
"Maaf, tadi jalan macet," kata Ratna yang kini duduk di dekat Sky.
Sky hanya menatap Ratna sesaat. Meskipun dandanan Ratna sangat mempesona, tidak akan mampu menggoda Sky. Dia justru menyerahkan dua paper bag dari Ratna yang diberikan padanya tadi siang.
"Jangan beri apapun padaku. Aku sudah punya istri."
"Aku cuma mau kasih kamu, sebagai teman."
Sky menggeleng cepat. "Teman bukan seperti ini. Aku sangat menyayangi istri aku di rumah. Kita hanya rekan kerja, harusnya kamu profesional."
"Iya, maaf. Oke, aku gak akan kasih apapun sama kamu."
"Dan satu lagi, aku tidak mau menangani proyek ini. Proyek ini batal."
"Tapi Sky, proyek ini sudah disetujui sama Papa."
"Kalau mau melanjutkan bilang sama Papa kamu, biar proyek ini diurus sama Papa aku sendiri."
Ratna hanya menatap Sky tak percaya. Tingkat kesetiaan Sky benar-benar di atas rata-rata.
"Sekarang aku mau pulang, kalau kamu mau makan silakan." Kemudian Sky berdiri dan berjalan keluar dari restoran itu. Tak peduli lagi dengan Ratna. Dia kini masuk ke dalam mobil dan melihat ponselnya. "Kuota aku habis, jadi gak bisa chat Shena." Sky meletakkan kembali ponselnya di sebelahnya. Kemudian dia segera melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Kebetulan sekali jalanan malam hari itu sangat macet hingga mobilnya berjalan pelan. "Macet banget, padahal aku udah kangen sama Shena dan anak-anak."
Setelah 30 menit, akhirnya jalanan mulai lancar. Beberapa saat kemudian Sky sudah menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Dia masuk ke dalam rumah dan mencari Shena di dalam kamar tapi Shena dan kedua anaknya tidak ada. Bahkan rumah nampak sepi. Saat dia akan menuju ke dapur, dia melihat Shena yang sedang duduk di taman samping rumahnya dengan meja bulat yang lengkap dengan makanan beserta lilin yang romantis.
Sky segera menghampiri Shena tepat saat Shena meniup lilin itu.
"Kak Sky, gak mungkin makan malam di rumah. Aku gak boleh berburuk sangka. Iya, Kak Sky pasti hanya membahas soal pekerjaan."
Sky semakin mendekat dan memeluk Shena dari belakang. "Kenapa ditiup lilinnya?"
Seketika Shena menoleh dan menatap Sky. Dia terkejut saat Sky tiba-tiba ada di belakangnya dan memeluknya. "Kak Sky kapan datang? Aku gak dengar."
"Barusan. Ini buat aku?"
Shena menarik napas panjang lalu menumpuk piring yang masih bersih itu. "Kak Sky sudah makan kan? Biar aku beresin aja."
"Siapa bilang aku sudah makan?" Sky menggeser kursi dan duduk di sebelah Shena. "Aku belum makan."
"Tapi Kak Sky kan baru saja makan malam sama Ratna." Shena menundukkan pandangannya. Dia tidak berani menatap Sky dengan mata nanarnya.
"Aku nggak makan malam." Kemudian Sky menangkup kedua pipi Shena agar Shena mau menatapnya. "Aku memang bertemu dengan Ratna, tapi untuk memutuskan kerjasama itu. Aku tahu dia punya keinginan lain. Aku harus menjauhi wanita yang ingin merusak rumah tangga kita."
"Kak Sky..." Kedua mata Shena semakin berkaca-kaca mendengar kalimat Sky.
"Udah jangan nangis." Sky kini memeluk Shena. "Wanita yang aku cintai itu cuma kamu."
"Aku juga cinta sama Kak Sky." Shena semakin mengeratkan pelukannya. Rasa ragu yang sempat menyelimuti hatinya seketika menghilang.
"Malam ini kamu cantik sekali. Si kembar juga dimana? Sepi."
Shena melepas pelukannya. "Ara sama Ibu dan Ares sama Mama. Aku sengaja siapin ini semua buat Kak Sky. Aku mau menghabiskan malam ini berdua sama Kak Sky. Ya, sebagai seorang istri aku juga takut Kak Sky tergoda sama pelakor."
