
Dulu sedekat nadi, sekarang sejauh matahari. Mungkin itulah pepatah yang bisa mengambarkan hubungan Dito dan Aurora saat ini. Berada di atap yang sama, perasaan yang sama tapi dengan suasana yang telah berbeda. Keduanya tampak seperti orang asing yang tinggal bersama.
Bukan Aurora yang memberi jarak, melainkan Dito yang sudah memantapkan hatinya untuk berpisah.
"Sarapan dulu To, gue udah masak buat lo."
Dito tidak menyahut, pria itu berlalu dari hadapan Aurora mengendong putrinya yang sangat tenang, seakan keduanya mempunyai ikatan batin layaknya ayah dan anak.
Aurora mengikuti langkah suaminya, menarik tangan pria itu agar berhenti melangkah.
"Gue tau maaf aja nggak bisa ngilangin rasa kecewa di hati lo, tapi gue bakal terus minta maaf sampai mendapatkan maaf," ucap Aurora tanpa ada rasa putus asa untuk mengejar maaf dari suaminya.
Sejak pertengkaran semalam, keduanya baru bertegur sapa hari ini. Itupun yang memulai Aurora.
"Lo mau kuliah kan? Sini Alana sama gue aja." Ingin mengambil putrinya di gendongan Dito, tapi pria itu menghempaskan tangan Aurora sedikit kasar.
Tahu rasanya? Sakit tapi tidak berdarah ketika dilarang untuk menyentuh putrinya sendiri. Bisa dihitung sebarapa kali Aurora mengendong putrinya. Wanita itu menyentuh Alana saat berada di rumah sakit saja.
Harus kalian tahu bagaimana tertohoknya hati Aurora ketika tahu putrinya diberi nama persis seperti wanita yang dicintai suaminya.
"Dito dia putriku, lagipula gue takut kalau aja nanti mamah atau mommy tiba-tiba berkunjung." Mendongak menatap sang suami yang wajahnya pucat seperti kurang tidur, mungkin karena merawat Alana semalaman.
"Bersikaplah seolah-olah angin, ada tapi nggak terlihat!" ucap Dito dan masuk ke mobil. Meninggalkan Aurora dengan sakit hati yang wanita itu derita.
"Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa hubungin gue ya!" teriak Aurora melembaikan tangan, bersikap seolah-olah baik-baik saja.
Sejak dulu urat malu Aurora sudah putus, wajahnya telah setebal tembok sehingga tidak masalah hidup tidak tahu diri meski sudah tidak diinginkan lagi di rumah ini.
Aurora duduk termenung di meja makan, memandangi hidangan yang ada di meja makan tanpa selera, padahal dia membuatnya susah payah dengan bantuan bibi.
Dia mendongak ketika bibi berjalan mendekat.
Aurora mengelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. "Saya nggak bisa bohong bilang baik-baik aja, Bi. Hati saya sakit, Dito nggak kayak dulu lagi, tapi saya sadar ini semua kesalahan saya," jawabnya.
"Yang sabar ya Neng. Den Dito kalau marah nggak lama kok, apalagi sama orang yang dia sayang, paling betah tiga hari." Menepuk pundak majikannya pelan.
"Nggak mungkin, kesalahan gue terlalu besar buat diamaafin semudah itu," batin Aurora mengusap air matanya kasar, terlebih ketika mendengar suara kegaduhan dari ruang tamu.
Wanita itu beranjak untuk menumui tamunya yang ternyata sang mertua. Mamah Dito membawa banyak belanjaan padahal baru jam 10 pagi.
"Aduh Sayang, mamah rempong banget ya?" Cengir mamah Dito.
"Dikit Mah." Membantu mertuanya memindahkan barang ke atas meja. Menyalimi punggung tangan wanita paruh baya itu seperti biasa.
Entah apa yang terjadi jika mertuanya juga tahu hal yang telah dia sembunyikan selama ini. Mungkin semua orang akan membencinya seperti yang di lakukan Dito.
"Kenapa berdiri terus? Ayo duduk!" Menarik tangan Aurora agar duduk. "Mamah bawa banyak baju lucu buat cucu mamah. Pasti kalau dipakai cantik banget. Ah ya, mana cucu mamah?"
"It-itu ... Dito lagi ngajak Alana jalan-jalan, Mah. Katanya cuma bentar."
"Alana?" Kening wanita paruh baya itu mengernyit. Alana yang mamah Dito tahu adalah putri Kevin. Gadis itu sering berkunjung kerumahnya sebelum menikah.
Aurora mengangguk. "Nama putri Rora dan Dito, namanya Alana. Cantik kan Mah?"
Mamah Dito terdiam, menatap menantunya kasihan. "Kamu tahu siapa Alana?"
Lagi dan lagi Aurora menganggukkan kepalanya, bahkan senyumnya semakin lebar. "Alana adalah sahabatnya Dito. Dulu mereka sering bersama, Dito sayang banget sama Alana sampai rela ngelakuin apapun. Dito yang awalnya nggak suka tentang korea akhirnya suka karena Alana."
"Mantu mamah hebat banget," gumam mamah Dito langsung memeluk Aurora cukup erat. Wanita itu dapat melihat ketulusan dari pancaran mata Aurora saat membicarakan tentang Alana.
Padahal semua orang tahu siapa Alana dalam hidup Dito.