Love Scandal

Love Scandal
Part 17 ~ Love Scandal



Dito, pria itu terus menatap Aurora dengan senyuman. Rasanya senang melihat istrinya makan dengan lahap. Tangannya bergerak untuk mengelus sudut bibir Aurora yang terkena mayones.


"Pelan-pelana aja makannya, Rora. Nggak ada yang ninggalin juga."


"Enak banget soalnya." Cengir Aurora, menyesap minuman yang dibelikan Dito untuknya.


Sebenarnya Aurora salah tingkah terus ditatap, hanya saja tidak ingin memberitahukan.


"Lo nggak makan?"


"Kenyang habis pesta sama teman-teman. Gue ke kamar dulu ya." Beranjak setelah mendapatkan persetujuan dari Aurora.


Aurora menyusul Dito setelah menghabiskan makanannya tanpa membereskan apapun diatas meja. Langkahnya berhenti tepat di depan kamar Dito yang telah tertutup rapat.


"Selamat malam Dito, maaf karena bohongin lo. Meski rumah tangga kita di dasari kebohongan gue mau kita bahagia dan hidup layaknya pasangan suami istri pada umumnya," batin Aurora masih saja memandangi daun pintu.


Dia terkesiap ketika pintu terbuka secara tiba-tiba.


"Eh udah selesai ternyata. Semoga nyenyak tidurnya, kalau lo butuh apa-apa tinggal ngetuk pintu, nggak dikunci kok," ucap Dito yang rencananya akan menghampiri Aurora setelah berganti baju. Namun, urung karena sudah bertemu di depan kamar.


Aurora mengangguk dan masuk ke kamarnya. Jantungnya berdetak sangat cepat melihat senyuman Dito setiap harinya.


Pria itu benar-benar membuat Aurora gila dengan perhatian dan kasih sayangnya.


***


Jarum sudah menunjukkan angka 8 pagi, tapi tidak ada satupun penghuni rumah yang bangun. Keduanya masih terlelap dengan dunia mimpi mereka masing-masing.


Netra indah Aurora membola, nafasnya terangah-engah setelah mengalami mimpi yang sangat menyeramkan. Wanita itu meraih gelas berisi air minum di atas nakas lalu meneguknya hingga tandas.


Mungkin karena rasa takut akan ancaman Aron dan kasih sayang Dito yang membuat Aurora selalu bermimpi buruk. Mimpi di mana Dito mengetahui kebohongan besarnya lalu mengusirnya dari rumah.


Tidak ada lagi yang memperdulikan Aurora yang tinggal di jalanan seorang diri.


"Nggak, gue nggak sanggup ngadepin semuanya!" teriak Aurora menutup telinganya. Membuat Dito di seberang kamar terbangun.


Pria itu langsung mengunjungi kamar Aurora. "Lo mimpi buruk?" tanya Dito duduk di sisi ranjang menghadap Aurora. Bahkan sengan lembut memindahkan tangan Aurora dari telinganya. Merapikan rambut acak-acakan setelah bangun tidur.


"Maaf," lirih Aurora menatap Dito takut.


Aurora mengangguk ragu, segera masuk ke kamar mandi. Sedangkan Dito kembali ke kamarnya untuk melakukan hal sama, lalu berangkat ke kampus bareng.


Usai keduanya bersiap-siap dan pesanan Dito telah datang. Keduanya sarapan lebih dulu sebelum meninggalkan rumah.


Sepanjang itu pula Dito diam-diam melirik Aurora yang tampak tidak ceria pagi ini.


"Setelah kelas selesai mau jalan-jalan nggak?" tanya Dito.


"Kemana?"


"Kemana aja biar lo sama dedeknya fresh, tinggal di rumah keknya bikin lo stres deh. Kata mamah sih orang hamil moodnya nggak bisa dikendaliin."


"Ke rumah Mommy aja gimana?"


"Lo nggak nyaman di rumah ini?"


Aurora lantas mengelengkan kepalanya. "Nyaman kok, tapi tiba-tiba gue kangen mommy. Lo bisa jalan sama teman-teman lo sebelum jemput gue."


Dito menghela nafas panjang, kembali menyantap sarapannya. "Kalau gitu sebelum kerumah mommy kita ke rumah sakit dulu!"


Rasa gugup tiba-tiba melanda Aurora, rumah sakit adalah hal yang paling dia takuti. Bukan karena takut disuntik, melainkan takut Dito mengetahui usia kandungan yang sebenarnya.


Yang Dito tahu usia kandungannya baru 6 minggu, sementara yang sebenarnya sudah 10.


"Rora!"


"Na-nanti gue ke dokter bareng mommy aja, lo nggak perlu buang-buang waktu To. Lagian lo pasti sibuk sama kegiatan di luar rumah," tolak Aurora halus.


"Terserah lo aja dah, kalau gitu gue bawa Salsa aja kerumah sakit, kebetulan hari ini jadwal dia." Beranjak dari duduknya. Menyambar hodie putih lalu keluar rumah lebih dulu, membuat hati Aurora sedikit mencelos.


Ternyata salama ini dia salah mengartikan sesuatu. Dito bukan hanya peduli padanya, tapi pada wanita lain juga seperti itu.


"Jelaslah Dito kayak gitu, kita nikah aja karena insiden bukan cinta," batin Aurora.