Love Scandal

Love Scandal
Part 23 ~ Love Scandal



"Jangan nangis lagi, nggak ada yang berani nyakitin istrinya Dito," ucap Dito terus mengelus pipi Aurora yang tengah berbaring di ranjang.


Pria itu tidak tega melihat bekas cekikan juga mata Aurora yang memancarkan ketakutan.


"Tidur gih, gue udah ngunci pintu balkon. Kalau lo masih takut gue bakal tidur di sofa." Menunjuk sofa yang tidak jauh dari ranjang.


Aurora masih saja diam, memeluk lengan Dito seakan tidak membiarkan pria itu pergi dari kamarnya. Aurora takut kalau saja Aron tiba-tiba muncul tanpa diduga dan menghancurkan semuanya.


"Lepasin dulu Rora, gue mau ambil laptop. Bentar aja kok." Dito tersenyum menenangkan. Keluar kamar setelah Aurora melepaskan pelukan.


Dito mengambil laptopnya di atas meja dan kembali ke kamar istrinya. Duduk di sofa, membuka rekaman CCTV yang tersambung langsung di rumahnya.


Kening pria itu mengkerut ketika tidak menemukan siapapun di dalam CCTV. Mau di depan rumah maupun di depan pagar. Sepertinya Aron terlalu lihai menghindari CCTV, mungkin karena Aron adalah putra dari mafia yang sangat berbahaya sehingga tahu taktik persembunyian.


"Nggak ada yang aneh," gumam Dito.


Aurora yang melihatnya segera mendekat, duduk di samping Dito dan ikut memperhatikan CCTV. Sebenarnya ada rasa lega di hati Aurora karena Dito tidak dapat menemukan jejak Aron.


"Kenapa lo bisa ada di luar pagar tadi?" tanya Dito tanpa mengalihkan tatapannya pada layar, mencoba mencari celah.


"Soalnya gue penasaran sama yang pencet bel jadinya nyariin sampai luar." Lagi, Aurora melakukan kebohongan untuk menutupi fakta yang ada.


"Lain kali kalau nggak ada orang langsung tutup pintu aja. Gue banyak musuh soalnya. Jangankan lo, Salsa aja sekarang belum tentu aman."


Aurora mengerjap pelan, perasaanya mulai terganggu mendengar nama Salsa keluar dari mulut Dito.


"Dia penting banget ya buat lo?"


"Bukan cuma gue, tapi anggota Avegas lainnya. Ketua gue ninggalin dia beberapa minggu setelah menikah demi lindungin Avegas. Gue dan Avegas punya tanggung jawab besar buat jaga dia."


Dito menutup laptopnya dan menatap Aurora. "Lo mau tau salah satu alasan gue mau tanggung jawab?"


Aurora mengangguk antusias.


Dito meraih tangan Aurora. "Kalau gue perhatian sama Salsa jangan kesal apalagi sakit hati ya."


"Ma-maksudnya?" Aurora mengerjap pelan, sedikit salah tingkah karena Dito seakan bisa membaca isi pikirannya.


"Meski belum saling cinta, pastinya ada rasa sakit kalau liat pasangan kita lebih perhatian sama orang lain, termasuk gue ataupun lo."


"Ng-nggak kok, gue biasa aja. Gue tidur duluan ya." Hendak beranjak tapi dicegah oleh Dito. "Sini gue pijitin bentar, kata bibi lo cape banget habis beres-beres rumah sampai ketiduran."


"Nggak usah deh, lo juga pasti cape habis kerja sama papah. Selama tidur Dito." Aurora lantas membungkus tubuhnya dengan selimut, tidur memunggungi Dito.


Lagi dan lagi Aurora merasakan canggung mendapat perhatian dari suaminya. Terlebih Aron datang tanpa diundang malam ini. Dia memejamkan matanya meski belum mengantuk.


"Gue masih mau dimanja, gue mau ngerasain cinta. Ya Tuhan, tolong jangan ambil bahagiaku sangat cepat. Gue tau punya salah besar, tapi apa gue nggak bisa hidup bahagia?" batin Aurora.


Tidak terasa air mata terus saja berjatuhan di pelupuk indah Aurora. Membasahi bantal dan surai yang dia miliki.


Isakan mulai keluar dari bibirnya hingga terdengar di telinga Dito yang hendak membaringkan tubuhnya di sofa.


"Lo nangis?"


"Nggak."


"Terus isakan siapa tadi? Nggak mungkin kunti kan?"


"Gue lagi flu Dito, udah deh jangan ngajak ribut."


"Iya deh." Memperbaiki posisi tidurnya dan memejamkan mata, terlebih jarum jam sudah menunjukkan angka 11 malam. Hari ini Dito sangat lelah, hingga bermain game saja rasanya tidak mampu.


"Tidur yang nyenyak, jangan main hp!" ucap Dito untuk terakhir kalinya.