
Hari pertama berpisah setelah tinggal bersama kurang lebih 1 tahun tentu saja mengundang rasa sepi di hati masing-masing, terutama Aurora yang harus kehilangan dua orang tersayangnya sekaligus.
Hari ini, wanita itu berangkat ke kampus sendiri setelah sarapan tanpa ada yang menemani. Di tangan Aurora ada bekal yang entah untuk siapa.
Aurora mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sehingga membutuhkan waktu lama baginya untuk sampai di sekolah. Namun, karena berangkat lebih cepat, wanita itu tidak ketinggalan satu kelaspun, bahkan datang sebelum teman-temannya.
Dia berjalan santai di kodidor, mengacuhkan beberapa bisikan dari perempuan yang dicurigai adalah fans nya Dito.
Samar-samar Aurora dapat mendengar berbagai hal tidak mengenakkan dari mulut mereka. Entah menjelek-jelekkan dirinya maupun Dito.
"Eh katanya Dito sama Aurora udah pisah ya?"
"Ish kirain cuma gue yang dengar berita itu. Katanya yang selingkuh Dito bukan sih?"
"Astaga pria mana lagi yang harus gue percaya? Bahkan Dito yang bucin aja bisa selingkuh."
Gosip terus saja terdengar dari telinga ke telinga tapi itu tidak membuat Aurora menghentikan langkahnya.
"Lo beneran udah pisah sama Dito?"
Aurora menghela nafas panjang ketika langkahnya dihadang oleh ketua fans Dito.
"Bukan urusan lo!"
"Katanya diselingkuhin ya? Kasian banget nggak sih gais? Habis lahiran ditendang gitu aja. Apa jangan-jangan lo ketahuan hamil .... Anjir!" Maki Meli ketika sebuah tamparan mendarat di pipinya. Tentu saja Aurora pelakunya.
"Tutup mulut murahan lo itu! Jangan cuma otak dan tubuh aja yang sekolah, tapi mulut juga perlu!" ujar Aurora penuh tekanan dan berlalu, bahkan dengan sengaja menyenggol pundak Meli.
Aurora bisa menerima hinaan apa saja dalam hidupnya, tapi tidak dengan rumor hamil di luar nikah yang tentu akan melibatkan putrinya. Meski tahu apa yang mereka bicarakan benar adanya.
Langkah Aurora berhenti ketika dari arah berlawanan dia melihat Dito dan teman-temannya sedang berjalan beriringan dengan tawa yang menyertai. Memutuskan untuk melupakan masa lalu, Aurora mengembangkan senyumnya menyapa Dito yang jaraknya cukup dekat.
"Pagi semua," sapa Aurora.
Seketika Rayhan, Dito dan Ricky saling tatap karena merasa aneh dengan sikap Aurora yang telihat sangat ceria. Berbeda dengan Keenan yang menanggapinya biasa-biasa saja.
"Pagi juga cantik, tuh bekal buat siapa? Mantan suami lo?" tanya Keenan.
"Makasih," ucap Dito dan berlalu begitu saja bersama teman-temannya. Tidak lupa pria itu tersenyum pada Aurora, membuat hati wanita itu sedikit menjadi tenang.
***
Sulit bagi keduanya untuk saling menghindar satu sama lain sebab mempunyai jurusan yang sama dan tentu berada di kelas yang sama.
Aurora dan Dito selalu punya kesempatan untuk bertegur sapa secara tidak sengaja, terlebih ketika ada tugas kelompok berisi dua orang untuk meneliti tentang keadaan masyarakat di luar sana.
Seperti saat ini, Dito dan Aurora duduk saling bersampingan. Begitupun dengan Keenan dan Ricky yang kebetulan sekelompok.
"Rencananya mau survei di mana?" tanya Aurora memulai.
"Terserah lo aja di mana enaknya, gue ngikut," sahut Dito.
"Pasar? Kayaknya seru deh kalau kita wawancarai beberapa penjual. Mereka kan pebisnis juga."
"Boleh." Dito hanya menganggukkan kepalanya, mencatat hal-hal penting yang disampaikan dosen di depan.
Sebenarnya pria itu merasa aneh dengan sikap Aurora yang tiba-tiba antusias dan sangat ceria, padahal saat berpisah wanita itu terlihat sangat menderita.
"Dito, kita ketemu di mana besok? Boleh nggak ajak Alana ikut serta?" tanya Aurora setelah kelas selesai.
Keduanya berjalan beriringan keluar dari kelas.
"Nggak bisa ya?" tanya Aurora lagi ketika Dito enggang menjawab. Wanita itu berhenti melangkah setelah berhasil menarik tangan Dito.
"Hubungan kita udah berakhir sebagai sepasang suami istri, tapi pertemanan belum kan? Gue boleh jadi teman lo? Kayak dulu sebelum kita kenal terlalu dekat," pinta Aurora.
Dito tampak terdiam, sebelum akhirnya mengangguk dan berlalu begitu saja terlebih ketika Rayhan datang dan langsung merangkul pundak.
"Napa tuh muka kusut banget?" tanya Dito pada Rayhan.
"Giani keknya blokir gue deh. Sekarang nggak bisa dihubungi," curhat Rayhan dengan bibir manyunnya.