Sky tersenyum kecil lalu dia mencium bibir Shena. Meski hanya sesaat tapi ciuman itu terasa menggairahkan. "Kita makan dulu. Aku udah lapar banget."
Sky kembali menyalakan lilin itu untuk menambah kesan romantis lalu dia mengambil makanan untuk Shena dan juga untuknya. "Harusnya aku yang buat kayak gini sama kamu. Udah lama aku gak romantis sama kamu."
"Gak papa. Sejak si kembar lahir, aku malah gak pernah perhatian sama Kak Sky."
Shena tersenyum kecil sambil menerima suapan dari Sky. Akhirnya makan malam romantis itu terwujud. Setelah semua makanan habis, Sky membuka dua kancing atas kemejanya karena terasa gerah meskipun di taman yang terbuka.
"Jadi kita akan nikmati malam ini berdua?" Sky semakin mendekat lalu mengusap pa ha Shena yang terlihat mulus itu.
Shena hanya mengangguk kecil. Entah kenapa dadanya berdebar tak karuan padahal ini bukan yang pertama baginya.
"Makasih ya, kamu sudah takut kehilangan aku. Aku ngerti, kamu melakukan ini agar aku tidak tergoda wanita lain. Shena, aku gak mungkin tergoda wanita lain. Berapa kali aku bilang sama kamu, kamu wanita satu-satunya dalam hidup aku yang aku cintai."
"Tapi tetap saja Kak, aku takut. Diluar sana banyak wanita yang lebih cantik dan pintar dari aku. Sedangkan aku cuma mengurus anak di rumah dan kuliah. Aku gak sebanding jika dibandingkan dengan Ratna atau yang lainnya."
Sky kembali memeluk Shena. "Kamu itu sempurna. Jangan bandingkan diri kamu dengan orang lain. Hilangkan pikiran buruk kamu agar hidup kamu lebih tenang dan satu lagi, kita harus saling percaya."
Shena menganggukkan kepalanya lalu dia mendongak dan mencium bibir Sky.
Sky semakin menahan tengkuk leher Shena. Dia membalas ciuman itu dengan penuh gairah. Satu tangannya kembali mengusap pa ha Shena lalu semakin ke atas dan memberi sensasi pada Shena.
"Kak Sky..." Shena melenguh kecil. Pipinya sudah bersemu merah karena sentuhan Sky.
"Kita lanjut di kamar saja." Kemudian Sky menggendong Shena ala bridal style dan membawanya ke kamar. Setelah menutup pintu, Sky menjatuhkan tubuh Shena di atas ranjang. Dia membuka kemejanya lalu merangkak di atas tubuh Shena.
"Mau berapa ronde malam ini?" tanya Sky sambil membuka cardigan Shena.
"Sepuasnya."
"Oke, aku turuti sampai pagi."
Mereka sama-sama tertawa lalu Sky mendekatkan dirinya dan mengendus leher Shena. Perlahan ciuman itu semakin ke bawah dan berhenti di bulatan yang terlihat keluar dari gaun Shena. Sky menghisapnya hingga meninggalkan beberapa jejak di sana.
Satu tangan Shena semakin mengacak rambut Sky sedangkan satu tangannya mengusap perut Sky dan semakin ke bawah.
"Sayang, mau langsung atau foreplay dulu?" tanya Sky sambil mendongak menatap Shena. Napas mereka sudah sama-sama berat.
Belum juga Shena menjawab, ada panggilan masuk di ponsel Shena. Sky segera mengambilnya. "Mama vc." Kemudian Sky mengangkat panggilan video itu.
"Sky, maaf Mama ganggu. Duh, kamu gak pakai baju gitu. Ini Ares nangis terus."
"Papa... Mama..."
Seketika Shena melihat layar ponselnya. "Ares mau pulang? Mama jemput ya?"
"Tidak usah, biar Mama antar saja. Kasihan kalau nangis terus. Tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, Ma."
"Ya udah, Mama antar sekarang."
Setelah panggilan berakhir, berganti Ibunya Shena yang menghubungi. Di sana Adara juga menangis ingin pulang.
Sky dan Shena hanya tertawa. "Si kembar posesif, gak mungkin mau menginap di rumah oma."
"Iya, ya udah kita tunda dulu saja."
"No, sebelum mereka sampai di rumah, gas dulu sebentar." Sky kembali menindih tubuh Shena. Mereka berdua memanfaatkan waktu yang singkat itu dengan maksimal.
💞💞💞
Like dan komen ya... ðŸ¤