Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 97



"Gue dengar Rafka udah dibebaskan dari penjara!"


Seketika Sky berdiri dan mengepalkan tangannya. "Darimana lo tahu? Dia mendapat hukuman 10 tahun. Itu aja menurut gue hukumannya terlalu kecil, mana bisa masih satu tahun sudah bebas."


"Gue dengar dari anak-anak di basecamp. Mereka sempat lihat Rafka di tempat balapan."


Sky kembali duduk. Dia segera menghubungi Papanya untuk memastikan hal itu. "Iya Pa, nanti akan aku cek ke sana." Setelah memutuskan panggilan dengan Papanya, Sky memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Kemudian dia menggenggam tangan Shena untuk mencari ketenangan.


"Gimana kata Papa lo?"


"Papa gak tahu soal ini. Kata Papa, Rafka masih dipenjara. Memang orang tua Rafka seorang pejabat, yang gue takutkan orang tua Rafka memberi uang jaminan yang besar hingga Rafka bisa bebas berkeliaran," jelas Sky. Bagaimanapun juga, dia tidak akan rela pembunuh saudara kembarnya bisa bebas berkeliaran. Apalagi karena Rafka dia jadi balas dendam pada Shena dan membunuh calon anak pertamanya dulu.


"Kak Sky, tenang dulu. Nanti Kak Sky lihat sendiri saja ke penjara."


Sky menghela napas panjang lalu merengkuh bahu Shena. "Aku gak akan pernah biarkan Rafka bebas."


"Iya, kita mengerti apa yang lo rasakan. Kita semua juga akan selidiki masalah ini. Jangan sampai Rafka justru berkeliaran dan sedang menyusun rencana buruk."


"Rencana buruk?" Seketika Sky menatap Shena. Dia kembali menggenggam tangan Shena. Apapun yang terjadi dia tidak akan membiarkan Shena terluka sedikitpun.


"Sayang, sebentar lagi aku antar kamu pulang ya. Biar aku cek sendiri ke penjara."


"Biar gue antar," kata Arnav.


"Kalau gitu aku mau nemenin bumil aja di rumah. Ya Shena?" kata Gita.


Shena mengangguk dengan cepat. "Kebetulan banget, Kak. Biar ada temen aku nonton drakor di rumah."


"Gue juga mau ikut. Nanti langsung gue tunggu di dekat lapas," kata Ferdi.


"Oke, kita pastiin sama-sama kalau Rafka memang masih berada di penjara itu. Kalau ternyata Rafka tidak ada di sana, kita harus cari dia."


...***...


Setelah mengantar Shena pulang, Sky langsung meluncur menuju lapas. Beberapa saat kemudian Sky menghentikan mobilnya di tempat parkir, sudah ada Ferdi dan Arnav yang menunggu di sana. Kemudian Sky turun dan menghampiri mereka berdua.


"Sky, apa sebelumnya lo pernah mastiin ke sini?" tanya Arnav.


Sky menggelengkan kepalanya. "Gue terlalu percaya sama pihak berwajib."


"Kalau begitu, biar gue yang masuk dan buat permintaan jenguk Rafka. Kalau ditolak berarti Rafka memang tidak ada di sini. Nanti baru lo masuk untuk cari teman Rafka biar polisi gak curiga."


Sky mengiyakan ide Arnav.


Arnav kini masuk seorang diri ke dalam lapas itu. Sky sudah tidak sabar menunggu kabar dari Arnav. Beberapa saat kemudian, Arnav keluar.


"Gue gak boleh bertemu Rafka. Katanya Rafka tidak menerima jengukan dari siapapun."


Sky kembali mengepalkan tangannya. "Itu berarti benar Rafka udah bebas. Fer, ikut gue temui Yasa di dalam." Kemudian Ferdi dan Sky masuk ke dalam lapas itu.


Untunglah mereka diizinkan menemui Yasa.


Setelah Yasa dikeluarkan ke ruang jenguk, dia hanya duduk sambil menundukkan pandangannya dan tidak berani menatap Sky.


"Apa Rafka masih dipenjara?" tanya Sky setengah berbisik. Satu tangannya menekan lengan Yasa dengan kuat.


Yasa masih saja terdiam.


"Jawab! Kalau lo mau jawab, pengacara gue akan bantu keringanan hukuman lo."


