Love Scandal

Love Scandal
Part 9 ~ Love Scandal



Matahari mulai menyapa, membuat pria yang tertidur di dalam mobilnya mengerjap perlahan karena merasakan silaunya cahaya yang menerpa.


Pria itu meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku akibat tidur dalam posisi tidak nyaman. Dia menunduk untuk mencari ponselnya yang jatuh di kolom jok mobilnya.


"Jam 8 pagi? Gila tiket yang gue pesan hangus gitu aja," gumam Dito.


Pria itu melirik rumah besar di hadapannya. Karena penasaran apa yang terjadi di dalam sana akhirnya Dito memutuskan untuk masuk. Toh orang tua Aurora sudah tahu mereka pacaran, hanya saja belum tahu kalau keduanya telah melakukan hal yang tidak dimaafkan oleh siapapun.


***


Sama halnya dengan Dito, Aurora meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Baru saja akan beranjak dari tempat tidur, suara mommynya sudah terdengar dari balik pintu.


"Rora, kamu sudah bangun?"


"Sudah Mom," sahut Aurora mengingit bibir bawahnya ketika mengingat apa yang dikatakan dokter samalam pada orang tuanya.


"Turunlah sebentar Nak, Daddy mau bicara sama kamu."


"Iya Mom." Dengan jantung berdegup kencang Aurora keluar dari kamarnya. Berjalan perlahan menapaki anak tangga untuk menemui sang daddy di lantai dasar.


Wanita itu mendudukkan diri di hadapan daddynya sambil meremas jari-jari tangannya yang terasa sangat dingin, terlebih melihat tatapan pria paruh baya tersebut.


"Kamu benar hamil?" tanya daddy Aurora yang ingin pengakuan langsung dari putrinya.


Aurora mengangguk samar, dia berlutut di atas karpet. "Maafin Rora Daddy, Ro-ra nggak bermaksud buat Daddy malu. Harusnya Rora ....


Plak


Satu tamparan mengenai pipi mulus Aurora membuat wanita itu tertoleh ke samping. Air mata lantas berjatuhan tanpa diminta, belum lagi rasa kebas dan perih yang wanita itu rasakan.


"Berani-beraninya kau menghancurkan kepercayaan Daddy, Rora! Gugurkan!"


Aurora mengelengkan kepalanya. "Ro-rora nggak mau."


"Bodoh! Kau mau mempermalukan daddy dengan hamil di luar nikah hah!" Suara bentakan kian memekakkan telinga. Aura mencekam, jelas menguasai ruangan yang semula damai.


Aurora hanya bisa terisak, memeluk kaki daddy, memohon agar tidak mengugurkan janin yang dia miliki.


Wanita paruh baya itu telah memohon semalaman tapi suaminya tidak memberi ampun sedikitpun.


"Rora nggak mau Daddy. Gugurin kandungan bahaya, Rora masih mau hidup!" Histeris Aurora tapi tetap saja diseret keluar pintu.


"Anak itu pembawa sial, dia nggak boleh hidup dan menjadi aib ...."


"Saya bakal tertanggung jawab om, jangan gugurkan janinnya," ucap Dito dengan nafas memburu karena berlari saat mendengar suara bentakan yang mengema.


Dito bersimpuh di kaki daddy Aurora tepat di samping wanita yang telah dia hamili.


"Saya bakal bertanggung jawab om, jangan seret Rora seperti itu. Mengugurkan kandungan sama aja membunuh putri om secara perlahan. Saya janji bakal jamin masa depan Rora, pendidikkan nggak bakal putus cuma karena anak kami," mohon Dito.


Harus kalian tahu baru kali ini seorang Dito, inti Avegas yang ditakuti oleh geng motor mana saja bersujud di depan pria paruh baya hanya karena seorang gadis. Bahkan saat sahabatnya menikahpun Dito tidak melakukannya untuk meminta restu.


"Marga kamu apa?"


"Yudantara Om."


Daddy Aurora melirik istrinya yang masih saja mematung. "Hubungi keluarganya!"


"Ja-jangan om," cegah Dito. "Saya bakal telpon mamah saya kalian bisa bicara sama dia."


"Baiklah."


Dito lantas menghubungi mamahnya masih dalam posisi bersimpuh di samping Aurora, ketika sambungan terhubung dia segera memberikan pada daddy Aurora untuk bicara sepuasnya. Sementara Dito langsung mendekati Aurora dan menghapus air mata di pipi wanita itu.


"Jangan nangis lagi, gue nggak suka orang cengeng," pinta Dito.


"Makasih To, gue nggak tau bakal gimana kalau lo nggak datang. Gue hutang budi sama lo."


"Ck, ini juga karena ulah gue makanya jadi gini. Sekarang berdiri, jangan duduk di lantai. Kata orang tua nggak boleh orang hamil duduk di lantai."


Aurora mengangguk, berdiri atas bantuan Dito yang rambutnya acak-acakan.