
Avegas, geng motor yang selalu membawa kedamaian untuk anggotanya, juga untuk orang lain yang membutuhkan bantuan dalam keadaan mendesak.
Mungkin bagi orang tua maupun seseorang yang tidak tahu siapa itu Avegas, mereka akan mengira Avegas dalah geng motor brandal yang selalu mencari masalah.
Kebangkitan Avegas setelah istirahat selama beberapa bulan disambut meriah oleh beberapa geng motor lainnya. Markas telah di penuhi oleh suara riuh dan tawa membahana. Begitupun dengan tempat para inti Avegas yang tengah melepas rindu ala pria setelah lama tidak berjumpa, kecuali Keenan, Ricky dan Dito yang selalu bertemu setiap saat.
"Cielah yang udah jadi pilot, nggak sabar pengen diajak terbang," celetuk Ricky.
"Ke neraka?" tanya Samuel dengan alis terangkat, membuat Keenan, Rayhan dan Dito tertawa puas. Samuel pria yang tidak bisa diajak bercanda, terlebih pawangnya telah pergi tanpa meninggalkan jejak apapun.
"Gue keknya harus pergi deh," celetuk Dito ketika jarum jam sudah menunjukkan angka 4 sore.
"Cepat amat njir, baru juga dua jam duduknya!"
"Gue ada acara sama Rora, rencananya mau ngungkapin perasaan sih," cengir Dito merasa malu pada sahabatnya, terlebih pada Rayhan, Keenan dan Samuel yang notabenenya sepupu Alana.
"Yakin lo? Bukannya ...."
"Gue yakin! Terlepas cara kita nikah dan kebohongan Rora, gue nyaman sama dia. Mungkin aja apa yang gue temuin salah bro, bisa aja itu emang anak gue bukan Aron." Dito tetap pada pendiriannya padahal Samuel telah memberikan peringatan pada pria itu sejak jauh-jauh hari.
"Dito?"
"Gue tau, gue bodoh." Menunduk. Selama ini Dito sudah tahu kalau Aurora dan Aron pernah pacaran dan melakukan hubungan suami istri. Namun, kenyataan malam itu tidak bisa Dito lupakan untuk menyakinkan dirinya bahwa janin yang berada di perut Aurora adalah anaknya.
"Emang lo bodoh! Sampai mau nyatain perasaan lagi. Lo tuh cuma pintar nyari informasi dan nyelesain masalah orang, tapi nggak pernah bisa nyelesain masalah sendiri. Apa salahnya sih lo tes DNA biar semua jelas?" omel Rayhan.
Dito lantas berdiri, bukan marah pada teman-temannya yang selalu menghasut untuk menjauhi Aurora sejak 3 bulan yang lalu. Hanya saja Dito tidak ingin terhasut akan perkataan sahabatnya.
Dito tidak ingin menyesal di kemudian hari. Melakukan tes DNA sama saja dia meragukan janin yang ada di dalam kandungan Aurora, baik-baik jika hasilnya negatif. Jika positif Dito akan merasa bersalah pada istri dan anaknya nanti.
"Nggak asik lo ah, main cabut gitu aja. Ayolah toh kita baru ngumpul lagi loh ini," celetuk Ricky.
"Semangat Dito." Keenan mengepalkan tangannya. Memberi semangat meski tidak rela sahabatnya menjadi bodoh karena perempuan dan simpatinya.
"Dengan siapa?" tanya Dito.
"Kami dari pihak kepolisian pak, istri anda sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan. Pelaku telah diamankan di kantor polisi."
Jantung Dito seakan berhenti mendengar berita tersebut. Wajahnya pias pasi membuat teman-temannya lantas bertanya.
"Napa, To?"
"Aurora kecelakaan!" sahutnya dan berlari keluar dari markas. Melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata agar bisa sampai dengan cepat di rumah sakit.
Keringat bercucuran di kening pria itu karena berlari di koridor rumah sakit. Nafasnya memburu, jantungnya berdetak tidak karuan setelah sampai di depan ruangan operasi yang lampunya baru saja dimatikan, pertanda operasi telah selesai.
"Dengan keluarga nona Aurora?" tanya Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
Dito mengangguk.
"Maaf kami melakukan tindakan tanpa persetujuan dari keluarga sebab harus menyelamatkan mereka."
Lagi Dito hanya menganggukkan kepalanya.
"G-gimana sama istri dan anak saya, Dok?"
"Kondisi ibunya baik-baik saja pak, nggak ada luka parah, tetapi bayi bapak harus masuk ruangan Nicu sebab lahir prematur juga kondisinya kritis."
Brugh
Tubuh Dito terjatuh ke lantai, rasanya dunianya benar-benar telah hancur sekarang. Semua fakta tentang masa lalu Aurora tidak pria itu pedulikan karena kasih sayangnya pada sang bayi.
Bahkan saat tahu Aron dan Aurora pernah berhubungan, Dito tidak mempermasalahkannya sebab tahu semua orang mempunyai masa lalu yang kelam.
Jika masa lalu menjadi patokan layaknya seseorang pantas menjadi masa depan, maka untuk apa perubahan itu ada?