Love Scandal

Love Scandal
Part 53 ~ Love Scandal



Dito, pria itu meninju dinding kamar mandinya karena rasa marah yang bersarang di hati secara tiba-tiba. Tadi pria itu mengikuti Aurora dan Alana agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan tapi yang dia tamui malah Aron.


Pria yang menyebabkan penderitaan Aurora dan dirinya hingga berakhir berpisah seperti ini. Rasa kesal muncul di permukaan ketika melihat Aron berusaha untuk mendekati mantan istrinya.


Bukan cemburu, hanya saja kesal. Ah sudahlah Dito tidak tahu apa yang diinginkan hatinya saat ini. Rasa sakit itu masih bersemayang terlalu dalam di hati Dito.


Memilih untuk cerai hingga tidak bisa kembali lagi juga adalah keputusan Dito. Takut jika hatinya bimbang dan ingin kembali, itulah memilih talak tiga untuk perpisahan mereka agar tidak ada alasan untuk bisa bersama.


"Harusnya gue nggak gini! Harusnya gue nggak jadi pria brengsek dan pengecut!" bentak Dito hingga suaranya menggema di kamar mandi.


Pria itu keluar setelah menenangkan dirinya, menatap Alana yang terlelap setelah minum susu. Bayi itu bukan darah dagingnya tapi hati Dito seakan remuk jika memikirkan suatu hari nanti Aron akan mengambil Alana darinya.


"Jangan tinggalin daddy ya sayang? Kamu pengganti mommy untuk saat ini," lirih Dito mengelus pipi Alana yang mengembung.


Hatinya perlahan luluh setelah percerain terjadi, hanya saja Aron memicu emosinya kembali.


"Gue bakal balas penderitaan Aurora, Aron! Lo bakal ngerasain gimana menderitanya dia sampai berpikir untuk menjebak gue!" tangan Dito terkepal.


Pria itu meninggalkan kamar, tidak lupa menitipkan putrinya pada sang mamah. Ya Dito kembali tinggal di rumah mamahnya atas permintaan wanita paruh baya itu. Katanya agar Alana tidak terlalu kehilangan kasih sayang nantinya.


Laju motor yang berada di atas kecepatan rata-rata tentu membuat beberapa pengendara mengumpat, tapi Dito tidak peduli. Dia tetap melajukan motornya hingga sampai di sebuah tempat balapan liar. Dia senyum sinis melihat Aron bersama teman-temannya sedang menghisap benda bernikotin.


"Wih ada yang datang nganter nyawa nih bos!" celetuk anak buah Aron.


Dito senyum sinis, berjalan cepat mendekati Aron lalu menberikan sebuah pukulan tepat di batang hidung pria itu hingga mengeluarkan darah. Bisa jadi batang hidung Aron telah patah.


"Anjir, berani-beraninya lo mukul ...."


"Lo maju dia mati ditangan gue." Dito mengerahkan pistol tepat di kepala Aron yang kini tidak berdaya sebab mendapatkan serangan tiba-tiba.


Lantas anggota Aron mundur perlahan-lahan membiarkan ketuanya dipukuli. Anggota Aron sama pengecutnya dengan ketuanya, tidak seperti Avegas yang relah kehilangan nyawa demi sebuah keadilan anggota mereka.


Aron berdecih, susah payah berdiri meski kepalanya sudah pening sebab rasa sakit di hidung.


"Lo kira gue takut hah?" tanya Aron dengan nafas tersengal.


"Berhenti ganggu Rora dan minta maaf padanya!"


"Bukan urusan lo, Rora milik ...."


Mulut Aron kembali mengeluarkan darah karena tendangan diperut. Dito benar-benar ingin membunuh pria itu saat ini.


"Gimana rasanya hm?" Menginjak perut Aron. Seakan memperagakan cerita yang pernah Aurora jabarkan padanya.


"D-Dito!" Menepuk-nepuk kaki Dito agar berpindah tempat.


"Sekali lagi gue liat lo ada di dekat Rora, lo nggak bakal selamat!" Ancam Dito melepaskan injakannya. Namun, malah melayangkan tendangan tepat di kepala pria itu.


Aron mengumpat dalam hatinya, pandangannya memburam melihat Dito berjalan menjauh. Dengan sisa tenaga yang ada, Aron mengeluarkan belatih di sakunya lalu berlari ke arah Dito.


Srak.


Hanya dalam sekali tusukan, belatih tersebut ternodai oleh darah segar, seiring suara rintihan terdengar.


"Ban*gsat!" Dito memegangi lengganya yang terus mengeluarkan darah segar. Jaket pria itu robek.


Utung saja Dito sempat berbalik, atau bukan lengan yang akan tertusuk tetapi perut bagian kanan.


Tepat saat membuka pintu, anggota Aron telah berdiri dengan masing-masing senjata di tangannya. Balok dan helm lebih mendominasi sebagai senjata.


Mau tidak mau Dito melawamnya meski tangannya terasa sakit.