
"Shena, ayo ke kantin," ajak Mila sambil menarik tangan Shena karena Shena masih saja menatap ponselnya. Baru juga beberapa jam dia tidak chat dengan Sky tapi rasanya dia sudah sangat rindu. Tingkat kebucinannya sepertinya sudah semakin bertambah.
"Iya, sebentar." Tak sengaja Shena menoleh ke belakang dan melihat Arion yang masih saja menulis di bukunya. Dia juga melihat Vicky yang mendekati Arion lalu mengajaknya berkenalan.
"Kenalin gue Vicky." Vicky mengulurkan tangannya mengajak Arion berkenalan.
Arion hanya mengangguk sambil membalas jabatan tangan Vicky. Kemudian dia menutup bukunya dan kembali memasukkannya ke dalam tas.
"Kita ke kantin yuk!" ajak Vicky.
"Lo ke kantin aja. Gue mau ambil motor gue, tadi gue tinggal di belakang sekolah karena gerbangnya udah ditutup," kata Arion. Dia kini berdiri dan berjalan mendahului Vicky.
"Ya udah, gue bantu bilang sama Pak Eko biar lo bisa ambil. Kadang Pak Satpam itu gak percaya meskipun cuma ambil bentar." Vicky kini mengikuti langkah Arion menuju ke depan sekolah.
Shena hanya melihat punggung mereka berdua yang kian menjauh. Entahlah, mengapa Shena merasa kasihan dengan Arion karena dari wajah Arion terlihat ada beban yang cukup berat. Arion juga terlihat pucat, sepertinya dia juga sedang sakit.
"Shena, ayo! Lo naksir juga sama Rion." Mila menarik tangan Shena agar keluar dari kelas. "Secara wajahnya sebelas dua belas sama Kak Sky."
"Nggak, gue cuma penasaran aja. Pertama kali gue bertemu Arion itu kerja di kafe taman hiburan, dan ternyata Arion itu juga pernah ditabrak sama Kak Sky. Kebetulan banget kan. Sekarang juga satu sekolah, sekelas lagi."
"Iya. Kok bisa gitu. Kayaknya kalian memang dipertemukan oleh takdir. Tapi takdir apa? Wah, jangan-jangan Rion mau jadi pebinor. Hati-hati lo, sekarang lagi marak pebinor juga," kata Mila lalu dia tertawa dengan keras.
"Ish, jangan punya pikiran yang gak-gak. Lagian gue belum jadi bini orang."
"Belum jadi bini sah, tapi lo sama Kak Sky udah kayak pasutri."
"Nggaklah. Gue sama Kak Sky wajar aja hubungannya. Jangan mikir terlalu jauh."
"Eh, lo belum cerita sama gue pas renang di rumah Kak Sky. Gimana? Kak Sky yang terpancing atau lo yang terpancing."
"Gak ada yang terpancing." Pipi Shena kembali memerah saat mengingat kejadian manis di rumah Sky. "Tapi gue sekarang udah gak ada keraguan lagi."
"Ciee, cepat gih dihalalin." Mereka berdua berjalan menuju kantin dan masih saja asyik mengobrol.
Sedangkan Arion dan Vicky keluar dari sekolah dan berjalan menuju belakang sekolah. Arion menghentikan langkahnya saat melihat Sky masih berada di sana dan sedang memasang casing motor miliknya.
"Ngapain lo!" Arion mendekat dan menarik motornya agar Sky melepas tangannya.
"Gue ganti casing motor lo. Kan gue yang nabrak lo." Sky mengemasi peralatannya lalu dia berdiri.
"Gak perlu!" Arion berusaha melepas kembali casing itu tapi sudah terpasang rapat dan butuh waktu untuk membongkarnya lagi. "Lo kan udah ganti rugi sama gue. Jadi terserah gue, motor gue mau gue benerin atau gak! Mentang-mentang lo kaya, seenaknya aja sentuh motor orang." Akhirnya Arion menaiki motornya dengan Vicky dan kembali masuk ke dalam sekolah.
"Ada masalah apa hidupnya sampai sensitif kayak gitu?" Setelah itu, dia menaiki motornya dan pulang ke rumah karena jam pulang Shena masih lama.
...***...
Arion kini menghentikan motornya di tempat parkir. Dia melihat casing yang baru dipasang oleh Sky. Sepeda motornya terlihat bagus, tapi dia tidak bisa menerima pemberian Sky begitu. Apalagi uang ganti rugi sudah dia terima dan sudah dia pakai.
