Love Scandal

Love Scandal
Part 63 ~ Love Scandal



Sepeningalan mamahnya, Rayhan beralih duduk di samping ranjang untuk menemani Giani yang masih tidak sadarkan diri. Kata mamah Rayhan hanya shok, sebentar lagi akan bangun.


Rayhan mengenggam tangan mantan pacarnya. Raut wajah yang selalu memancarkan keceriaan dan candaan teman-temannya tidak terlihat dalam ekspresi Rayhan.


Pria yang hoby bercanda tersebut sedang kesal karena tidak bisa membalas perbuatan ayah tiri Giani yang tega melecehkan anak tirinya sendiri.


Rayhan tersenyum ketika Giani mulai mengerjapkan matanya. Buru-buru dia membantu gadis itu yang hendak bangun.


"Akhirnya sadar juga, ayo minum dulu. Gue pikir bakal jadi duda tau nggak." Rayhan tertawa. Tawa untuk menyembunyikan kekesalan.


Yang diajak bicara malah sibuk mengendarkan pandangannya, meneliti seluruh penjuru ruangan. Mungkin untuk memastikan di manakah dia berada sebenarnya.


"Gue harus pulang," ucap Giani turun dari ranjang, tapi dicegah berdiri oleh Rayhan.


"Gi, ayolah jangan keras kepala. Lo baru sadar, luka lo baru mendingan. Terus mau pulang kemana hm? Lo bisa tinggal di sini, mamah setuju kok. Gue bakal nginap di rumah Keen atau Dito," bujuk Rayhan.


Giani terdiam, sebenarnya gadis itu juga tidak tahu harus kemana. Intinya tidak untuk pulang kerumah mamahnya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya kalau saja tidak lolos dari jeratan ayah tirinya.


Mungkin jika dia lemah, Giani sudah kehilangan kesuciannya.


"Giani ...." Rayhan hendak bicara, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Sebelum menjawab, dia melirik Giani sebab telpon tersebut berasal dari calon ibu mertuanya.


"Mamah," ucap Rahyan.


Giani lantas menjawab panggilan mamahnya.


"Sayang, ini udah sore tapi kenapa belum pulang? Mamah khawatir sama kamu," ucap wanita paruh baya diseberang telpon.


"Giani hari ini nggak pulang Mah. Mungkin nggak bakal pulang untuk beberapa waktu, Giani mau tinggal sama papah aja."


"Tapi Nak ...."


"Rumah papah lebih dekat dari kampus. Udah dulu ya mah." Giani lantas mematikan sambungan telpon lalu memberikan ponsel Rayhan kembali.


"Gi, lo mau nikah sama gue? Kita nikah aja ya?"


Giani tersenyum. "Keknya usulan lo nggak masuk akal Ray. Gue nggak mau terjebak."


"Gi, maafin gue ya? Gue janji nggak bakal lakuin hal-hal yang lo benci lagi. Gu-gue bakal mutusin pacar gue."


"Yang ke berapa? 1, 2, 3, atau yang ke 100?"


"Giani?"


"Udahlah Ray, gue capek." Menyingkirkan tangan Rayhan dari pundaknya. "Makasih udah mau nolongin gue, makasih udah buat gue sadar kalau semua masalah nggak harus di selesaikan dengan bunuh diri. Makasih udah pernah hiasi hidup gue selama beberapa tahun. Makasih perjuangannya." Giani lagi-lagi tersenyum.


Berjalan keluar kamar meninggalkan Rayhan yang terpaku di tempatnya. Pria itu menghela nafas panjang, lantas menyusul Giani dan menarik tangannya yang terluka bekas cengkraman.


"Gue anter kalau gitu. Gue bakal beri lo waktu satu bulan, setelahnya jangan salahin gue kalau ngejar-ngejar lo lagi kayak dulu," ucap Rayhan tidak terbantahkan.


Jangan lupakan sikap Rayhan, selain playboy, suka bercanda, dia adalah salah satu pria pemaksa setelah Azka dan Samuel.


Rayhan bisa mengklaim sesuatu sebagai miliknya tanpa persetujuan dari siapapun termasuk Giani. Dulu awal-awal pacaran Rayhan bukan menembak Giani, melainkan langsung mengakui pada semua orang.


Pria itu lantas memasangkan helm di kepala mantan pacarnya tanpa izin. Naik ke motor dan menunggu Giani menyusul. Tidak perlu meminta izin pada orang rumah. Kedua orang tua Rayhan entah menghilang kemana lagi padahal suaranya baru terdengar beberapa saat.


Laju motor perlahan-lahan meninggalkan halaman rumah. Sepanjang jalan hanya suara deruman yang menjadi nyanyian perjalanan mereka.


Bukan kehabisan topik, hanya saja Rayhan tidak ingin menganggu ketenangan Giani untuk saat ini.


"Satu bulan kan?" Giani tiba-tiba bersuara.


"Hm, satu bulan. Setelah itu gue bakal datang kerumah lo bawa penghulu."


"Gue tunggu satu bulannya," ucap Giani, padahal dipikiran gadis itu berbeda dengan ucapannya.