Love Scandal

Love Scandal
Part 45 ~Love Scandal



Aurora, wanita itu berbaring di atas ranjang sambil memandangi wajah putrinya yang terlihat sangat cantik. Biasanya bayi perempuan akan mirip ayahnya, tapi berbeda dengan Alana yang hampir mengcopy setiap lekukan di wajah Aurora. Mata, hidung, lesu pipi dan garis senyum sangat mirip dengan ibunya.


Hal itu membuat Aurora sangat bersyukur sebab putrinya tidak mirip dengan Aron. Wanita itu akan lebih bersyukur lagi jika besar nanti Alana tidak meniru sikap ayah kandungannya.


Karena gemas Aurora mencium pipi putrinya berulang kali.


"Gemas banget putri Mommy," bisik Aurora dengan penuh senyuman.


Meski jarum jam sudah menunjukkan angka 12 malam, matanya tidak bisa terpejam sebab menunggu sang suami untuk membicarakan banyak hal berdua saja.


Aurora ingin mempergunakan waktu setengah jamnya untuk bicara dari hati ke hati bersama Dito. Namun, sepertinya malam ini pria itu sangat sibuk dengan teman-temannya.


Aurora membaliknya tubuhnya ketika mendengar pintu berdecit. Dia segera turun dari ranjang dan menghampiri Dito.


"Lo pasti ngantuk banget."


"Hm."


Aurora lantas mengambil bantal lalu meletakkannya di sofa membuat Dito yang hendak ke kamar mandi menatap heran.


"Ngapain?"


"Buat tidur. Lo bisa tidur sama Alana di ranjang, gue di sofa aja. Lagian gue lebih nyaman di sini, empuk." Cengir Aurora menepuk sofa sambil tersenyum.


Meski luka jahitannya sedikit terasa sakit, Aurora tidak pernah mengeluh di depan Dito, sebab yang harus dia lakukan mengambil hati suaminya bukan malah bermanja-manja.


Sambil menunggu Dito keluar dari kamar mandi, Aurora sesekali mengintip perban di perutnya. Perban itu terlihat kering, tapi entah kenapa rasanya sangat lembab bagi Aurora.


Namun nyatanya Dito malah duduk tepat di kaki Aurora yang berselonjor.


"Lo gantuk?"


Aurora membuka kepolak matanya, menatap Dito yang juga menatapnya. Dia mengeleng sebagai jawaban.


"Mau gunain waktu lo malam ini?"


Aurora terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Lantas merubah posisinya menjadi duduk. Ada jarak sekitar setengah meter dia dan Dito.


"Lo nggak mau tanya sesuatu?"


"Nggak ada, gue beri lo waktu setengah jam ngomong apa aja." Dito meletakkan ponselnya di meja setelah mengantur stopwatch.


Aurora mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara. Karena Dito tidak bertanya, Aurora tidak akan meminta maaf, tapi menceritakan awal hingga akhir rahasia besar yang dia sembunyikan selama ini pada suaminya.


"Gue sama Aron udah pacaran cukup lama. Ngelakuin hal yang lebih dari sekedar orang pacaran sampai akhirnya hamil. Awalnya gue tenang karena yakin Aron bakal tanggung awab sama kehamilam gue, tapi nyatanya dia cuma pecun*dang."


Aurora terdiam sejenak. "Bukannya bertanggung jawab dia malah maksa gue buat gugurin kandungan, sampai dia tega nyiksa gue habis-habis. Pernah sekali dia bahkan nginjak perut gue karena nggak mau tanggung jawab."


Dito memejamkan matanya mendengar kisah Aurora yang sungguh menyayat hati, jika itu terjadi pada kakaknya dulu, mungkin Dito akan membunuh Aron.


"Di sana gue mutusin buat mengakhiri hubungan sama Aron, meski dia selalu maksa balikan setiap kita bertemu. Gue ketakutan saat itu Dito. Gue takut Aron bakal nekat buat gugurin kandungan gue, takut orang tua gue tahu dan ngelakuin hal yang sama. Gue juga belum siap dibenci semua orang, termasuk diusir dari rumah dan jadi gelandangan padahal sedang hamil. Gue nggak mau jadi bahan bulian di kampus." Air mata Aurora lolos begitu saja membasahi pipi untuk ke sekian kalinya.


"Pas gue lagi kacau-kacaunya lo senyum ke gue di kelas. Senyum yang mampu buat hati gue sedikit tenang, harusnya saat itu gue nggak punya pemikiran licik, tapi karena bingung akhirnya gue mutusin jadiin lo target. Gue selalu nyari kesempatan yang pas sampai suatu hari dengar lo bakal rayain ulang tahun di club malam."