Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 60



"Apa yang Ayah lakukan?!"


Arsen sangat terkejut melihat putrinya muncul dari bawah meja. Seketika dia mendorong Reva agar menjauh. "Shena, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Kenapa Ayah balik bertanya?" Kemudian Shena menatap Reva, wanita yang muda dan sangat cantik itu. "Siapa dia, Ayah?"


"Reva, sekretaris Ayah."


"Sekretaris tapi dekat banget, sampai jatuh ke pangkuan juga."


"Shena, itu gak sengaja."


Shena semakin merasa kesal. Dia benar-benar tidak rela jika Ayahnya bersama wanita lain. "Shena aja yang liat sakit hati, bagaimana dengan Ibu kalau tahu masalah ini." Shena menghentakkan kakinya lalu dia membalikkan badannya dan berlari keluar dari ruangan Ayahnya.


"Shena, tunggu!" Arsen mengejar langkah kaki putrinya tapi putrinya sudah masuk ke dalam lift dan sudah turun ke bawah. Dalam hal berlari putrinya yang satu itu memang sangat cepat.


Arsen memukul pintu lift itu lalu menekannya berulang agar segera terbuka. "Shena, jangan sampai kesalahpahaman ini berlanjut dan membuat Naya marah."


Setelah pintu itu terbuka, Arsen masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar. Arsen segera berlari setelah pintu lift terbuka. Dia melihat Shena yang sudah pergi bersama Sky.


"Shena!" Arsen mengambil ponselnya dan mengirim chat pada Shena sambil berjalan kembali ke kantornya.


Sedangkan Shena yang kini sedang berada di boncengan Sky masih saja menangis.


"Shena, udah jangan nangis," kata Sky.


"Kak Sky, aku aja yang lihat sakit hati bagaimana dengan Ibu."


"Kita jadi ke rumah sakit atau pulang?"


"Aku mau curhat sama Kak Sky, cari tempat yang enak buat curhat."


"Ya udah, kita ke basecamp saja. Nanti biar aku usir anak-anak." Sky melajukan motornya menuju basecamp langit. Ya, meskipun dia sudah bukan ketua geng motor, tapi terkadang dia masih berkumpul di basecamp itu.


Beberapa saat kemudian, Sky menghentikan motornya di depan basecamp. Setelah turun dari motor, mereka berdua masuk ke dalam basecamp. "Kalian di bawah aja, gue mau ke atas sama Shena." Sky menggandeng tangan Shena menaiki tangga.


Shena mengedarkan pandangannya, basecamp Sky sangat rapi dan bersih. Di lantai dua ada ruangan terbuka dan ada ring basket juga. Ada kursi santai juga untuk menikmati pemandangan kota dari atas.


"Enak juga basecamp Kak Sky, rapi dan bersih. Di sini juga enak buat bersantai."


"Iya, aku ubah selama satu tahun ini. Sekarang jadi nyaman dan seperti rumah keluarga. Aku juga sering di atas sini untuk menikmati angin malam. Rion juga betah di basecamp, malah dia yang rajin bersihin tiap hari, makanya semakin terlihat rapi dan bersih."


Shena kini mengambil ponselnya yang terus bergetar. Dia me-reject panggilan dari Ayahnya dan hanya membaca pesan dari Ayahnya. Lalu dia mengirim pesan pada Arnav. Beberapa saat kemudian Arnav meneleponnya.


"Halo Kak... Iya, aku lihat wanita itu, dia juga buat janji sama Ayah nanti malam. Mereka sangat dekat, bahkan tadi saja wanita itu sempat terjatuh di pangkuan Ayah. Aku kecewa sama Ayah... Aku sekarang sama Kak Sky. Aku mau pulang nanti aja." Kemudian Shena mematikan panggilannya.


"Shena, kenapa kamu gak bicara baik-baik dulu sama Ayah kamu?" Satu tangan Sky kini merengkuh bahu Shena. Dia akan mencoba memberi masukan yang positif pada Shena.


"Kak, aku aja sakit hati lihat Ayah. Bagaimana dengan Ibu? Aku gak mau Ibu sakit hati."