"Emang ada masalah apa lo sama Sky?" tanya Vicky.
"Oo, cowok itu namanya Sky. Waktu dia mabuk, dia pernah nabrak gue. Dia udah ganti rugi, tapi emang sengaja belum gue ganti casing motor gue." Kemudian Arion berjalan menuju kelas.
"Lo gak ke kantin?" tanya Vicky.
"Nggak." Arion semakin melangkah jenjang menuju kelas.
Sedangkan Vicky kini berjalan menuju kantin. Sudah lama sekali dia tidak mengobrol dengan Shena. Setelah membeli minuman, dia kini duduk di depan Shena dan Mila yang sedang makan bakso.
"Kak Vicky kok sendiri? Kan tadi sama Rion?" tanya Shena.
"Dia balik ke kelas. Gak mau aku ajak. Tadi ada Sky di belakang sekolah." Vicky membuka minumannya lalu meneguknya.
"Kak Sky masih di belakang sekolah, ngapain?" tanya Shena. Dia juga tidak tahu jika Sky masih berada di sana. Sedari tadi dia mengirim pesan pada Sky tapi belum juga dibaca.
Seketika Shena mengambil ponselnya dan menghubungi Sky dengan video. Dia sedikit menjauh dari Vicky dan Mila.
"Astaga, bucin banget Shena sekarang." Vicky kini melihat Mila yang sedang menghabiskan baksonya. "Selamat, lo udah jadian sama Ferdi."
Mila hanya menganggukkan kepalanya. Dia kini meminum esnya hingga habis tapi rasa pedas di lidahnya belum juga hilang. "Minuman Shena habis juga, uang gue udah habis lagi."
Vicky mengambil air mineral lalu membuka tutup sealnya untuk Mila. "Nih!"
Mau tidak mau Mila menerima minuman itu dan segera meneguknya hingga habis. "Makasih ya. Utang dulu, besok gue ganti. Soalnya gue lupa bawa uang lebih."
"Nggak usah. Nggak papa."
Sedangkan Shena belum juga selesai mengobrol dengan Sky. Mereka justru membahas tentang Arion yang semakin membuat mereka berdua penasaran.
"Mimisan? Memang dia sakit?"
"Aku gak tahu."
Sampai berjalan ke kelas, video call mereka masih terhubung.
"Shena, lo benar-benar bucin ya sekarang. Tadi pagi udah ketemu, sekarang vc. Nanti siang kan juga ketemu," kata Mila yang berjalan di samping Shena.
"Lo tuh komen aja. Emang lo sama Kak Ferdi gak ada fase kasmaran?" Shena kini duduk di bangkunya lalu mematikan video callnya.
"Nggak ada."
Shena kini melihat Arion yang sedang menangkupkan kepalanya di atas meja. Sampai bel berbunyi, Arion tak juga menegakkan kepalanya bahkan tak bergerak sama sekali.
"Nih, anak pingsan kah?" tanya Shena pada Mila karena Arion sama sekali tak bergerak.
"Gak tahu."
Shena mencoba menggoyang bahu Arion tapi Arion masih saja tak bergerak. "Rion!"
"Kok gak bangun dia?"
Bahkan teman sebangku Arion juga ikut menepuk bahunya.
Tiba-tiba saja Arion menegakkan dirinya dan menggenggam tangan Shena. Tatapan mata merah Arion begitu dalam menatap Shena. "Jangan pergi, aku mohon..."
Seketika semua semua mata tertuju pada Arion dan Shena. Arion melepas tangan Shena lalu dia berdiri dan berjalan gontai keluar dari kelas.
"Lo sebelumnya kenal sama dia?" tanya teman-teman Shena.
"Nggak. Ya, cuma beberapa kali aja bertemu. Kayaknya barusan dia mengigau." Shena mengernyitkan dahinya, lalu kembali meluruskan pandangannya. Shena masih memikirkan tatapan mata Arion yang penuh luka itu.
Gue semakin penasaran sama Arion. Seperti ada masalah yang berat yang dia tanggung seorang diri.
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya..
Yang nunggu Shena dan Sky nikah, sabar dulu yah.. ðŸ¤
Terus perkembangan Gita sama Arnav, nanti diselesaikan satu-satu. ðŸ¤