Love Scandal

Love Scandal
Part 32 ~ Love Scandal



Siapa yang menyangka hari begitu cepat berlalu, usia kandungan Aurora kini memasuki bulan ke 7 menurut perhitungan Dito. Namun, yang sebenarnya usia kandungan Aurora susah memasuki bulan ke 8.


Perut yang semakin membuncit membuat wanita itu terlihat mengemaskan di mata Dito. Diperlakukan layaknya ratu membuat Aurora tidak pernah kekurangan kasih sayang dalam kehamilannya, tapi satu yang belum wanita itu dapatkan.


Cinta dari suaminya, sampai sekarang dia dan Dito masilah pisah kamar. Entah apa alasan tepatnya, hanya Dito yang tahu hal tersebut.


Selama 7 bulan membongi Dito, selama itu pula Aurora menepati janjinya pada Aron. Bertemu setiap bulan sekali, entah sekedar makan siang atau makan malam. Tentu tidak pernah diketahui oleh Dito yang sibuk pada kampus juga perusahaan papahnya.


"Udah siap belum?" Dito menyembulkan kepalanya di balik pintu. Pria itu telah rapi dengan kemeja hitam, senada dengan dress yang dikenakan Aurora.


Malam ini mereka ada acara makan malam keluarga di rumah orang tua Aurora. Katanya untuk merayakan 7 bulan kehamilan Aurora yang telah menipu banyak orang, terutama mertua yang sangat menyayanginya.


Aurora tersenyum, menghampiri Dito. "Udah, ayo!" Merangkul lengan Dito dan berjalan beriringan keluar dari rumah.


Sekarang Aurora benar-benar telah egois. Niatnya dulu untuk memberitahukan Dito telah buyar begitu saja. Mendapatkan kasih sayang melimpa membuat wanita itu tidak ingin kehilangan semuanya. Memilih menutup rasahasia besar tersebut serapat mungkin.


Terlebih Dito tidak pernah curiga padanya. Entah bodoh atau tidak punya waktu mengurus tentang latar belakang Aurora.


Aurora menahan nafas ketika Dito memajukan tubuhnya untuk memasang sabuk pengaman. Pipinya bersemu merah saat sebuah kecupan mendarat di pipi.


"D-Dito, lo-lo ngapain?" gugup Aurora, jantungnya berdebar tidak karuan.


"Nyium istri."


"Ta-tapi ...."


"Karena malam ini kita ada acara makan malam sama keluarga, besok acara kita berdua. Gue mau ngomong sesuatu sama lo, penting banget." Cengir Dito mengusap lehernya yang berkeringat secara tiba-tiba. Pria itu terlihat salah tingkah, tapi berusaha menutupinya dengan gaya cool.


Dito melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar selamat sampai tujuan. Sesekali melirik Aurora yang menunduk sambil meremas jari-jarinya.


"Kenapa?" tanya Dito.


"Gugup habis dicium. 6 bulan nikah ini hal pertama buat kita."


"Lo marah?"


"Ng-nggak, tapi kaget aja."


Dito tertawa lepas, pipi memerah membuat Aurora semakin terlihat sangat cantik. "Syukurlah, artinya nggak ke tolak kan?"


"Hah?"


Membanting setir kemudi memasuki halaman mertuanya. Sepertinya sedikit terlambat, terbukti mobil papahnya telah terparkir rapi.


"Udah ada papah sama mamah." Aurora melirik Dito.


"Hm, keknya bakal kena omel deh."


Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah dan disambut dengan keributan mommy Aurora dan Mamah Dito yang sepertinya sejalan jika berbicara.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga, bisa-bisanya kalian buat mamah sama papah nunggu." Menatap putranya mematikan.


"Rora tuh lama banget dandannya."


"Kok gue?"


"Sudah-sudah, ayo kita makan malam dulu sebelum bahas yang lain. Kalian pasti sudah lapar. Terutama yang punya acara," cibir mommy Aurora melirik putrinya.


Sepasang suami istri yang salah di mata orang tuanya lantas mengikuti langkah para orang tua menuju meja makan.


Makan malam selalu di selingi dengan pembicaraan ringan dari mamah Dito dan mommy Aurora, sementara para pria hanya diam menikmati saja.


"Makasih ya bu besan sudah ngajarin Aurora buat jadi istri yang baik," ucap mommy Aurora secara tiba-tiba.


"Lah siapa yang ngajarin?" tanya mamah Dito.


Mommy Aurora mengulum senyum, melirik putrinya yang tengah menunduk mungkin karena malu.


"Rora pernah cerita, katanya bu Besan nasehatin karena kerjaan Rora cuma tidur dan main hp aja. Ngurus rumah sama suami nggak becus."


"Lah?" Mamah Dito terkesiap.


"Mommy?"


"Tapi tenang bu Besan, meski dia cerita gitu di belakangnya tetap muji kok. Saya malah bersyukur bu Besan ngomelin Rora. Saya sudah lelah ngingetin tapi nggak pernah didengerin."


Mamah Dito tertawa melihat raut wajah Aurora yang tampak pias, mungkin takut dikiran tukang adu pada mommynya.


"Bukan nasehatin lagi, tapi ngomel sama Rora soalnya gemes banget liat yang kotor-kotor. Tapi nggak nyangka anaknya mau berubah, sekarang malah makin sayang. Apalagi tinggal ngitung minggu dia mau beri cucu."