"Iya, aku mengerti. Tapi apa yang ada dipikiran orang dewasa itu berbeda dengan kita. Gini, suatu saat nanti kamu pasti juga akan melalui masa-masa seperti ini. Ketika kamu sudah punya suami dan suami kamu harus berkomunikasi dengan dunia luas, karyawan atau relasi kerja, termasuk wanita cantik atau bahkan ada tipe wanita yang memang penggoda, kamu tidak boleh asal tuduh atau cemburu. Semua harus dibicarakan baik-baik."


"Iya, tapi gak harus dekat banget gitu. Kalau wanita itu memang beneran penggoda gimana?"


"Kalau Ayah kamu setia, Ayah kamu gak mungkin tergoda. Dia pasti akan bertindak tegas. Aku yakin semua pria tidak ingin menyakiti wanita yang dicintainya. Hanya saja cara penyampaian mereka berbeda, termasuk aku."


"Nanti sampai rumah bicarakan masalah ini baik-baik sama Ayah kamu. Kamu sudah mulai dewasa, jangan mendahulukan emosi kamu. Kasihan Ibu kamu kalau sampai sakit hati karena kesalahpahaman ini."


Shena hanya terdiam dan semakin memeluk Sky. "Tapi kalau Ayah beneran selingkuh?"


"Biarkan orang tua kamu yang memutuskan, sebisa mungkin kamu jangan ikut campur."


Tiba-tiba saja Sky tersenyum, dia kini mengusap rambut Shena yang berantakan. "Berarti aku harus hati-hati, kamu cemburuan banget gini."


"Emang Kak Sky ada niat untuk selingkuh?"


"Nggak mungkin ada. Sini, aku kasih tahu." Sky melepas tangannya lalu memegang kedua bahu Shena. "Kunci dari sebuah hubungan itu adalah kepercayaan. Baik aku ataupun kamu tidak bisa saling mengekang, karena kita makhluk sosial. Selama kita tahu batasan, kita tidak perlu saling cemburu."


"Iya, aku belum bisa berpikiran tenang seperti itu."


"Tidak apa-apa. Proses kedewasaan orang memang beda-beda. Sekarang jangan sedih lagi, ayo aku antar pulang dan kamu bicara sama Ayah kamu."


Shena masih saja menggelengkan kepalanya. "Aku mau lihat bintang di sini sampai malam."


"Tapi nanti Ayah kamu marah."


"Biarin."


"Astaga." Sky menggaruk rambutnya karena nasihatnya yang panjang lebar pada Shena ternyata tak juga mengubah pola pikir Shena. "Ya sudah, aku beliin makanan dulu. Kamu pasti lapar."


"Banget."


Kemudian Sky berdiri dan kembali turun ke bawah.


...***...


Saat hari sudah gelap, Shena baru pulang ke rumah. Dia juga janjian dengan Arnav sehingga mereka pulang secara bersamaan. Shena menyuruh Sky langsung pulang agar tidak kena marah Ayahnya karena Ayahnya kini menunggu kedatangan mereka berdua di teras rumah.


Kedua kakak beradik itu berjalan mendekati Ayahnya.


"Kenapa kalian jam segini baru pulang?"


"Bukankah Ayah juga sudah punya janji dengan wanita itu." Shena akan berjalan masuk ke dalam rumah tapi ditahan oleh Ayahnya.


"Shena, semua tidak seperti yang kamu dengar dan kamu lihat. Reva itu hanya sekretaris Ayah."


"Tapi aku juga lihat Ayah makan siang berdua dengan wanita itu," kata Arnav.


"Arnav, Ayah siang itu bertemu dengan klien di restoran."


"Tapi wanita itu caper sama Ayah, kenapa bisa jatuh di pangkuan Ayah juga. Ayah gak menolak dan gak marah." Shena masih menatap kesal Ayahnya. Kedua kakak beradik itu benar-benar memiliki karakter yang sama.


Tak disangka apa yang mereka tuduhkan didengar oleh Ibu Naya. "Kalian bicara apa? Siapa wanita yang dimaksud?"


💞💞💞


Like dan komen ya...