Love Scandal

Love Scandal
Part 82 ~ Love Scandal



Terus bersama dan selalu perhatian pada seorang perempuan tentu lama-lama akan menjadi nyaman berada di dekatnya.


Mungkin itulah yang sedang Adam rasakan saat ini. Sejak mengenal Aurora, dunia pria itu hanya seputar Aurora saja. Rasa nyaman menjalari hati Adam setiap kali melihat senyuman indah Aurora seperti saat ini.


Sejak tadi tatapan Adam tidak teralihkan pada Aurora yang tersenyum lebar sambil memandangi ponselnya. Keduanya sedang duduk di sekitar sungai Han untuk menenangkan diri setelah sibuk seharian dikampus


Sungai Han memiliki keindahan tersendiri di Korea Selatan, lebih tepatnya kota Seoul. Sungai Han adalah tempat paling nyaman dan menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan, meski kawasannya terbilang sibuk.


Sisi gelap yang sering kali di dapati pada sungai Han adalah menjadi tempat beberapa orang bunuh diri setelah lelah dengan hidupnya. Namun, itu semua tidak mengurangi keindahan sungai yang di kelilingi beberapa taman.


Angin yang berhembus membuat rambut Aurora yang semula tenang kini meliuk-liuk dan semakin menambah kecantikan wanita tersebut.


Tanpa sadar Adam merapikan rambut itu dengan penuh senyuman.


"Bahagia banget sampai rambutnya diterpa angin aja masih senyum," celetuk Adam berhasil mengambil atensi Aurora.


Wanita itu menatap Adam masih dengan senyum lebarnya. Aurora baru saja mendapatkan pesan dari Dito. Mendengar putrinya baik-baik saja dan hak asuh tidak akan diganggu gugat oleh Aron, sungguh membuat hati Aurora tenang.


"Dito berhasil ngambil hak asuh Alana meski nggak resmi." Memperlihatkan foto yang dikirimkan Dito tanpa ada rasa canggung.


Toh Adam telah mengetahui semuanya dari A sampai Z. Yang membuat Aurora terharu, Adam sama sekali tidak menghakimi meski ada kata-kata tidak sedap yang keluar dari mulut rombeng pria itu.


Misalnya seperti ....


Lo sih jadi cewek gampangan banget, cuma gara-gara cinta rela ngelakuin apa aja.


Tapi di balik kalimat-kalimat pedas Adam ada beberapa yang menenangkan hati Aurora.


Masa lalu yang suram bukan berarti masa depan juga harus suram Rora. Masa lalu biarkan berlalu dan jadikan pelajaran! Tata masa depan tanpa terbelenggu masa lalu adalah pembuktian paling hebat.


Bisa dikatakan Aurora sangat beruntung bisa mengenal Adam yang apa adanya dan selalu jujur tanpa ada jaim-jaim layaknya pria yang ingin dipuji.


Aurora tersentak ketika Adam tiba-tiba menepuk kepalanya beberapa kali.


"Cantik kalau senyum, sering-sering oke?"


Aurora mengangguk sebagai jawaban.


***


Di tempat lain, yakni di rumah Dito. Pria itu duduk memangku putrinya di balkon kamar sambil membaca buku dongen khusus anak-anak.


Jam 9 malam sudah waktunya untuk Alana tidur, itulah mengapa Dito menyempatkan waktu membaca dongen.


Bukan hanya dongen, sesekali bercerita pada putrinya tentang kenangan indah bersama Aurora.


"Alana tau siapa wanita paling cantik di dunia?" tanya Dito setelah meletakkan buku dongen di atas meja.


Balita kecil yang berada di pangkuan Dito hanya menatap nanar dan telihat sangat lucu. Seakan menunggu jawaban dari daddynya.


"Mommy Aurora, dia adalah wanita paling cantik di dunia, dan wanita paling cantik kedua adalah Alana." Mengecup pipi putrinya hingga Alana tertawa.


Daddy dan anak itu tampak bahagia meski tidak didampingi oleh seorang wanita.


Dito benar-benar membahagiakan putrinya tanpa ada batasnya.


Lelah bermain-main dan Alana tidak kunjung tidur, Dito memutuskan membawanya ke kamar karena udara mulai dingin.


Membaringkan tubuh putrinya di atas ranjang. Mengganti pempers, memberikan liotin khusus bayi dan perlengkapan lainnya sebelum tidur.


"Alana harus bobo cepat, besok kita jalan-jalan buat beli kue untuk Mommy." Menoel-noel pipi Alana setelah berbaring di sampingnya.


Dito tersenyum saat tangan mungil itu mengenggam jari telunjuknya.


"Besok Mommy ultah, Alana mau ngasih apa sama mommy hm? Mau ketemu, iya?"


"Daddy lagi sibuk, lusa ada ujian jadi nggak bisa kemana-mana. Nanti ngerayainnya lewat hp aja ya, Sayang."


Dito membimbing tangan Alana untuk menyentuh pipinya. Mulai memejamkan mata padahal tidak mengantuk, itu dia lakukan agar Alana ikut memejamkan mata.


Pria itu ingin pergi ke markas, tapi harus menidurkan putrinya lebih dulu.