." Menghampiri Aurora lalu mengenggam tangannya. Menarik wanita itu memasuki rumah yang telah dipenuhi laki-laki.


Aurora berusaha melepaskan genggaman Aron, tapi pria itu tidak memberi celah meski sedikit saja.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo, tapi nggak di sini," lirih Aurora.


"Tenang Sayang, gue tau lo suka tempat yang tertutup."


Dengan sigap Aron menarik Aurora masuk ke sebuah kamar lalu menguncinya. Katakanlah Aurora bodoh karena datang ke kandang buaya, tapi apa boleh buat hanya itu yang biasa dia lakukan agar Dito tidak lagi pulang dalam keadaan terluka.


"Mau peluk atau cium dulu?" tanya Aron bersedekap dada.


Aurora mengeleng, wanita itu lantas berlutut di hadapan Aron sambil mengangkupkan kedua tangannya seakan momohon. Aurora mendongak.


"Maaf karena nyakitin perasaan dan khianatin lo dengan menikah sama Dito, tapi gue nggak ada maksud buat balas dendam Ron. Gue cuma takut orang tua gue malu karena putri satu-satunya hamil di luar nikah. Maaf," ucap Aurora dengan mata berkaca-kaca.


Aurora tipe wanita yang sangat mudah menangis jika membicarakan sesuatu.


"Andai lo mau tanggung jawab, gue nggak bakal nikah sama dia. Gue awalnya juga nggak tau kalau dia musuh lo."


Aron tertawa jahat, pria itu duduk di sisi ranjang yang sangat berantakan, sepertinya baru saja di pakai entah untuk apa.


"Kenapa gue harus tanggung jawab sama yang bukan kesalahan gue? Pertama bisa aja lo hamil sama pria yang nggak gue tau, kedua salah lo karena terlalu subur! Lo tau sejak awal kita lakuin itu, gue nggak mau lo hamil."


"Aron!" bentak Aurora dengan nafas memburu.


"Semuanya bakal selesai kalau lo mau bunuh janin sialan itu. Gue cinta sama lo, Rora, tapi nggak sama janinnya."


Bukan hanya Aurora, Aron juga takut pada orang tuanya. Terlebih pada daddynya yang seorang mafia. Menghamili sebelum menikah, maka nyawa taruhannya.