
"Kak Arnav, aku mau kerja kelompok di rumah Mila," kata Shena saat pulang sekolah hari itu. Terpaksa dia berbohong agar dia bisa melihat kondisi Sky di rumah sakit.
"Ya udah, nanti kalau udah selesai chat aku biar langsung aku jemput. Soalnya aku juga masih ada bimbel."
Shena menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menggandeng Mila berjalan ke tempat parkir.
Sedari tadi Mila hanya menahan tawanya. Akhirnya sahabatnya yang satu itu nyerah juga dengan pendiriannya.
"Antar ya, Mil. Tenang saja, ada Kak Ferdi juga kok," kata Shena sambil naik ke boncengan Mila.
"Ciee, emang lo mau ngomong apa sama Kak Sky?" tanya Mila. Dia kini menghidupkan motornya lalu mulai melajukan pelan.
"Ya cuma jenguk aja." Di belakang Mila, sebenarnya Shena juga bingung. Apa yang harus dia katakan pada Sky? Setelah apa yang dilakukannya pada Sky, haruskah dia minta maaf juga? Lalu bilang kalau dia sudah memaafkan Sky.
"Mil, enaknya gue ngomong apa ya?" tanya Shena sambil mendekatkan dirinya ke punggung Mila.
"Lo sebenarnya jenguk Kak Sky mau menerima permintaan maaf dia atau gimana?" Mila justru balik bertanya.
"Ya, gue juga gak tahu."
"Astaga, Shena. Ya kalau mau maafin itu ya bilang aja. Kak Sky, aku udah maafin kok. Kita nikah aja yuk! Biar tanggung jawabnya sekalian."
Seketika Shena menjitak helm Mila. "Nikah? Gue masih sekolah."
"Ya siapa tahu kan kayak di nopel-nopel online itu. Nikah sambil sekolah." Mila tertawa dengan keras. Dia sangat suka menggoda sahabatnya yang sedang dilema seperti ini.
"Ih, gak kebayang banget. Btw, gimana perkembangan hubungan lo sama Kak Ferdi?" tanya Shena. Dia semakin mendekatkan wajahnya di bahu Mila agar Mila bisa mendengarnya.
"Ya, gak gimana-gimana. Gue masih belum bisa move on dari Vicky. Gue cuma temenan sama Kak Ferdi, soalnya Kak Ferdi itu asyik banget kalau diajak ngobrol."
"Ooo, jadi lo belum nyerah sama Kak Vicky?"
"Ya dibilang nyerah sih udah. Tapi hati gue masih aja kecantol." Beberapa saat kemudian Mila menghentikan motornya di tempat parkir rumah sakit. "Lo janjian dimana sama Kak Rey?"
"Sebentar." Shena turun dari motor Mila dan melihat ponselnya. "Kak Rey udah nunggu di pintu masuk."
Kemudian mereka berdua berjalan menuju pintu masuk. Di sana sudah ada Reynan dan Ferdi yang menunggunya.
"Maaf lama, Kak." kata Shena.
"Nggak papa. Ya udah kita langsung ke ruangannya saja. Di ruang VIP nomor lima."
Shena menganggukkan kepalanya lalu berjalan di samping Reynan.
"Mila, kapan kita jalan?" tanya Ferdi.
"Kak Ferdi kan sebentar lagi ujian. Nanti aja setelah Kak Ferdi selesai ujian."
"Oke." Ferdi dan Mila asyik mengobrol.
Sedangkan Shena kini semakin gugup. Apa yang harus dikatakan pada Sky?
Setelah sampai di depan ruangan Sky, mereka menghentikan langkahnya karena hanya ada suster yang sedang merapikan kamar itu.
"Suster, pasien di ruangan ini sudah pulang?" tanya Reynan.
Suster itu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tapi kondisi pasien semakin menurun. Dia dipindahkan ke rumah sakit pusat agar penyakit lambungnya bisa ditangani oleh Dokter Spesialis di sana dengan peralatan yang memadai."
Shena terkejut mendengar hal itu. Benarkah penyakit Sky sampai separah itu?
