Love Scandal

Love Scandal
Part 41 ~ Love Scandal



Setelah kepergian para orang tua di rumahnya, Dito lantas meninggalkan Aurora seorang diri tanpa mengucapkan kalimat apapun. Membawa putrinya ke kamarnya karena telah terlelap dalam gendongan.


Inilah yang Dito katakan pada Keenan. Bersikap egois dengan mengambil putri Aurora dan Aron untuk kebahagiaannya sendiri tanpa ingin tahu rasa sakitnya seorang ibu yang dipisahkan oleh anaknya.


Dito keluar dari kamar ketika ketukan pintu terus terdengar berulang kali, pria itu takut putrinya terbangun.


"Jangan ribut, putri gue tidur!" bentak Dito meski tidak terbiasa membentak perempuan sebelumnya.


"Gu-gue pengen meluk putri gue Dito. Gue pengen ...."


"Pergi!"


"Dito?" Aurora menatap Dito, sementara yang ditatap malah menghindar, tidak ingin membalas tatapan istrinya meski sebentar saja.


"Kenapa sikap lo tiba-tiba berubah? Gue kangen sama tingkah lucu lo. Kangen setiap perhatian yang lo berikan ke gue. Sekarang gue butuh perhatian, gue baru aja melahirkan, luka jahitan gue belum kering." Air mata terus saja berjatuhan dipeluk mata Aurora, semakin terisak saat tangannya di hempaskan begitu saja.


"Lo sengaja jebak gue kan? Lo tau sejak awal udah hamil anak Aron!" bentak Dito berapi-rapi, sejak tadi pria itu hanya menahan amarah dalam dirinya.


Aurora tersentak, terlebih ketika tubuhnya ditarik dengan kasar memasuki kamarnya.


"Kenapa lo lakuin semua ini ke gue Rora? Lo kira gue nggak punya hati hm?"


"D-Dito." Aurora terisak, tulang-tulangnya seakan melemah. Tatapan cinta dan teduh yang pernah dia dapatkan dari manik tajam Dito kini tergantikan oleh tatapan kebencian.


Wanita itu terisak, nafasnya tersengal-sengal. Berusaha meraih tangan Dito namun pria itu mundur beberapa langkah.


"Ma-maafin gue Dito. Sejak kapan lo tau ka-kalau ...."


Dito tertawa hambar, dadanya ikut bergemuruh. Terlebih kini rasa cintanya mulai bersemi pada wanita di hadapannya.


"Lo masih bisa bertanya kapan? Pernah nggak sih lo mikir kalau yang lo lakuin itu kejatahan besar! Lo gunain gue buat nutup aib yang lo ciptakan sama musuh gue, Rora!"


"Dito, maafin gue."


Aurora mengangguk tanpa ada beban.


"Gampang, pergi dari hidup gue dan putri gue!"


"Nggak, gue nggak mau pergi dari hidup kalian, terutama putriku!" tolak Aurora.


"Aurora!" bentak Dito.


"Kenapa? Kenapa gue harus pergi dan nyerahin putri gue ke, Lo? Mungkin gue bukan istri yang baik buat lo, tapi gue masih punya hati buat nggak nyerahin ...."


Plak


Telinga Aurora berdeging, pipinya terasa kebas. Pandangan yang semula mengabut berubah menjadi hitam setelah tamparan kesar mengenai pipinya.


Tubuh wanita itu terhuyung tapi tidak kunjung kehilangan kesadaran. Aurora mengerjapkan matanya perlahan sehingga penglihatannya kembali seperti semula.


Untuk pertama kalinya, dia merasakan tamparan dari tangan yang selalu melindunginya dari marabahaya.


"Pergi dari hidup gue dan putri gue, dan hidup sesuka lo diluar sana bersama mantan yang masih jadi selingkuhan lo sampai sekarang!" ujar Dito lalu meninggalkan kamar istrinya.


Pria itu masuk ke kamar mandi dan meninjuk dinding hingga tulang-tulang di kepalan tangannya berhasil merobek kulit yang melindungi keluarnya darah segar.


"Sial, karena emosi gue nggak bisa ngendalaliin diri." Dito menatap tangannya yang berdarah, tangan yang baru saja memukul seorang perempuan padahal sejak dulu dia sangat membenci seorang pria yang menyakiti perempuan.


"Berengsek, lo brengsek Dito! Lo nggak beda jauh sama pria di luar sana!" Menepuk dadanya berulang kali hanya untuk meredakan rasa nyari. Namun, bukannya mereda, rasa sakit itu malah semakin menjadi.


Dito terus menyiksa dirinya di dalam kamar mandi, begitupun dengan Aurora yang telah menyesali semua perbuatan yang telah dia lakukan.


Bahagianya hanya berlangsung sementara, rasa takut yang selalu menghantui setiap harinya akhirnya terjadi. Tatapan kebencian, perlakuan kasar, hidup yang hampa. Semuanya telah Aurora dapatkan karena kesahalan yang pernah dia lakukan dengan Aron tanpa tahu resikonya.


Dari masalah yang dia alami, Rora jadi mengerti satu hal tentang perjalanan hidup. Berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu, sebab apa yang kau tabur akan kau tuai suatu hari nanti.