Love Scandal

Love Scandal
Part 16 ~ Love Scandal



"Rora!" panggil Dito sambil membuka pintu kamar istrinya.


Pria itu dan Aurora sudah resmi pindah dan tinggal berdua saja. Telah berbagi kamar satu sama lain setelah membicarakannya baik-baik. Meski ada rasa sedih di hati Aurora karena Dito seakan tidak menganggapkan seorang istri. Namun, di sisi lain dia mengerti akan keinginan pria itu.


Dito hanya berusaha menjaganya dan tidak ingin menjadikannya budak naf*su seperti yang dilakukan Aron padanya.


Wanita itu mendongak menatap Dito yang menyembulkannya kepalanya di balik pintu.


"Napa?" tanya Aurora, berdiri untuk menghampiri Dito.


"Lo pintar masak?"


"Nggak," jawab Aurora di sertai gelengan kepala.


"Kalau gitu lo pesan makanan aja ya, gue mau ke markas dulu. Jam 10 gue pulang." Menyerahkan 3 lembar uang merah pada Aurora.


"Gue punya uang kok." Tolaknya.


"Ck, ambil aja kali mumpung gue punya uang." Dito menutup pintu kamar Aurora dan buru-buru pergi. Meninggalkan istrinya sendirian di rumah.


Seperti pembicaraan tadi siang bersama Ricky, malam ini Avegas akan berpesta di markas. Bersenang-senang tanpa memikirkan banyak hal.


Berbeda dengan Aurora yang ditinggal sendiri oleh Dito. Wanita itu termenung di sisi ranjang sambil memegang ponselnya. Ingin rasanya Aurora mengatakan mau ikut, tapi sadar tidak bisa membatasi Dito kemana-mana.


Atensi Aurora teralihkan pada ponselnya yang berdering terus menerus. Tidak ingin mencari masalah, dia lantas menolak panggilan dari Aron. Namun, sayangnya pria itu tidak menyerah. Aron malah mengirim pesan pada Aurora.


Angkat atau gue masuk ke rumah baru lo, gue tau Dito baru aja pergi!


Aurora menelan salivanya kasar, berjalan menuju balkon dan melihat Aron berdiri di seberang jalan jauh dari intaian CCTV. Pria itu melambaikan tangannya.


"Senang ya?" tanya Aron di seberang telpon setelah Aurora menjawab telpon.


"Aron plis jangan ganggu gue lagi!" pinta Aurora.


"Nggak bisa, lo itu milik gue Rora."


"Kalau gue emang milik lo. Lo nggak mungkin nyiksa gue, nginjak perut gue biar keguguran Ron."


"Rora, gue nggak siap punya anak, orang tua gue juga nggak mungkin setuju. Gue beri lo kesempatan, ayo ikut gue gugurin tuh anak terus cerain Dito."


"Nggak Ron, gue nggak mau!"


"Rora!" bentak Aron di seberang telpon, urat-urat leher pria itu menonjol sakin kesalnya.


"Sayang."


"Pergi dan jangan ganggu gue sama Dito lagi. Apalagi ngehadang kayak tadi!"


"Bahkan gue bisa ngelakuin lebih dari itu Rora kalau lo nggak mau balik sama gue. Gampang kok. Syaratnya, gugurin dan ...."


Aron mengeram kesal ketika sambungan telpon terputus begitu saja, terlebih Aurora telah pergi dari balkon kamarnya.


Masuk? Aron tidak sebodoh itu untuk menerobos CCTV rumah Dito. Terlebih hari ini tubuhnya cukup remuk setelah berkelahi dengan Ricky.


Aron tadi hanya mengancam Aurora, sebab wanita itu entah sedikit polos atau bodoh sehingga gampang dibohongin olehnya.


***


Aurora, gadis itu mengigit bibir bawahnya agar isakan tidak keluar dari mulutnya. Takut, rasa bersalah bercampur menjadi satu untuknya.


Terutama kehadiran Aron yang selalu menganggu dan menguncang mentalnya. Memblokir kontak? Aurora tidak seberani itu terlebih video dan foto-foto saat mereka tidur bersama ada pada Aron. Sekali bertindak maka aib yang berusaha dia cembunyikan akan terbongkar.


"Rora!"


Aurora buru-buru menghapus air matanya ketika mendengar teriakan Dito yang semakin mendekat. Dia lantas keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka. Tersenyum pada suaminya.


"Udah pulang ternyata."


"Lo nggak makan?" tanya Dito yang mendapati tidak ada bekas makanan di dapur.


"Hah? Oh iya gue lupa pesan tadi, lagian gue ...."


"Ck, udah disuruh makan juga!" decak Dito. Menarik tangan Aurora menuju meja makan, kebetulan Dito membawa makanan. Bukan dari markas, melainkan pesanan Salsa istri ketuanya yang juga sedang hamil. Dito sekalian membeli dua untuk Aurora juga.


"Oke lo mungkin nggak lapar, tapi anak kita gimana Rora? Dia pasti lapar banget karena mommynya nggak makan malam," omel Dito menyiapkan makanan di hadapan Aurora.


Wanita itu senyum-senyum sendiri padahal baru saja menangis. Rasanya senang mendengar Dito mengatakan.


Anak kita


Sungguh usia Dito 19 tahun tapi tanggung jawabnya jauh lebih besar dari orang yang lebih tua. Hal ini membuktikan bahwa kedewasaan seseorang tidak diukur dari umur, melainkan keinginan dan pengalaman.