Love Scandal

Love Scandal
Part 30 ~ Love Scandal



Satu minggu setelah pertemuan antara Aurora dan Aron, selama itu pula Aurora tidak lagi mendapati Dito pulang dalam keadaan terluka.


Sayangnya, selama itu pula Dito tampak lebih cuek dari sebelumnya. Padahal mereka sudah berjanji akan berusaha untuk saling mencintai. Aurora diam-diam menatap Dito yang sedang bermain game di depan kamar.


Dia bernisiatif membuatkan kopi lalu meletakkan di samping Dito.


"Minum dulu, dari tadi main game mulu," ucap Aurora.


Dito hanya melirik sekilas dan kembali bermain, membuat suasana tampak canggung. Aurora hendak pergi, tapi tiba-tiba Dito berbaring di paha wanita itu, membuat pemilik paha tentu saja terkejut.


"Lelah banget dah," guman Dito.


Sulit dipungkiri, senyuman Aurora mengembang sangat lebar. Bahagia melihat Dito berbaring di pangkuannya. Berharap interaksi seperti dulu kembali terjalin.


"Gue ada salah selama seminggu terakhir?" tanya Aurora mengelus rambut Dito.


"Nggak."


"Terus kenapa nyuekin gue? Gue bela-belain selalu masak tapi nggak pernah dimakan."


"Nggak mood ngapa-ngapain, Rora." Menghela nafas panjang. Dito sama sekali tidak marah pada Aurora karena tahu wanita itu butuh waktu bersama teman-temannya.


Dito menjadi pendiam dan cuek sebab mengalami masalah dalam persahabatannya yang tidak lagi kompak seperti saat sekolah dulu. Kini mereka benar-benar terpecah karena berpencar demi masa depan masing-masing.


Puncak dari kegalaun Dito ketika rumah keduanya di resmikan telah istirahat oleh wakil Avegas-Keenan.


Karena kesibukan masing-masing yang tidak memungkin untuk terus bersama, Keenan memilih mengistirahatkan Avegas dari kegiatan apapun. Karena Avegas, masih menjadi incaran geng motor mana saja jika tetap berdiri, dimana membahayakan para anggota, jika annggota intinya sibuk.


Anggota Avegas dilarang memakai jaket kebanggan lagi selama waktu yang telah ditentukan oleh Keenan, bukan bermaksud menghancurkan, melainkan melindungi rumah yang bentengnya telah patah sejak kepergian sang ketua.


"Ada masalah?" tanya Aurora, memainkan tangan letiknya di hidung mancung Dito. Pria itu tidak protes sama sekali, bahkan terkesan menikmatinya.


"Ada tapi nggak serius, sekarang jauh lebih baik." Dito merubah posisi tidurnya menghadap perut Aurora yang membuncit meski samar-samar.


"Dedeknya belum bisa gerak, Ra?"


"Belum, kata dokter dedeknya bisa gerak kalau udah umur 16 minggu keatas," cengir Aurora


"Berarti kurang 8 minggu lagi ya, Ra? Kan babynya jalan 9 minggu."


"Iy-iya."


"Nggak sabar nunggu deh. Nanti kalau bayinya dah gerak gue tidur di kamar lo ya?"


"Hah?" Aurora terganga, wanita itu terkejut akan permintaan Dito yang tiba-tiba ingin tidur di kamarnya.


"Santai aja kali mulutnya." Menyentil bibir Aurora sambil terkekeh. "Cuma meluk perut kok, nggak aneh-aneh." Cengirnya tanpa dosa. Namun, berhasil menciptakan rona merah di pipi Aurora.


Wanita itu memalingkan wajahnya, untung saja Dito fokus membuat bulatan-bulatan kecil di perut yang terhalang kain, atau Aurora benar-benar akan malu.


Keheningan sempat terjadi di antara mereka, hanya suara Tv yang terdengar di dalam ruangan tersebut. Hingga akhirnya Dito bangun dari pangkuan Aurora setelah jarum jam menunjukkan angka 9 malam.


"Tidur gih!"


Aurora mengeleng. "Masih mau duduk di sini sama lo. Gue lapar."


"Mau makan apa?"


"Makan di luar boleh nggak?"


"Boleh banget." Dito langsung beranjak untuk mengambil kunci mobil di atas meja, tapi terhenti mendengar ucapan Aurora.


"Pakai motor aja, gue butuh angin malam."


"Serius?" tanya Dito dan dijawab anggukan oleh Aurora.


Akhirnya Dito mengajak Aurora makan malam di luar menggunakan motor, meski begitu tidak lupa menyuruh istrinya memakai jaket tebal agar tidak masuk angin.


Sepanjang jalan ada saja pembahasan lucu yang terjadi di antara mereka, hingga di mana laju motor harus berhenti ketika lampu merah menyambangi. Dito melirik Aurora dari spion motornya.


"Kenapa?" tanyanya ketika melihat Aurora mengerutkan kening.


"Nggak papa, fokus ke depan aja!"


Sebenarnya sejak tadi Aurora ingin memeluk pinggang Dito, tapi ragu dan takut ditegur oleh pemiliknya. Itulah mengapa sesekali keningnya mengerut.