
Setelah dua minggu libur sekolah, hari itu adalah hari pertama Shena bersekolah. Tentu saja rasa malas itu menyerangnya tapi berhasil diberi semangat oleh Sky dengan pesan manis di pagi hari lewat chat whatsapp-nya. Ya, semakin hari rasanya dia semakin menjadi bucin pada Sky.
Selesai sarapan, Shena berpamitan pada Ibunya. "Ibu, Shena berangkat dulu."
"Shena, kamu berangkat sama Sky?" tanya Naya. Dia bisa melihat binar cinta dari kedua mata putrinya.
"Iya, Ibu. Gak papa kan? Nanti pulang sekolah juga dijemput Kak Sky."
"Iya gak papa. Tapi langsung pulang ya." Naya mencium kedua pipi Shena. "Makin bucin aja sama Sky."
Shena hanya tersenyum lalu dia keluar dari rumah dan menunggu Sky di teras rumahnya.
Beberapa saat kemudian Sky datang. Shena tersenyum kecil lalu menghampirinya. Di hari pertama masuk sekolah, dia malas berkendara sendiri karena biasanya jalanan sangat macet. Di samping itu, dia juga ingin bertemu Sky meski hanya berada di boncengannya tapi itu sudah membuatnya bahagia.
"Shena, kalau motornya gak dipake, Ayah jual lagi ya," goda Arsen saat berjalan menuju mobilnya.
Sky turun dari motornya lalu bersalaman dengan Arsen terlebih dahulu sebelum mereka berangkat.
"Ih, Ayah. Besok aku pakai. Beberapa hari lagi Kak Sky juga sudah mulai kuliah." Shena juga mencium punggung tangan Ayahnya.
"Ya udah hati-hati. Jangan ngebut," pesan Arsen.
"Iya, Om." Setelah memakai helm, mereka berdua naik ke atas motor. Tak butuh waktu lama motor Sky melaju menuju sekolah Shena. Sky sengaja memilih jalan memutar agar tidak terjebak macet, tapi ternyata pilihannya salah. Jalan yang dia lalui justru sangat macet dan motornya sama sekali tidak bisa bergerak.
"Shena, maaf, ternyata jalannya macet banget," kata Sky. Dia sudah berusaha menyalip tapi kendaraan lain juga tidak mau mengalah.
Beberapa kali Shena melihat jam tangannya saat motor Sky hanya berjalan seperti siput. "Aduh, gimana kalau telat nih. Hari pertama masuk lagi."
"Lewat belakang sekolah aja kalau memang gerbangnya sudah ditutup."
"Aku gak bisa lompat pagar. Emang sih banyak yang lewat sana kalau telat atau bolos."
"Nanti aku bantu." Setelah kemacetan berlalu, Sky menambah laju motornya. Benar saja, gerbang sekolah Shena baru saja ditutup. Sky memutar motornya menuju belakang sekolah Shena.
Seperti belakang sekolah pada umumnya, di belakang selalu saja ada alat untuk naik ke atas tembok. Di sana ada beberapa bangku yang rusak dan sepertinya ada beberapa murid yang baru saja melompat.
"Kak Sky, aku takut," kata Shena setelah turun dari motor Sky. Dia menatap tembok setinggi hampir dua meter itu.
"Gak papa, aku bantu. Ayo."
Shena akhirnya naik ke salah satu bangku yang bersusun itu dengan bantuan Sky hingga akhirnya Shena berada di atas tembok.
"Lompat aja, gak papa. Gak terlalu tinggi." Sky ikut naik dan menahan Shena.
Tapi Shena justru tertawa. "Ini pengalaman pertama aku kayak gini, dibantu Kak Sky lagi."
"Mau sekolah atau bolos aja nih."
"Masuklah. Aku gak pernah bolos. Lebih baik datang terlambat daripada gak masuk."
"Ya udah, hati-hati lompatnya."
Saat Shena bersiap melompat tiba-tiba ada seseorang yang melompat dengan kencang hingga membuat Shena ikut terjatuh.
"Shena!" Sky akan manarik tangan Shena tapi gagal.
