
Perlahan kedua wajah itu saling mendekat, dan semakin mendekat.
"Kalian sudah selesai berenangnya?"
Seketika Sky melepas pelukannya dan mereka berdua saling menjauh. Wajah Shena semakin memerah. Rasanya dia ingin menghilang saja dari tempat itu saat Mamanya Sky mendekat dan melihat kedekatannya dengan Sky itu.
"Maaf, Mama ganggu ya. Mama ke kamar dulu." Bu Ida membalikkan badannya.
"Tidak, Ma. Ini sudah selesai. Shena mau ke kamar mandi." Shena berjalan menuju kamar mandi sambil menundukkan pandangannya karena merasa malu.
Sky hanya menggaruk kepalanya lalu mendekati Mamanya. "Ma, pinjam hair dryer buat Shena."
"Iya, aku taruh kamar kamu ya."
"Loh, ngapain di kamar aku. Di kamar Mama aja atau di ruang tengah."
"Sky, Papa kamu baru pulang dan baru masuk kamar. Gak papa, pintunya kamu buka aja. Nanti itu juga jadi kamar kalian berdua kan." Bu Ida tersenyum kecil lalu mendahului langkah Sky. Rasanya dia tidak sabar mempunyai seorang anak mantu.
Sky hanya menghela napas panjang lalu dia berjalan menuju kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia membasuh tubuhnya sesaat. Setelah itu dia memakai pakaiannya lalu menyisir rambutnya di depan cermin.
"Di sini saja gak papa." Bu Ida menarik tangan Shena agar masuk ke dalam kamar Sky. "Nih, ada colokan di dekat cermin." Setelah menghidupkan hair dryer itu, Bu Ida keluar dari kamar Sky.
Shena hanya tersenyum malu. Dia sangat canggung berada di kamar Sky seperti ini.
"Aku keluar saja. Ini sisirnya tapi di sini gak ada make up."
Shena semakin tertawa. "Kak Sky bisa aja." Kemudian dia duduk di depan cermin dan menyisir rambutnya.
Saat akan melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba hatinya menyuruhnya kembali. Dia kini berdiri di belakang Shena dan mengambil hair dryer lalu membantu Shena mengeringkan rambutnya.
"Training jadi pegawai salon dulu," kata Sky sambil tertawa kecil. Sesekali dia menjurai rambut Shena agar cepat kering.
Lagi-lagi Shena dibuat gerogi oleh perlakuan manis Sky. Dia melihat Sky yang sedang mengeringkan rambutnya dari cermin. Dia jadi mengandai-andai jika suatu saat nanti dia sudah menjadi istri Sky, apa Sky masih bersikap manis seperti ini atau semakin manis. Membayangkannya saja sudah membuat pipinya terasa panas.
"Kak Sky, ini pertama kalinya aku ke kamar cowok selain kamar Kak Arnav."
"Iya, kamar aku berantakan ya."
"Ini rapi. Masih berantakan punya aku." Shena menertawakan dirinya sendiri karena kamarnya memang sering kali berantakan. Terkadang sudah dia rapikan tapi hanya sesaat lalu berantakan lagi.
"Lebih rapi lagi kamarnya Gala. Dia sangat rajin dan perfectsionis dalam segala hal."
Shena jadi teringat lagi dengan Gala. Dia tidak pernah menyangka Gala akan pergi secepat ini. "Kak Sky pasti sangat kehilangan Kak Gala ya?"
Sky mematikan hair dryer itu karena rambut Shena telah kering, lalu dia duduk di samping Shena. "Iya. Kalau aku ingat kepergian Gala, aku jadi ingat kesalahanku sama kamu. Maafkan aku ya, Shena. Bahkan aku juga tega membunuh darah daging aku sendiri." Sky menghela napas panjang lalu mengalihkan pandangannya dari Shena. Dadanya terasa sesak lagi jika mengingat hal itu.
"Gak usah diingat-ingat lagi, Kak. Yang penting sekarang Kak Sky sudah benar-benar berubah dan memperbaikinya."
Sky kini menatap Shena. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Shena. "Aku pasti akan selalu berusaha membahagiakan kamu."
...***...
Di rumah kayu itu, Vicky duduk seorang diri sambil melamun. Bayangan Shena waktu kecil silih berganti di benaknya.
"Kak Vicky, aku mau gambar kelinci di sini."
