
Berpisah di ambang pintu, itulah yang terjadi antara Dito dan Aurora agar bisa mencapai tujuan masing-masing tanpa adanya curiga satu sama lain.
Aurora menarik nafas panjang ketika berhasil meninggalkan rumah tanpa membuat kesalahan apapun, wanita itu melajukan mobilnya menuju restoran yang telah Aron pesan.
Jantungnya berdetak tidak karuan, perasaannya tidak enak sejak memasuki restoran, mengikuti salah satu pelayan yang membawanya ke sebuah ruangan VIP yang sangat tertutup.
Dia berusaha tersenyum melihat Aron yang menatapnya setelah membuka pintu, berjalan mendekat lalu duduk berhadapan dengan mantan pacarnya.
Tatapan Aurora tertuju pada botol wine yang telah kosong, pertanda Aron telah lama di ruangan tersebut.
"Hari ini gue nggak bisa lama, Aron. Gue ada janji sama Dito," lirih Aurora merasakan aura mencekam. Tatapan Aron sangat mematikan, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Aurora mengerjap pelan melihat Aron bangkit lalu menghampirinya. Menarik kursi kemudian menunduk sehingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Gue udah nunggu satu jam, lo kemana aja hm? Nge ******* sama Dito?" tanya Aron.
Aurora menelan salivanya kasar. "Plis, kita udah janji setiap ketemu cuma makan dan saling bicara aja layaknya teman Aron. Bukan kayak gini," lirihnya berusaha mendorong tubuh Aron agar menjauh darinya.
Beberapa kali bertemu Aron tidak banyak bertingkah, bahkan bersikap layaknya teman, tapi kali ini sangat berbeda.
"Tapi gue mau lebih sekarang, Baby," bisik Aron memainkan rambut sedikit bergelombang Aurora.
Wanita itu menalan salivanya kasar. Dia kira Aron telah berubah, ternyata tidak. Selalu bersikap layaknya binatang jika sedang mabuk.
"G-gue harus pergi sebelum jadi pelampiasan," batin Aurora melirik kiri-kanan untuk mencari celah.
Awal di mana kegadisannya direngut karena Aron mabuk dan memaksanya untuk melakukan hal-hal yang di luar nalar. Setelah itu Aurora tidak bisa menolak setiap keinginan Aron sebab diancam videonya akan tersebar ke sosial media.
"Sayang, lo cantik banget." Aron menatap sayu Aurora. Menyapukan jarinya di rahang yang terasa lembut itu. Semakin mendekat dan mengecium rahang Aurora, membuat tubuh pemiliknya bergetar hebat.
"Stop, Aron!" pinta Aurora.
"Nggak Sayang, lo terlalu candu buat ...."
"Aaaakkkkhhhhh!" Aron mengerang kesakitan ketika botol wine mengenai kepalanya. Mata pria itu berkunang-kunang seiring darah mengalir membasahi dahinya.
Hal itu Aurora pergunakan untuk meloloskan diri. Menjauhi Aron.
"Mau kemana, hm?" Menarik tangan Aurora lalu memepetkannya pada dinding, pria itu bebas melakukan apapun di dalam ruangan kedap suara juga tidak ada pelayan yang memperhatikan. CCTV? Bukan Aron namanya jika tidak bisa menghindari CCTV dengan mudah.
"Lepas Aron, lo tuh bukan manusia tapi binatang!" teriak Aurora. Refleks wanita itu menendang masa depan Aron lalu berlari sejauh mungkin dengan perutnya yang membuncit.
Berusaha membuka pintu sambil sesekali menoleh ke belakang. Rambut acak-acakan dan darah ditangan membuat Aurora menjadi pusat perhatian di dalam restoran setelah berhasil melarikan diri dari ruangan jahan*nam tersebut.
Berlari sekuat yang dia bisa tanpa memperhatikan jalan.
"Siapapun tolong saya, dia berusaha un-untuk Aaaaaakkkkkk!"
Brak
Tubuh Aurora terpental ke kap mobil yang sedang terpakir sebelum jatuh membentur ban mobil dan terjatuh ke tanah. Motor yang melaju tidak terlalu kencang menabraknya karena berlari secara tiba-tiba.
Darah bercucuran keluar dari pangkal paha wanita tersebut. Rambut yang menutupi kepala berhasil dibasahi oleh darah.
Pengujung mulai berkerumun tanpa ada yang membantu sebab takut terjadi hal yang tidak diingkan. Mengangkat secara acak membahayakan korban, apalagi jika yang bermasalah adalah bagian saraf. Bergerak sedikit maka akibatnya akan fatal.
"Panggil ambulance sialan!" teriak Aron hendak mendekat tapi ditahan oleh petugas keamanan, menunggu pihak rumah sakit datang.
Aurora yang setengah sadar sempat membuka matanya. Merasakan sakit yang teramat pada bagian perut dan pinggang. Tatapan mengabur wanita itu tertuju pada Aron yang menggila ingin mendekat.
Padangan mereka bertemu, Aurora mengerakkan bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun rasa sakit lebih mendominasi sehingga dia tidak sadarkan diri berbarengan dengan datangnya ambulance.
Samar-samar Aurora dapat mendengar suara seseorang yang terus memanggil namanya, tapi sulit rasanya untuk membuka mata.