Love Scandal

Love Scandal
Part 27 ~ Love Scandal



Sejak terjadinya penyerangan Avegas terhadap geng Aron. Dito sering kali pulang dalam keadaan babak belur sebab selalu di hadang jika pergi sendirian.


Hal itu membuat Aurora kian resah dan takut akan tingkah Aron yang berada di luar nalar.


Namun, sisi baiknya. Aurora tidak pernah lagi mendapatkan teror apapun. Mungkin karena Aron melampiskan semua kemarahannya pada Dito.


"Lagi?" tanya Aurora menyambut Dito di ambang pintu.


Pria itu menyengir seakan tidak merasakan sakit, padahal sudut bibirnya mengeluarkan darah, batang hidungnya terluka.


"Nggak usah dipikirin Rora. Yang penting sekarang mental lo aman." Mengacak-acak rambut Aurora sebelum berjalan menuju kamar.


Aurora mengepalkan tangannya dengan mata terpejam. Sudah cukup, wanita itu tidak bisa menahan rasa bersalahnya lebih lama lagi. Dia mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengatakan sesuatu.


"Dito?" panggil Aurora pada Dito yang sudah di tengah-tengah tangga. Lantas pria itu membalik tubuhnya.


"Kenapa?"


"Gue mau jujur tentang sesuatu sama lo. Sebenarnya selama ini gue ...."


"Anjir, sakit bego!"


Atensi Aurora dan Dito teralihkan pada dua orang yang tersungkur ke lantai. Dito mendelik, menghampiri Rahyan dan Ricky. Berbeda dengan Aurora yang mematung sebab gagal mengatakan yang sebenarnya padahal sudah mengumpulkan keberanian sejak lama.


"Lo ngapain di rumah gue? Ngintip?"


"Bukan gitu To, kita cuma mau numpang ngumpet aja kok. Gue sama Ray lagi dikejar-kejar sama cewek gila." Cengir Ricky mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dito menghela nafas panjang, meski begitu mempersilahkan sahabatnya masuk. Jika menyangkut perempuan, memang Ricky dan Rayhanlah biangnya.


Sebenarnya Dito kasian dengan pacar Ricky dan Rayhan, sebab kedua pria itu seakan tidak menjaga perasaan pacar mereka. Keluar masuk hotel hanya untuk memuaskan diri dengan alasan tidak ingin merusak pacar masing-masing.


"Mau minum apa?" tanya Aurora ikut duduk di samping Dito setelah mengatur ritme jantungnya. Sekarang keberanian wanita itu telah menguap dan entah akan kembali kapan.


"Nggak usah," sahut Rayhan.


"Nggak usah lama-lama maksudnya." Cengir Ricky yang suka gratisan.


"Susu aja ya, gue cuma bisa buat itu."


"Air putih aja Rora," celetuk Dito.


"Pelit amat njir!"


"Terserah gue lah."


Karena udara lumayan dingin, Aurora menuangkan susu tanpa mencampurnya dengan apapun. Membawa ke ruang tamu untuk dihidangkan.


Langkah Aurora memelan, melihat gadis yang pernah dia lihat bersama Dito di restoran bersama teman-temannya. Dia mengerjap perlahan ketika gadis itu melayangkan tamparan pada Rayhan di depan Dito dan Ricky.


"Kita putus!" ucap Giani dan berlalu pergi dengan air mata berderai.


"Gia! Kenapa tiba-tiba sih? Gue-gue nggak serius sama mereka. Gue cuma cinta sama lo."


"Gue kira lo itu beda dan udah berubah Ray, ternyata sama aja kayak papah."


"Gi."


Giani menyentak tangan Rayhan kasar. Gadis itu baru tahu kalau Rayhan tidak pernah berubah sejak sekolah dulu, bahkan lebih parah mengencani wanita mana saja.


Giani pikir Rayhan adalah rumah yang tepat untuknya pulang ketika mamah dan papahnya memilih berpisah dan bahagia dengan dunia masing-masing. Nyatanya Rayhan hanya datang menaburkan garam pada luka yang hampir mengering.


Pacar-pacar Rayhan menghubungi Giani sebab pria itu terus saja bersembunyi seperti sekarang ini.


Ketika Giani dan Rayhan menghilang di balik pintu, barulah Aurora melangkah untuk mendekati Dito.


"Lo nggak mau pergi? Nunggu cewek lo datang juga kerumah gue?" tanya Dito pada Ricky dan hanya di balas cengiran.


Pria itu berdiri, mengambil gelas berisi susu di nampang yang dibawa oleh Aurora. Meneguknya hingga habis.


"Makasih," ucapnya dan menyusul Rayhan dan Giani yang entah hubungannya seperti apa sekarang.


"Kenapa mereka bertengkar?" tanya Aurora.


"Nggak tau mau jelasin gimana, Ra. Tapi intinya sih selingkuh mungkin."


"Kayak gue sama lo?"


"Lah kok kita?" tanya Dito dengan alis bertaut.


"Misalnya suatu hari nanti lo suka sama cewek terus pacaran karena kita ...."


"Nggak bakal. Gue cuma sama lo! Kalaupun gue harus jatuh cinta ya sama istri sendirilah."


"Jadi gue boleh suka sama lo?" tanya Aurora dan dijawab anggukan oleh Dito.


"Makasih Dito udah buat gue bahagia selama ini."