Love Scandal

Love Scandal
Part 89 ~ Love Scandal



Ucapan Dito terus saja tergiang-giang di telinga Aurora, sampai-sampai wanita itu tidak menyadari bawah calon suaminya telah duduk tepat di hadapannya.


Aurora baru sadar saat Adam mengenggam tangannya dan berucap.


"Cantiknya Adam nggak boleh ngelamun," ucap Adam mengelus pipi Aurora.


Wanita itu tersenyum. "Sejak kapan?"


"Baru aja, kirain masih sama Dito eh pas aku cek dia udah pergi. Gimana? Dia mau ngasih Alana semalam aja?"


Aurora mengangguk. "Nggak dibiarin bermalam, jemputnya besok."


"Kamu baik-baik aja?" tanya Adam memastikan, karena melihat wajah Aurora yang sedikit tidak seperti biasanya.


"Aku baik-baik aja, Dam. Ayo makan dulu mumpung ada gratisan," cengir Aurora untuk mencairkan suasana.


Keduanya akhirnya malam malam dan sesekali tertawa. Pacaran kurang lebih satu tahun membuat keduanya memutuskan untuk melangkah ke jenjagnya yang lebih serius.


Hari pernikahan yang semakin mendekat membuat keduanya semakin tidak terpisahkan. Mungkin Aurora tidak terlalu bucin, tapi berbeda dengan Adam yang terus ingin berada di dengan kekasihnya.


Kening Adam mengkerut saat mendapati Aurora menatapnya seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa, Sayang?"


"Kamu nggak marah kan aku dekat sama Alana? Apalagi sampai bicara sama Dito?" tanya Aurora akhirnya. Wanita itu takut akan melukai hati Adam karena masa lalunya.


Adam mengeleng. "Nggak, soalnya sebelum kita pacaran dan mutusin ke jenjang lebih serius, aku udah tahu masa lalu kamu. Aku tahu Dito mantan suami kamu. Ada putri cantik yang harus kamu beri kasih sayang. Lagian bukan kamu yang meminta untuk bersama, tapi aku yang ngejar-ngar, Rora."


Adam menyentil hidung mencung calon istrinya hingga menimbulkan tawa. Pria itu menyendok sesuatu lalu menyerahkan ke mulut Aurora.


Keduanya tampak bahagia, begitupun dengan Dito yang perlahan-lahan mulai ikhlas meski belum sepenuhnya. Setidaknya tidak ada beban di hati Dito untuk saat ini.


Di dalam kamar bernuansa sage dengan mainan robot di dalamnya seorang gadis tengah memeluk daddynya yang tengah membacakan dongen sebelum tidur.


Dia adalah Alana, sesekali protes jika dongen yang dibacakan Daddynya tidak sesuai keinginan.


"Kenapa kura-kuranya menang padahal larinya lelet? Harusnya yang menang itu kelinci daddy," protes Alana setelah Dito selesai menceritakan kisah kelinci dan kura-kura.


"Kan tadi udah dijelasin Sayang, kelincinya tidur ditengah-tengah lomba."


"Tapi kan harusnya kelinci nggak tidur daddy!"


"Pokoknya Alana mau kelinci yang menang!" Bersedekap dada dengan pipi mengembung.


Bukannya kesal Dito malah menghujani wajah putrinya ciuman hingga tidak menyisakan satu incipun.


"Jangan cium-cium Alana, daddy! Alana masih marah ih. Kata oma, daddy ketemu tante cantik tapi nggak ngajak Alana!"


"Heh?"


"Alana mau ketemu tante cantik lagi." Menarik-narik ujung baju daddynya.


Dito menghela nafas panjang, niat hati menidurkan malah jadi berdebat seperti ini, padahal dia harus bangun pagi untuk bekerja besok.


Ya Dito bekerja meski di hari libur. Senin-jumat Dito bekerja sebagai karyawan biasa, sabtu-minggu dilatih untuk menjadi presdir yang bertanggung jawab.


Sangat repot bukan? Tapi semuanya demi putri tercinta.


"Daddy!"


"Besok tante cantik jemput Alana, sekarang bobo dulu!"


"Daddy bohong?" Menelisik wajah tampan Dito.


"Memangnya Daddy pernah bohong sama kamu, hm?"


"Yey, Alana sayang Daddy." Memeluk daddynya kembali dengan binar bahagia. Entahlah, tapi di hari pertama berjumpa, Alana langsung jatuh cinta pada Aurora.


"Lusa ikut daddy nge gym."


"Siap Daddy!" Memberi hormat, setelahnya berbaring di samping Dito.


Alana menikmati tepukan daddynya dipundak. Terbiasa selalu bersama sejak kecil, membuat Alana tidak bisa tidur sebelum mendengar suara dan menghirup aroma tubuh daddynya.


Besar tanpa seorang mommy sebenarnya tidak membuat Alana kekurangan kasih sayang, hanya saja rasa iri sering kali menghampiri setiap kali melihat teman-temannya di jemput oleh mamah mereka.


Dan sekarang Alana telah menemukan kandidat yang tepat untuk menjadi mommynya.


"Tante cantik mau jadi mommy Alana?" gumam gadis kecil itu di alam bawah sadarnya.


Dito yang mendengar segera menyahut. "Tante cantik udah jadi mommy Alana kok. Sekarang daddy nggak bakal egois buat misahin kalian. Kalian bisa bertemu kapan saja asal Mommy bisa menepatin janjinya," bisik Dito yang sudah mampu berdamai dengan rasa sukanya.