
Bukannya mencari makan untuk mengisi perut yang kosong, Dito malah berakhir di Lotte World Tower hanya untuk menenangkan hatinya yang sedang kesal melihat kedekatan Adam dan Aurora.
Tempat paling ampuh menanengkan diri bagi Dito adalah tempat yang tinggi. Tempat dimana dia bisa melihat bangunan-bangunan lain hanya dalam satu kedipan mata.
Itulah mengapa Dito mendarat di Lotte World Tower selain menjadi gedung pencakar langit teringgi ke-6 di dunia, tempat ini adalah tempat yang selalu Alana impikan saat sekolah dulu.
Namun, karena mempunyai ayah yang sangat posesif, Alana tidak pernah bisa mewujudkan mimpinya.
Di gedung yang tingginya 555 meter dengan 123 lantai tersebut membuat Dito bisa melihat seluruh kota Seoul. Sungai Han, lebih indah jika dipandang dari atas.
Rasanya sangat tenang berada di ketinggian ditemani oleh semilir angir yang menembus kulit hingga tulang-tulang. Cuaca yang cerah semakin membuat semuanya terasa indah di pandang mata.
"Apa gue harus kehilangan lagi untuk kedua kalinya?!" teriak Dito tanpa peduli pengunjung yang mungkin saja memperhatikan.
"Gue rela ngelepas Aurora kalau penggati gue lebih baik!" Sekali lagi teriakan itu mengema.
Dito benar-benar melepaskan sesak di dadanya di kota Seoul. Jika bisa, Dito ingin membuang perasaan yang dia miliki di kota ini sebelum kembali ke negara asalnya.
Deringan ponsel, membuat pandangan Dito pada kota Seoul teralihkan. Pria itu lantas menjawab panggilan dari mantan istrinya.
"Di mana? Alana kayaknya nyari lo, dari tadi ngerengek sambil natap sana sini," ucap Aurora di seberang telpon.
"Udah puas?"
"Maksudnya?"
"Gue udah pesan tiket dan berangkat nanti malam."
Hening.
Suara Aurora tiba-tiba menghilang di seberang telpon.
"Cepat banget, padahal kita belum jalan-jalan sama Alana. Gue masih kangen sama kalian."
"Gue tau lo kangen sama Alana, tapi gue punya urusan."
"Kalian, Dito. Lo sama Alana."
Dito tertawa hambar mendengar ucapan Aurora. "Nggak udah bawa-bawa nama gue! Gue yakin lo nggak secinta itu."
"Dito."
"Udah ya, gue mau balik ini."
Sementara di sisi lain, yakni di apartemen. Aurora duduk termenung di depan Tv bersama Alana yang berbaring sambil memeluk boneka yang selalu menemani setiap saat.
"Gue belum siap," gumam Aurora. "Gue nggak siap kalau kalian pergi lagi," lirihnya.
Tatapan Aurora tertuju pada putrinya. "Mommy selalu ngomong sama diri sendiri kalau semuanya akan baik-baik aja. Mommy bisa lupain Daddy dan memulai hidup yang baru, tapi kenapa nggak bisa Sayang?"
"Mommy pengen kita bersatu kayak dulu lagi."
"Harusnya Mommy nggak bohongin daddy tentang kehamilan Mommy yang sebenarnya."
Aurora terus saja berbicara, sampai tidak menyadari keberadaan Adam di apartemen tersebut.
Penyesalan demi penyesalan, fakta demi fakta terus terucap dari mulut Aurora sehingga Adam bisa mencernanya dengan baik dan jelas.
Wajah pria itu seketika pias pasih, tidak menyangka bahwa rumah tangga wanita yang selama ini dia jaga retak karena Alana bukanlah anak kandung Dito. Anehnya, kenapa Dito mempertahankan Alana?
"Ngapain lo masih di sini?"
Adam lantas berbalik dan terkejut melihat Dito dengan wajah datarnya.
"Mau ngajak Rora makan siang."
"Sepeduli itu?"
"Ok gue nggak seharusnya ikut campur tentang hubungan kalian, tapi karena gue udah dengar dan tahu semuanya gue mau ngasih saran!"
Dito mendelik, menyeret Adam keluar dari apartemen sebelum keberadaan keduanya disadari oleh Aurora.
"Kenapa lo egois?" tanya Adam.
"Maksud lo?"
"Nggak seharusnya lo ngambil hak asuh yang bukan darah daging lo sendiri! Lo liat apa yang terjadi? Aurora sering murung, moodnya buruk, itu semua karena lo misahin anak dari ibunya!"
"Nggak usah banyak bacot lo! Lo nggak tau apa-apa tentang keselamatan Alana! Lo kalau suka sama Rora suka aja, jangan bawa-bawa putri gue!" Menekan pundak Adam yang lebih pendek darinya.
"Lepasin!"
"Kalau sampai identitas Alana bocor, orang pertama yang bakal gue cari itu lo!" Ancam Dito yang sama sekali tidak terusik akan kata-kata Adam yang menganggapnya egois.
Karena Dito sadar dia egois sebab memisahkan ibu dan anak.