
Mendapat berita tentang putranya yang telah menghamili anak gadis orang sungguh membuat orang tua Dito sangatlah terkejut, terutama sang papah yang jatuh pingsan sebab tidak kuasa menahan rasa sesak di dadanya.
Nikah mudah yang semula ditantang oleh kedua belah pihak akhirnya harus terjadi untuk menutupi aib dua perusahaan besar yang namanya sedang melambung tinggi.
Pernikahan sederhana karena dilaksanakan secara dadakan sedang terjadi di rumah Aurora tanpa kehadiran ayah Dito yang sedang berada di rumahnya.
Hari itu juga tepat hari dimana harusnya mereka kabur dari orang-orang yang mereka kenal, Aurora dan Dito resmi menjadi suami istri di hadiri sahabat Dito, orang tua Aurora dan dua tetangga yang menyaksikan pernikahan terjadi.
Dan di sinilah Aurora dan Dito berada sekarang. Di dalam kamar Aurora duduk saling membelakangi, masih tidak menyangka status mereka telah berganti hanya dalam hitungan detik.
"Lo gerah?"
"Hm."
"Tunggu bentar, gue cari baju daddy siapa tau ada yang masih baru," ucap Aurora hendak beranjak dari sisi ranjang. Namun, Dito mendahului wanita itu.
"Nggak udah, bentar lagi sopir papah bawa pakaian gue. Ada baiknya lo istirahat aja."
Aurora mengangguk patuh, kembali duduk di sisi ranjang memainkan ponselnya untuk mengusir rasa canggung sebab berada dalam satu kamar dengan Dito.
Tangan Aurora bergetar hebat ketika mendapatkan beberapa pesan dari Aron.
Sialan, lo beneran nikah sama Dito, hm?
Lo benar-benar nggak dengerin peringatan gue Rora!
Turun, gue ada di pagar
Deretan pesan terus saja masuk di ponsel Aurora membuat dia takut bukan main. Wanita itu melirik Dito yang ternyata berada di balkon sedang menghisap batang rokoknya.
Aurora lantas menarik Dito. "Jangan berdiri di sana," ucapnya langsung menutup balkon yang membuat Dito mengernyit heran.
"Kalau gitu jangan ngerokok lagi. Udara panas banget, Dito. Gue takut lo hitam. Gue nggak mau punya suami hitam." Bohong Aurora yang tidak ingin Aron dan Dito saling bertemu pandang, terlebih posisi balkonnya tepat menghadap pagar rumah.
"Gue bakal nunggu sopir Papah di depan, lo tidur aja dulu!"
Tanpa curiga dan memang masih mengantuk, Dito lantas membaringkan tubuhnya di ranjang. Sementara Aurora buru-buru menemui Aron yang tidak mungkin pergi jika dia tidak datang.
Senyuman pria yang identik dengan anting di telinga kanan itu mengembang sempurna melihat Aurora berjalan mendekat.
"Akhirnya datang juga."
"Pergi Aron, gue udah nikah. Kita nggak punya hubungan apa-apa lagi!" Usir Aurora.
Aron tertawa kencang, melirik perut Aurora yang masih terlihat rata. "Lo yakin? Terus anak gue gimana?"
"Aron!" bentak Aurora.
"Gue nyuruh lo gugurin tuh anak terus kita pacaran lagi, tapi lo malah jebak musuh gue buat nutup aib lo. Hebat!" Aron turun dari motornya, mendekati Aurora membuat wanita itu terus mundur hingga punggungnya membentur tembok tinggi.
"Lo-lo mau enak aja. Gue udah ngasih tau lo tentang anak ini tapi lo nggak mau tanggung jawab, Ron. Lepasin gue, plis!" pinta Aurora yang matanya mulai berkaca-kaca akibat cengkraman Aron di lehernya.
Katakanlah Aurora jahat karena mempermainkan bahkan menipu Dito tentang kehamilannya. Sejak awal memperhatikan Dito di kelas, Aurora tahu pria itu sangat penyayang dan penuh tanggung jawab, itulah mengapa Aurora mencari kesempatan untuk menjebak Dito sebelum perutnya semakin terlihat.
Wanita itu mempunyai kesempatan saat Dito dan teman-temannya sedang merayakan ulang tahun di Club malam. Aurora memasukkan obat perangs*ang dengan dosis rendah di minuman Dito tanpa siapapun tahu lalu muncul di hadapam pria itu setelah teman-temannya pergi.
Memang Dito menikmati tubuh Aurora karena dia yang menyerahkan tubuhnya agar meyakinkan Dito bahwa anak yang berada diperutnya adalah darah daging Dito.
Namun, kenyataan yang sebenarnya. Janin yang ada diperut Aurora murni darah daging Aron. Sayangnya Aron tidak ingin bertanggung jawab, malahan memaksa Aurora untuk mengugurkan kandungannya.