
Bangun pagi mungkin bukanlah kebiasan Dito jika bukan keadaan mendesak. Namun, pagi ini pria itu bangun lebih awal sebab teringat akan Aurora yang mungkin masih cangung dengan kedua orang tuanya. Pria itu telah rapi dengan celana jeans longar dipadukan hoodie yang selalu melekat di tubuhnya.
Dito melirik Aurora yang masih saja terlelap padahal sebentar lagi kelas akan dimulai.
"Rora!" panggil Dito menunduk tepat di hadapan wanita itu.
"Uhmmm."
"Bangun, lo nggak mau ke kampus?"
Aurora sontak membuka matanya dan terkejut bukan main melihat wajah tampan Dito tepat di atasnya. Dia langsung berpaling. "Gu-gue bakal mandi sekarang," ucap Aurora tapi belum bangun dari tidurnya.
"Cepat, gue tunggu di bawah sama mamah dan papah."
Aurora mengangguk, turun dari ranjang setelah Dito keluar dari kamar. Sepertinya jantungnya tidak akan aman jika terus satu kamar dengan Dito.
Pria itu sangat tampan, apalagi bisa menjadi suami idaman semua perempuan.
Setelah siap-siap dan memoles bedan tipis-tipis, Aurora segera menyusul Dito ke meja makan tanpa membereskan tempat tidur atau sejeninya. Karena memang dia tidak pernah melakukannya.
Mungkin karena sejak kecil semuanya dikerjakan oleh Bibi. Yang Aurora kerjakan di rumah hanya belajar, makan dan tidur saja.
Wanita itu melempar senyum manisnya setelah sampai di meja makan. Duduk tepat di samping Dito yang baru saja menarik kursi.
"Cantik banget menantu mamah, Pah. Semoga kehamilannya baik-baik aja ya," ucap mamah Dito mengelus punggung tangan Aurora.
"Iya, Mah." Mengangguk canggung. Melirik Dito yang sedang menyantap makananya dengan tenang.
"Mau ayam goreng, atau roti?" tanya Dito menyadari Aurora meliriknya.
"Roti aja, gue nggak biasa makan nasi pagi-pagi."
Dito mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, meraih roti dan selai lalu hendak mengolisinya. Namun, dengan sigap Aurora merebut.
"Biar gue aja, lo lanjut makan aja." Tersenyum ramah.
Mamah dan Papah Dito saling tatap sebelum mamah Dito kembali bersuara.
"Kurang sopan loh suami istri manggilnya lo-gue. Disuhain ganti ya Nak."
"Iya Mah." Sahut Dito dan Aurora serempak.
Sepanjang jalan ada saja pembahasan yang membuat keduanya tidak merasakan kecangunggan. Satu hal yang membuat Dito merasa nyaman di dekat Aurora, sebab wanita itu tidak banyak mengatur bahkan lebih antuasis jika Dito membicarakan hal-hal tentang Avegas.
"Pasti lo banyak fansnya tapi banyak musuhnya juga."
"Hm, mau gimana lagi."
"Gue suka lo jujur gini, To. Gue ngerada dianggap aja gitu dalam hidup lo."
Dito terkekeh pelan. "Kalau gitu lo juga harus jujur sama gue, apapun itu. Terlebih kalau ngerasain sakit biar bisa langsung periksa ke dokter."
"Pasti."
Dito memutar setir kemudi memasuki kampus yang telah ramai akan mahawasiswa. Lama mencari parkiran sebab hampir semua mahasiswa membawa mobil sendiri-sendiri. Mungkin karena kampus mereka kampus swasta yang hanya dimasuki orang-orang berada saja.
"Lain kali naik motor aja deh," celetuk Aurora setelah turun dari mobil.
Dito melirik sebentar. "Memangnya nggak papa?"
"Nggaklah, suka malah. Sampai cepat terus nggak susah nyari parkiran."
"Gemes banget sih." Dito tiba-tiba mengacak-acak rambut Aurora, membuat wanita itu tentu saja terkejut.
Pacaran hampir satu tahun dengan Aron, tidak pernah sekalipun pria itu memperlakukannya dengan baik. Sangat berbeda dengan Dito yang sangat hangat.
"Merah tuh pipi, baper ya?"
"Nggak!" Sanggah Aurora berjalan lebih cepat, bahkan terkesan berlari.
Dito yang melihatnya lantas mengejar dan meraih tangan mungil Aurora. "Jangan lari-lari, kasian anak kita nanti kesakitan."
"Lo percaya anak diperut gue itu anak lo?" Mendongak menatap Dito.
"Iyalah, anak siapa lagi coba? Kecuali lo pernah lakuin sama pria lain. Tapi menurut gue sih nggak, lo terlalu polos buat ngenal yang gituan." Kembali mengacak-acak rambut Aurora sambil tertawa. Berbeda dengan wanita itu yang terdiam sebab rasa bersalah kembali menghampiri.
Dito begitu mempercayainya, tapi dia tega menjadikan pria itu penutup aib.
"Ini semua karena Aron!" batin Aurora dengan tangan terkepal.