
"Dito?"
"Gue tahu gimana sakitnya lo harus pisah sama Alana. Tapi lo cuma punya dua pilihan. Berpisah dengan damai tanpa membawa Alana, atau semua kebohongan yang lo tutupi diketahui semua orang. Mamah, Mommy, Daddy dan papah benci sama lo dan Alana karena menipu semua orang," bujuk Dito dengan lembut.
Pria itu lelah mengusir Aurora dengan cara kasar dan keras hingga akhirnya memilih berdamai sebab apapun yang terjadi tidak dapat bersama lagi. Talak tiga telah jatuh, bahkan surat cerai ada di depan mata.
"Rora?"
Aurora terdiam, hanya air mata yang terus mengalir di manik indahnya yang telah sembab. Memikirkan opsi mana yang harus dia pilih agar kehidupannya berlangsung dengan baik.
Pilihan pertama meninggalkan putrinya, atau pilihan kedua, dimana seumur hidupnya Alana akan menjadi bahan bulian teman-temannya sebab menjadi anak di luar nikah.
"Dito?"
"Hm."
"Kalau gue pilih opsi pertama apa suatu hari nanti gue bisa nemuin Alana? Lo nggak bakal nyingkirin gue dalam hidupnya kan? Jujur gue nggak sanggup ninggalin dia, tapi gue juga nggak mau hidupnya menderita."
Nafas Aurora tersengal-sengal. "Lo bakal jaga putri gue baik-baik?"
Dito mengangguk. "Lo boleh ketemu sama Alana tanpa identitas seorang Mommy. Lo bisa ngaku sebagai ibunya setelah dia mengerti baik buruknya tentang hidup."
"Jangan nangis lagi! Kemasi barang-barang lo. Gue bakal nganter lo ke rumah orang tua lo seperti gue ngambil lo baik-baik dari sana."
Meski merasa berat, Aurora tetap menganggukkan kepalanya. Mungkin ini adalah pilihan terbaik yang dia tetapkan tanpa menyakiti siapapun. Biarkan kali ini dia tidak egois memikirkan diri sendiri.
Dia mengikut langkah Dito keluar dari kamar, menarik kopernya. Sesekali memperhatikan rumah yang penuh akan kenangan keduanya. Entah bercanda hingga tertawa terpingkal-pingkal di depan Tv, sarapan dan makan malam bersama penuh kehangatan.
Sementara Aurora lantas masuk ke mobil. Mengecup pipi putrinya dengan berlinangan air mata. Mungkin jika tidak memikirkan nasib Alana kedepannya, Aurora akan membawa putrinya kabur saat ini.
Bibir tersenyum dengan air mata terus mengalir, itulah yang terjadi ketika Alana tanpa sengaja mengecup pipi Aurora.
"Maafin mommy karena ninggalin kamu ya Nak? Mommy yakin daddy pasti rawat kamu jauh lebih baik dari siapapun," bisik Aurora.
Alana tertawa lucu, bukan karena ucapan Aurora, malainkan melihat daddynya yang datang membawa botol susu beserta boneka yang sering kali balita itu peluk jika sedang tertidur.
"Cantik banget sih putri daddy kalau senyum," puji Dito mengelus pipi Alana setelah berada di dalam mobil, sementara Aurora hanya terdiam. Seakan tumpuan hidupnya sekarang telah hilang.
Bukan hanya suami yang pergi, tetapi Aurora juga harus kehilangan putrinya sebab kesalahan yang telah dia perbuat sendiri. Ternyata Aurora salah jika mengira Aron lebih berbahaya dari Dito. Yang sebenarnya adalah sebaliknya.
Dito jauh lebih berhaya jika sedang marah dan membenci seseorang. Dengan kata-kata lembuatnya pria itu bisa melukai hati siapa saja. Mengancam hal-hal yang tidak pernah Aurora bayangkan sebelumnya.
"Gu-gue mau ketemu mamah dulu sebelum pulang, apa boleh?" tanya Aurora sedikit gugup. Memperbaiki posisi Alana yang sangat aktif dalam pangkuannya.
Dito mengangguk tanpa menoleh, membanting setir kemudi untuk putar arah kerumah orang tuanya. Entah apa yang diinginkan Aurora ingin bertemu orang tuanya, apapun itu dia tidak peduli.
Dito memarkirkan mobilnya dengan aman setelah sampai di rumah, bernafas lega ketika melihat mobil kedua orang tuanya, pertanda semua orang ada di rumah.
Belum juga membuka pintu, Aurora telah lebih dulu turun sambil mengendong Alana. Samar-samar Dito melihat senyuman di bibir Aurora padahal di mobil terus saja menangis tanpa henti.
"Maaf," gumam Dito.