Yasa akhirnya menganggukkan kepalanya. "Rafka dan Zaki udah keluar. Tinggal gue dan Rio yang di sini. Mereka berdua juga mengkhianati kita."


Seketika Sky menggebrak meja dengan keras.


Seketika Sky berdiri dan menyergap polisi penjaga itu. "Berapa keluarga Rafka dan Zaki bayar kalian semua hingga mereka berdua bisa bebas."


"Kamu tidak sopan sekali! Keluar dari sini!"


Sky dan Ferdi diusir dari lapas itu dengan paksa. "Shits! Bener-bener gak beres!" Sky semakin emosi. Dia masih menendang pintu gerbang lapas itu berulang kali karena merasa sangat kesal.


"Sky udah, nanti lo bicarain sama bokap lo." Ferdi menarik Sky agar kembali ke tempat parkir.


"Gue benar-benar merasa kecolongan. Gue gak rela Rafka dan Zaki berkeliaran diluar penjara!" Sky masih saja mengepalkan kedua tangannya. Kemudian dia bersandar di mobilnya.


"Kita cari Rafka dan Zaki sampai dapat," kata Arnav.


"Iya, lo benar. Biar gue ambil motor dulu."


"Jangan!" Arnav mencegah Sky saat akan masuk ke dalam mobil. "Pen di tulang selangka lo belum diambil. Lo jangan ambil resiko untuk bawa motor sendiri. Serahkan ini sama kita. Masih ada anak Phoenix dan juga anak Langit. Kalau terjadi apa-apa sama lo, nanti Shena sedih. Tugas lo sekarang jagain Shena dan lo hubungi pengacara yang menangani kasus ini, biar diusut lagi."


"Tapi Kak Arnav, gue..."


"Udah. Yang penting sekarang lo pikirin Shena dan kandungannya."


Sky akhirnya menganggukkan kepalanya lalu dia masuk ke dalam mobil. Setelah motor Arnav dan Ferdi melaju, Sky juga melajukan motornya menuju rumah.


Beberapa saat kemudian, Sky sampai di rumahnya. Dia segera turun dari mobil lalu menghubungi Papanya lagi. Sampai dia masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah, dia masih mengobrol serius dengan Papanya.


Bahkan kini Shena sudah meletakkan minuman hangat di atas meja dan menunggu Sky selesai berbicara.


Akhirnya Sky menyudahi panggilannya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Dia usap wajahnya yang kusut.


"Kenapa?" tanya Shena. "Minum dulu."


Sky meneguk segelas minuman hangat itu hingga habis lalu dia meraih tubuh Shena dan memeluknya. "Rafka dan Zaki udah keluar dari penjara. Aku gak rela. Aku gak mau pembunuh Gala bebas berkeliaran di luar sana. Mereka yang menyebabkan kehancuran kita dulu."


"Kenapa mereka bisa bebas dengan cepat?"


"Kemungkinan besar orang tua mereka memberi jaminan yang besar. Aku sangat kecewa. Pokoknya aku harus bisa cebloskan mereka lagi ke penjara."


"Kak Sky sabar ya. Semua pasti ada jalan."


Sky mengangguk pelan. "Aku juga harus jaga kamu. Aku gak mau mereka mengusik hidup aku lagi, apalagi sampai menyakiti kamu."


Shena hanya mengangguk pelan.


Kemudian satu kecupan mendarat di kening Shena. "Oiya, Gita udah pulang kan?"


"Udah, baru aja."


"Kita tidur siang yuk." Sky mengajak Shena berpindah ke kamar. "Kepala aku rasanya pusing mikirin semua ini." Sky melepas sepatu dan kemejanya lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya setelah itu dia menghempaskan dirinya di atas ranjang.


Shena kini duduk di sebelah Sky dan memijat pelan kepala Sky.


"Sayang, sini ikut tidur."


"Aku ngerti gimana perasaan Kak Sky."


Sky meraih tangan Shena lalu menciumnya. "Makasih kamu sudah mau menerima aku. Aku sayang banget sama kamu." Sky bangun lalu mencium lembut bibir Shena.


"Kak Sky mau cepat hilang rasa pusingnya?"


Sky menganggukkan kepalanya.


"Ayo..."