Untunglah pria itu menahan tubuh Shena hingga Shena tidak jatuh ke tanah.
"Shena kamu gak papa kan?" tanya Sky.
Shena menatap pria itu. Ya, lagi-lagi dia bertemu dengan Arion. Sejak kapan Arion juga bersekolah di sekolah Shena?
"Lo?" Arion melihat Shena lalu mendongak ke atas dan melihat Sky. "Dunia sangat sempit." Arion membenarkan tasnya lalu berjalan mendahului Shena.
"Kalian berdua terlambat dan lompat pagar! Ikut Bapak!"
Seketika Shena menyuruh Sky segera pergi dengan kode tangannya.
Sky akhirnya turun dari tumpukan bangku itu. Dia melihat sebuah motor tanpa casing depan. "Ini kan motor yang aku tabrak. Berarti ini milik cowok itu. Kenapa belum diperbaiki gini?"
Sky mencoba menghidupkan mesin itu dengan kabel yang terlihat di dekat mesin. "Tuh kan bisa hidup. Meskipun motor lama tapi masih ada hargaya."
Sky merasa iba melihat motor yang lumayan tua itu dan sudah tidak ada casing di bagian depannya. Kemudian dia menghubungi seseorang agar datang ke tempatnya.
Sedangkan Shena dan Arion kini berdiri di barisan yang berbeda selama upacara berlangsung. Terik matahari semakin menyengat yang membuat Shena mengusap keringatnya berulang kali.
Sampai upacara selesai, Shena dan beberapa murid yang terlambat lainnya tetap berdiri di lapangan hingga jam pelajaran pertama berakhir.
"Kamu siswa baru kan? Yang kemarin datang bersama Pak Diki."
Arion menganggukkan kepalanya. "Iya Pak, maaf saya terlambat karena motor saya mogok."
"Lain kali jangan diulangi lagi. Kalian semua boleh kembali ke kelas."
Shena menghela napas panjang, akhirnya dia bisa duduk di dalam kelas. Dia berjalan tak jauh dari Arion. Ternyata Arion adalah murid baru di sekolahnya. Pantaslah Shena tidak pernah bertemu sebelumnya di sekolah.
Tak sengaja Shena kini menatap Arion. "Lo mimisan!"
Mendengar hal itu, seketika Arion menutup hidungnya dan berlari ke toilet.
"Tuh cowok kenapa?" Shena mengernyitkan dahinya menatap punggung Arion yang kini telah menghilang. Kemudian Shena berjalan menuju kelas barunya yaitu kelas dua belas.
"Shena, lo kok bisa telat sih!" Mila menarik tangan Shena agar segera duduk di sampingnya.
"Iya, tadi Kak Sky lewat jalan memutar gak tahunya malah kena macet parah."
Mila mencebikkan bibirnya. "Alasan aja kena macet, padahal sengaja mau pacaran dulu."
"Ya dua-duanya sih. Pak Rudi memang kebangetan, udah tahu hari pertama pakai dihukum segala. Kasih kek toleransi padahal cuma telat tiga menit. Mana langsung pelajaran lagi." Shena mengambil botol minumnya terlebih dahulu karena tenggorokannya terasa kering. Setelah minum habis setengah botol, dia kini mengeluarkan buku mata pelajaran yang kedua.
Beberapa saat kemudian Bu Wiwik, selaku wali kelas Shena masuk ke dalam kelas bersama seseorang.
"Dia lagi?" Shena tak habis pikir mengapa dia bertemu dengan Arion berulang kali seperti ini.
"Lo kenal?" tanya Mila sambil berbisik.
"Nggak sih, gue beberapa kali aja bertemu dan selalu di kejadian yang tak terduga."
"Hari ini kalian kedatangan taman baru. Dia pindahan dari SMA Negeri 6. Perkenalkan diri kamu."
"Nama saya Arion." Hanya itu yang dikatakan Arion. Wajahnya memang tampan, tapi dia terlihat sangat dingin.
"Ya sudah kamu duduk di bangku yang kosong."
Kebetulan sekali bangku yang kosong berada tepat di belakang Shena. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Sebenarnya takdir apa yang selalu mempertemukan mereka berdua?
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...