Sky tersenyum melihat gambar kelinci yang sampai sekarang masih ada di dinding kayu itu.
"Waktu cepat sekali berlalu. Seperti baru kemarin kita bermain bersama di sini. Sekarang kamu sudah punya kehidupan sendiri, dan kita tidak mungkin bisa bersama lagi. Bahkan untuk sekedar berbicara saja sudah jarang sekali. Sepertinya kamu memang sengaja menghindar dari aku."
Sejak pertama libur sekolah sampai saat ini, dia sama sekali tidak bertemu dengan Shena. Saat Arnav mengajaknya berlibur, dia juga menolaknya karena dia masih tidak bisa melihat Sky dan Shena bersama.
Vicky kini keluar dari rumah kayu itu lalu berjalan menuju rumahnya. Wajahnya yang kusut itu disambut oleh kejutan dari adiknya.
Vicky hanya melirik Verly. Adik perempuan satu-satunya Vicky yang masih duduk di SMP itu seringkali mengganggunya.
"Kak, anterin ke toko buku," ajak Verli.
"Berangkat sendiri aja. Aku lagi males."
Tapi Verly justru menarik tangan Vicky agar keluar dari rumah. "Ayolah, Kak. Papa lagi sibuk, Mama juga. Kalau Kakak gak mau, aku bilang sama Papa. Kakak nih kalau diajak Kak Shena aja langsung berangkat, tapi kalau aku yang ajak nanti-nanti terus."
"Iya-iya, bawel! Bentar, gue mau ambil jaket dulu " Vicky kembali masuk ke dalam rumahnya.
Setelah keluar dari rumah, dia menaiki motornya lalu membonceng adiknya menuju toko buku.
Tak ada percakapan di antara mereka sampai Vicky menghentikan motornya di depan toko buku. Kemudian mereka masuk ke dalam toko buku itu.
"Kamu pilih aja sendiri. Aku tunggu sambil duduk."
"Duh, Kak Vicky aku ajak tuh biar ada yang kasih pendapat." Lagi-lagi Verly menarik tangan Kakaknya agar mengikutinya. Dia memilih buku-buku pelajarannya yang selalu dijawab terserah oleh Vicky.
"Percuma ya ajak Kak Vicky, tahu gitu ajak pacar aku aja," dumel Verly.
"Masih kecil gak boleh pacaran. Lagian kamu gak mungkin boleh keluar sama cowok."
Verly hanya menggerakkan bibirnya seiring omelan Vicky.
"Verly..."
Panggilan itu membuat Verly tersenyum. "Kak Mila." Verly langsung mendekati Mila yang sedang berjalan bersama Ferdi. "Kak, temani aku pilih buku ya."
"Oke. Verly sekarang sudah naik kelas delapan ya." Mila yang pernah bertemu beberapa kali dengan Verly saat di acara keluarga Shena, tentu saja mengenalnya.
Mereka berdua kini memilih buku sambil mengobrol bahkan sesekali tertawa kecil.
Jauh di belakang mereka ada Vicky dan Ferdi yang sama-sama melipat tangan mereka.
"Jangan ganggu Mila lagi, gue udah jadian sama dia," kata Ferdi.
Meskipun sangat terkejut tapi Vicky tak berkomentar apapun. Dia masih mengikuti langkah adiknya dari kejauhan.
"Lo pasti akan menyesal sudah sia-siain cewek kayak Mila."
Vicky masih saja tak membalas perkataan Ferdi. Hatinya sedang tak baik-baik saja, dia tidak sempat memikirkan perasaan lain.
"Kak Mila masih suka gak sama kakak?" tanya Verly.
Mila hanya tersenyum kecil.
"Kak Vicky lagi galau soalnya Kak Shena udah gak pernah main sama Kak Vicky. Kalau Kak Mila sama Kak Vicky, aku pasti senang."
"Verly..." panggil Vicky yang mendengar obrolan mereka. "Kak Mila sudah punya pacar. Kamu jangan ikut campur masalah aku. Kalau udah cepat bayar terus pulang. Aku tunggu di depan." Kemudian Vicky pergi meninggalkan mereka.
"Yah, ternyata Kak Mila udah punya pacar."
Mila hanya terdiam sambil menatap Ferdi yang berada jauh darinya. Pasti Ferdi yang menceritakan pada Vicky. Setengah hatinya masih saja diisi oleh Vicky. Entah sampai kapan perasaan itu akan hilang sepenuhnya...
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...