
Setelah orang tuanya telah pergi karena urusan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan terlalu lama. Dito akhirnya mendekat pada brangkar, terlebih Aurora telah sadar dari obat bius yang membelenggunya sejak tadi.
Dito tersenyum, jam 10 malam tidak membuat pria itu mengantuk menemani sang istri yang baru terbangun.
"Syukurlah lo nggak papa," ucap Dito mengelus pipi Aurora membuat wanita itu tersenyum canggung.
"Maaf, harusnya gue hati-hati. Harusnya gue pulang selamat dan nepatin janji buat makan malam bersama," lirih Aurora. Rasa bersalah bersarang di kepala wanita yang baru melahirkan tersebut.
Dito mengeleng. "Nggak papa namanya juga musibah nggak ada yang tau. Oh iya, kenapa bisa kecelakaan? Padahal di parkiran?"
"It-itu." Rasa gugup seketika menghampiri Aurora, tidak tahu harus mengatakan apa terlebih Dito terus saja menatapnya. Wanita itu mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya.
"A-Aron ngejar gue,"
"Karena?" Dito mengerutkan keningnya. Selama ini Aron tidak pernah menganggu hidupnya maupun Aurora, itulah yang pria tersebut ketahui.
"Gue tadi bohong kalau mau nemuin teman. Gue nemui Aron karena ...." Aurora mengigit bibir bawahnya ketika genggaman Dito terlepas begitu saja.
Dia menatap suaminya yang seakan berpaling padahal baru saja tersenyum hangat padanya.
"Dito."
"Gue beri lo kepercayaan penuh meski tau selama ini lo bohongin gue, berharap suatu hari nanti ada kejujuran sedikit aja, tapi kayaknya nggak bisa ya?"
Aurora mengerjapkan matanya, tidak mengerti apa yang ditakan Dito. Jika pria itu benar-benar mengetahui kebohongan yang dia tutupi, maka bukan senyuman yang akan dia dapatkan, malainkan sebuah makian. Itulah pikiran Aurora tentang Dito jika sedang marah.
"Dito, gue ...."
"Maaf menganggu waktunya pak, tapi bayi anda sedang kritis dan membutuhkan donor darah yang banyak," ucap Suster yang berlari dari lantai bawah hanya untuk menemui orang tua bayi yang dia awasi.
Lantas Dito bangkit, hendak pergi tapi tanganya dicegal oleh Aurora.
"Lo ngomong putri gue baik-baik aja, To. Tapi apa ini? Gue harus ...."
"Jangan buat gue semakin marah!" tegur Dito dengan tatapan tajamnya ketika Aurora hendak melepas selang infus di tangannya. Wanita itu mengerjap pelan melihat Dito yang berlari keluar dari ruang perawatan meninggalkannya seorang diri.
Aurora mengigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca, sedih mengetahui putrinya sedang kritis, di sisi lain ada rasa haru melihat bagaimana khawatirnya Dito pada putrinya yang bahkan bukan darah daging pria tersebut.
Aurora terus merenungi nasibnya di dalam ruangan perawatan, berbeda dengan Dito yang bergerak dengan gelisah melihat dokter mondar mandir keluar dari ruangan putrinya yang tengah di tangani.
"Putri bapak membutuhkan banyak darah dan stok darah rumah sakit sedang habis," ucap sang dokter.
"Ambil darah saya dokter. Golongan darah saya O, pasti cocok karena saya adalah ayahnya!" desak Dito seakan kehilangan harapan hidup mendengar kondisi putrinya.
Tanpa malu pria itu meneteskan air mata di depan sang dokter.
"Maaf Pak, tapi golongan darah putri bapak adalah A."
"A-A?"
"Benar."
"Nggak mungkin. Dokter pasti salah! Golongan istri saya juga O, otomatis golongan putri kami harusnya O."
"Maaf pak, tapi sebaiknya cari golongan darah A secepatnya jika ingin putri bapak selamat," ucap sang dokter dan meninggalkan Dito yang bergeming di tempatnya.
Sekarang bukan lagi rasa khawatir yang menghampiri Dito, tapi rasa bingung bercampur menjadi satu untuknya.
Memikirkan golongan darah yang berbeda membuat Dito sangat terpukul. Pria itu meremas rambutnya kuat-kuat, bibirnya bergetar. Duduk sambil bersandar pada tembok.
"Nggak, dia putriku. Gue yang rawat dari dalam kandungan," lirih Dito.
"Dito!"
Dito mendongak, menatap Keenan yang lagi-lagi datang di saat pria itu sedang terpuruk. Keenan ikut duduk di samping Dito.
"Kenapa?"
"Putri gue butuh donor darah A, tapi golongan darah gue dan Rora O, Keen."
Deg, jantung Keenan berdetak tidak keruan, bahkan tanpa diselidikipun semua orang bisa menebak bahwa bayi yang sedang sekarat di dalam sana bukanlah darah daging Dito.
"Tenang aja, darah gue A kok." Berusaha tersenyum untuk menenangkan sahabatnya. Keenan menemui dokter untuk mengajukan permohonan donor darah, sementara Dito masih saja bersandar di dinding.