
Aurora, wanita itu tengah duduk di salah satu bangku bagian luar Cafe menunggu mantan suaminya yang tidak kunjung datang. Padahal dia dan Dito telah berjanji akan bertemu jam 10 pagi di tempat ini.
Sesekali Aurora mengecek ponselnya, berharap mendapatkan pesan tentang keterlambatan Dito untuk saat ini.
"Sabar Rora, Dito pasti sekarang lagi ngurus Alana," gumam Aurora.
Dia memutuskan untuk memesan sesuatu agar tidak bosan menunggu. Selang beberapa lama, senyumannya mengembang ketika melihat pria tampan berjalan ke arahnya dengan balita mengemaskan di gendongan.
Aurora tidak pernah menyangka bahwa Dito bersedia membawa putri mereka sesuai permintaanya kemarin. Dia lantas berdiri untuk mengambil Alana dari gendongan mantan suaminya.
"Maaf, gue agak telat karena nggak tega bangunin Alana," ucap Dito meletakkan tas kecil khusus perlengkapan putrinya.
Aurora mengangguk antusias. Bahkan jika disuruh menunggu 2 jam dia rela jika itu bisa bertemu putrinya yang cantik.
"Nggak papa, dan makasih udah bawa Alana."
"Hm."
Dito sibuk mengeluarkan beberapa buku di tasnya untuk mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh dosen.
"Pasarnya kurang lebih 1 km dari sini, To. Mau makan dulu atau langsung ke sana?" tanya Aurora membuka pembicaraan setelah puas melepas rindu dengan Alana.
Seperti tahu kondisi, Alana duduk anteng di pangkuan mommynya sambil memainkan boneka yang sejak tadi dipeluk.
"Gue udah sarapan sama Alana. Lo kalau mau makan, makan aja dulu. Lagian gue belum selesain pertanyaanya," sahut Dito yang tampak acuh bahkan untuk menatap Aurora saja tidak.
Aurora mengangguk, segera beranjak bersama Alana untuk mencari makanan di sekitar tempat mereka duduk atas persetujuan Dito tentunya.
Langit yang mendung membuat Aurora tidak khawatir kalau saja putrinya akan kepanasan, terlebih baju menyerupai kelinci dengan kain lumayan tebal tengah membungkus balita tersebut.
"Jalan-jalan sama mommy dulu ya Nak? Alana kangen sama Mommy? Alana nggak rewelkan pas diasuh Daddy?" Aurora terus saja melayangkan pertanyaan dan hanya dibalas kekehan kecil oleh Alana. Terlebih ketika Aurora menyentil pipinya sekali-kali.
"Rora!"
Langkah Aurora refleks berhenti ketika namanya dipanggil oleh seseorang. Tubuhnya engang untuk berbalik tapi berat untuk melangkah menjauhi pria yang baru saja memanggilnya.
"Lo udah pisah sama Dito, ayo kita balikan!" ucap Aron tanpa dosa.
Pria itu sempat menghilang dari permukaan karena kasus kecelakaan yang menimpa Aurora beberapa bulan yang lalu. Daddynya menyembunyikan Aron agar tidak terlibat oleh polisi manapun.
Menghapus jejak CCTV yang menampilkan wajah Aron.
Pria itu baru keluar dari sarangnya setelah mendengar Aurora telah berpisah dengan Dito.
"Bu-bukan urusan lo!" jawab Aurora gugup, semakin memeluk putrinya erat. Takut Aron melukai Alana dan dia tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu putrinya suatu hari nanti.
"Bayi kita?"
"Bukan! Dia putriku sama Dito!"
"Cantik, sayangnya gue nggak suka anak cewek!" Aron senyum sinis. Pria itu hendak meraih tangan Aurora untuk dia genggam, tapi disalip oleh Dito yang mengenggamnya lebih dulu.
"Jauh banget nyari makannya!" omel Dito menarik Aurora menjauhi Aron.
"Gue masih cinta sama lo, Rora. Gue janji bakal milikin lo suatu hari nanti!"
Teriakan Aron samar-samar masih terdengar di telinga Aurora dan Dito, tapi tidak satupun dari mereka yang menoleh kecuali Alana yang menyempatkan menatap Aron meski sekilas.
"Kalau lo mau ketemu Aron jangan bawa Alana!" ujar Dito setelah sampai di tempat semula.
"Gu-gue nggak sengaja ketemu sama dia Dito. Gue nggak ada niatan mau ketemu sama dia. Gu-gue mau lari tapi nggak bisa ... Maaf."
"Biar gue yang ngerjain semuanya, nanti tinggal lo perbaiki aja." Dito mengambil alih mengendong Alana dan berlalu pergi begitu saja menyisakan Aurora duduk dengan lutut bergetar di kursi tempatnya berpijak tadi.
Baru saja wanita itu akan menemukan bahagianya karena diperbolehkan bertemu dengan Alana, semuanya hancur sebab kedatangan Aron yang tiba-tiba.
"Jangan nangis, lo udah janji sama diri sendiri nggak boleh nangis di situasi apapaun," gumam Aurora, mengatur nafasnya yang memburus. Memandangi mobil Dito yang telah melaju tanpa ada kata pamit seperti biasa.