Love Scandal

Love Scandal
Part 57 ~ Love Scandal



Tidak sabar ingin bertemu dengan putri dan mantan suaminya. Aurora segera bersiap-siap setelah mendapatkan pesan dari Dito yang mengatakan akan datang 1 jam lagi.


Wanita itu memoles liptin di bibirnya agar telihat lebih cantik dan fress ketika bertemu dengan Dito nantinya. Dia berjalan keluar dari kamar setelah selesai bersiap-siap.


Menunggu di depan pagar rumahnya agar tidak diketahui oleh orang tuanya yang sejak pagi Aurora tidak melihatnya ada di dalam rumah. Atensi Aurora teralihkan pada pria yang sedang menyiram bunga tepat di depan pagar.


Pria yang menegur Aurora semalam sebab berteriak layaknya orang gila.


"Apa liat-liat?" tanya Aurora ketika pria itu balik menatapnya. Padahal yang harusnya bertanya adalah pria tersebut.


"Orang punya mata juga. Lagian galak amat. Gue tetangga lo kali."


"Bodoh amat, gue nggak peduli." Aurora lantas menatap jalanan dengan wajah cemberutnya.


Sebenarnya Aurora bukan kesal apalagi marah sama tetangganya, melainkan malu sebab kedapatan berteriak semalam.


Senyuman Aurora baru terlihat ketika mobil hitam berhenti tepat di depannya. Binar bahagia dari Alana menyambut Aurora ketika membuka pintu mobil.


"Wah putri mommy cantik banget hari ini. Tau aja mau jalan-jalan," puji Aurora lantas mengambil Alana dari pangkuan Dito.


Sementara tatapan Dito sejak tadi tertuju pada pria yang terus menatap Aurora dari tadi. Pria itu baru melajukan mobilnya setelah tetangga Aurora masuk dan menutup pagar rumah.


Tidak ada saling sapa antara Aurora dan Dito. Aurora yang sibuk dengan putrinya, sementara Dito fokus pada jalanan di depan.


"Sayang, jangan tarik rambut mommy sakit," ucap Aurora, dengan hati-hati menjauhkan tangan mungil putrinya.


Dito yang melihatnya mengulum senyum. Alana memang suka memainkan rambut seseorang, apalagi sedang terurai. Dengan sebelah tangan Dito mengeluarkan sesuatu di dasbor mobilnya.


"Biar nggak di tarik," ucap Dito, menyerahkan jepit rambut pada Aurora.


"Huh?"


"Rambut lo, katanya kalau ditarik sakit."


"Oh, kirain apa." Aurora lantas mengambil jepit rambut tersebut. Mencepol rambutnya asal agar tidak bisa ditarik lagi oleh Alana yang sangat aktif.


Diam-diam wanita itu tersenyum, ternyata jepitan rambut yang sering kali Aurora lupa di mobil selalu tersimpan rapi tanpa dibuang oleh mantan suaminya.


Itulah yang mungkin yang ada di pikiran Aurora dan Dito dalam diamnya di dalam mobil.


"Kita mau kemana?"


"Siapa pria tadi?"


Tanya Dito dan Aurora serempak. Keduanya saling pandang sebelum akhirnya fokus pada objek masing-masing.


"Yang di samping rumah? Memangnya dia kenapa?"


"Cuma nanya," jawab Dito.


"Cuma tetangga biasa, gue baru liat tapi kayaknya rumah itu nggak pernah kosong deh sebelumnya."


"Kirain pacar lo."


Tawa Aurora pecah seketika mendengar gumaman mantan suaminya.


"Walau gue mungkin murahan di mata lo, tapi nggak sesingkat itu juga kali, To. Kita baru pisah beberapa hari, yakali punya pacar. Lagian gue-gue ... Gue mau sendiri dulu." Mengalihkan perhatiannya pada jalanan bersama Alana yang juga tampak menikmati.


Sebenarnya Aurora ingin mengatakan tidak mungkin beralih kelain hati begitu saja karena masih mencintai Dito. Tapi lidahnya terasa kelu untuk saat ini. Sudah tidak pantas membahas tentang perasaan pada mantan suaminya.


Aurora sesekali tertawa kecil ketika Alana memekik girang jika melewati boneka yang sering kali ada di depan toko. Apalagi jika semilir angin tiba, boneka tersebut seakan menari-nari dan mengambil perhatian Alana.


Itu semua tidak luput dari perhatian Dito. Andai saja dia tidak egois, maka rumah tangganya sekarang masih utuh. Namun, apa boleh buat. Rasa kecewa atas kebohongan Aurora tidak bisa Dito lupakan begitu saja.


"Daddy, gimana kalau kita ke istana balon? Kayaknya Alana bakal senang deh kalau ke sana," ungkap Aurora.


"Boleh, tapi setelah dari rumah sakit. Hari ini Alana punya jadwal periksa kesehatan."


"Siap." Memberi hormat pada Dito.


"Cayangnya mommy mau periksa dulu hm? Cayangnya mommy pasti sehat dong. Pipinya gembung gini." Menoel-noel pipi mengembung Alana.