"Iya, Sus. Terima kasih." Kemudian Reynan menarik tangan Shena agar berjalan mengikutinya. "Mau ke rumah sakit pusat?" tanya Reynan pada Shena.
"Shena?"
"Eh, iya Kak. Aku..." Shena menghentikan perkataannya. Mereka kini masuk ke dalam lift. "Memang separah itu ya sakitnya Sky?"
"Iya. Katanya itu efek dari tendangan Vicky dan Arnav waktu hajar dia dulu. Awalnya saja dia sampai muntah darah berulang kali. Tapi memang dasarnya Sky gak bisa diam, baru sembuh saja dia udah ikut pertandingan renang. Kemarin juga kena alkohol, lambungnya langsung luka lagi."
Shena hanya terdiam sambil mendengarkan cerita Reynan. Jadi memang sampai separah itu.
"Gimana kamu jadi jenguk?"
Shena menggelengkan kepalanya. "Rumah sakit pusat jauh. Nanti saja kalau dia udah sembuh." Sebenarnya Shena juga masih ragu untuk menemui Sky. Tapi di sisi lain dia juga khawatir. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
...***...
Sejak saat itu, Sky sama sekali tidak pernah menemui Shena. Dulu di setiap pagi, Sky selalu datang dan tersenyum padanya meski tak pernah Shena lihat. Selalu memberikan hadiah dan surat permintaan maaf meskipun tak pernah dia terima. Kini semua hanya tinggal kenangan. Sky tidak mungkin lagi menemui Shena.
Shena kini duduk di atas motornya yang baru dibelikan Ayahnya dua hari yang lalu. Dia sudah bersiap berangkat tapi hari masih pagi.
"Masih pagi udah melamun aja," kata Arnav yang kini menaiki motornya.
"Mau berangkat tapi masih pagi," jawab Shena. Dia kini menyandarkan dagunya di stang motor.
"Baru punya motor makanya sok rajin. Aku mau berangkat dulu, ada tambahan pelajaran selama tiga puluh menit sebelum bel masuk."
"Iya, Kak."
Setelah Arnav pergi, barulah Shena melajukan motornya. Entah mengapa dia justru melajukan motornya menuju ke arah sekolah Sky.
"Kenapa aku malah ke sini? Tapi aku penasaran, Sky beneran udah sembuh belum sih. Udah dua minggu berlalu."
Shena memelankan laju motornya saat akan sampai di sekolah Sky. Tak lupa dia tutup kaca helmnya agar tidak ada yang melihatnya. Dia kini melihat gerbang sekolah Sky dan beberapa murid yang masuk.
Murid di sini ratusan, masak iya aku lihatin satu-satu. Bodoh banget aku ke sini.
Baru saja Shena menambah gas, dia terjatuh karena tidak tahu ada lubang di pinggir jalan itu. "Aduh, apes banget."
Shena berusaha berdiri tapi ada seseorang yang meraih motornya dan menepikannya.
"Makasih ya," kata Shena tanpa melihat siapa yang menolongnya. Dia kini membersihkan roknya yang terkena debu. Untunglah jalanan tidak basah hingga debu itu bisa menghilang.
Kemudian Shena melihat punggung tangannya yang terluka. "Yah, luka." Dia mengambil tisu dari tasnya lalu membersihkan tangannya yang kotor dan lecet.
Tapi seseorang yang telah menolongnya itu kini memegang tangan Shena dan menyiramnya dengan air lalu mengeringkannya dengan tisu. Setelah itu dia tempelkan plester yang dia bawa.
Dada Shena berdebar tak karuan saat melihatnya. Dia seolah tak bisa bersuara, bahkan tubuhnya terasa sangat kaku.
"Ma-makasih."
"Hati-hati kalau naik motor." Hanya itu yang dia katakan. Kemudian dia kembali menaiki motornya dan masuk ke dalam sekolahnya.
"Sky..." Shena hanya menatap Sky yang kini telah menghilang masuk ke dalam sekolahnya. Sikap Sky sudah berubah. Sky hanya menatap Shena dingin.
Kemudian Shena menaiki motornya dan melajukan kembali motornya menuju sekolahnya.
💕💕💕
.
Like dan komen ya..