
"Shena kamu sudah sadar?"
Pandangan mata Shena kini melihat Sky yang berdiri dengan susah payah. Satu tangan Sky juga menutup mulutnya.
"Sky!" Ida masuk ke dalam ruangan itu lalu menahan tubuh Sky. Dia membuka tangan Sky yang menutupi bibirnya. "Astaga Sky, kamu muntah darah lagi."
Arnav hanya menoleh Sky.
"Apa yang kamu lakukan sama Sky? Kamu mau membunuh Sky juga? Sudah cukup kamu menghajar Sky kemarin, masih belum puas?" Ida kembali menangis, karena Dokter sudah mewanti agar tidak terjadi benturan lagi di perut Sky.
"Mama, sudah. Aku gak papa," kata Sky. Dia berpegangan pada lengan Mamanya untuk menahan tubuhnya.
"Shena, akhirnya kamu sadar." Seketika Naya memeluk tubuh putrinya.
"Arnav, kapan kamu masuk? Ayah yang mengizinkan Sky bertemu dengan Shena," kata Arsen. Dia dan Naya memang ke kantin rumah sakit untuk membeli minuman hangat dan sedikit mengobrol dengan Mamanya Sky.
"Tapi aku gak mau dia bertemu dengan Shena lagi." Arnav masih tidak bisa memaafkan Sky.
"Shena, aku..." Sky ingin berbicara dengan Shena tapi Shena membuang pandangannya.
"Gue gak mau lihat lo!"
"Lo dengar kan! Shena gak mau lihat lo!"
Sky hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia berjalan perlahan dengan bantuan Mamanya.
"Sky, kamu istirahat di kamar saja. Jangan banyak gerak dulu. Biar kamu cepat pulih."
Sky hanya mengangguk kecil. Sesekali dia menoleh Shena, hingga akhirnya dia keluar dari pintu itu.
Arsen segera memanggil Dokter agar memeriksa putrinya. Setengah beban di hatinya kini telah hilang melihat Shena yang telah membuka kedua matanya.
Setelah Dokter selesai memeriksa, kedua orang tua Shena dan Arnav berkumpul di dekat brankar Shena.
"Ibu, maafin Shena ya. Ibu jadi sedih gara-gara Shena."
"Shena, Ibu tidak apa-apa. Lain kali kalau ada masalah, cerita sama Ibu. Jangan dipendam sendiri seperti ini," kata Naya sambil mengusap rambut putrinya.
Shena mengangguk pelan. "Siapa yang bawa Shena ke rumah sakit?"
"Sky yang bawa kamu ke rumah sakit," kata Arnav. "Shena, pokoknya kamu harus menuntut Sky, biar dia dihukum seberat-beratnya."
Shena hanya terdiam. Dia teringat lagi dengan mimpinya. Mengapa Sky yang memanggilnya untuk kembali ke dunia? Mengapa bukan kedua orang tuanya? Pertanda apa sebenarnya?
"Apa Kak Arnav sudah punya bukti bahwa Kak Arnav tidak bersalah?" tanya Shena.
Naya hanya menyimak pembicaraan mereka sambil mengusap rambut Shena. Barusan dia juga sudah mengobrol banyak dengan Mamanya Sky. Mendengar cerita menyedihkan itu, dia jadi tidak tega jika harus memisahkan Sky dan Mamanya jika memang Sky dicebloskan ke penjara. Dia memang kasihan dengan Shena, tapi dia melihat sendiri bagaimana menyesalnya Sky ketika tahu kebenarannya.
"Udah. Sky udah melihat video yang menunjukkan kalau temannya sendiri yang menabrak Gala. Temannya sendiri yang berkhianat pada Sky. Makanya Sky nyariin kamu, tapi semua sudah terlambat. Kamu jangan tersentuh sama penyesalan Sky. Kesalahan dia sangat fatal, jangan pernah kamu maafkan dia," kata Arnav. Emosinya masih sangat menggebu.
"Aku gak akan maafkan dia dan aku juga gak mau lagi bertemu dengan dia. Tapi aku gak mau nuntut dia," kata Shena.
"Shena, kamu serius? Setelah apa yang dia lakukan sama kamu, kamu gak mau masukin dia ke penjara?" Arnav tidak percaya dengan keputusan adiknya itu. Dia saja rasanya masih sangat dendam dengan Sky.
Shena menganggukkan kepalanya pelan. "Biarkan dia mendapat balasannya sendiri." Kemudian Shena menatap Ibunya. "Ibu, Shena haus."
"Iya." Naya mengambil segelas air hangat untuk Shena, lalu membantunya minum. "Setelah ini makan ya."
"Biarkan dia merasakan apa yang Shena rasakan."
"Iya Ayah mengerti. Tapi meskipun Sky mati pun tidak akan mengubah kondisi adik kamu. Biarkan Sky menebus kesalahannya pada Shena. Siapa tahu Shena memang sudah jatuh cinta sama Sky."
"Ayah, itu gak mungkin!"
"Semua bisa saja terjadi. Keluarga Sky itu sangat baik. Ayah juga bisa melihat penyesalan Sky. Kita beri satu kesempatan pada Sky. Jika memang Sky menyakiti Shena lagi, Ayah jadi orang pertama yang akan menghukum Sky."
Arnav hanya melipat tangannya sambil bersandar di sofa.
...***...
"Sky kenapa?" Ida menyentuh kening Sky yang terasa panas. "Kamu demam? Ada yang sakit?"
Sky hanya menggelengkan kepalanya. Dia berusaha menahan rasa sakitnya sendiri. Seluruh badannya dari ujung kaki sampai kepala terasa sangat sakit.
Kemudian dia memejamkan matanya. Entah mengapa badannya terasa melayang, dia mendengar suara Mamanya yang terus memanggil namanya tapi kedua matanya tidak bisa terbuka.
"Sky!" Melihat kondisi Sky yang semakin menurun, Alex segera memanggil Dokter.
"Pa, Sky kenapa?" Ida semakin menangis melihat kondisi Sky saat ini. Dia sangat takut kehilangan Sky dalam hidupnya.
Dokter segera memeriksa kondisi Sky dan menyuntik beberapa obat. "Besok kita lakukan rontgen lagi, untuk memastikan luka dalamnya."
"Iya, Dok."
"Jika putra Bapak muntah lagi, tolong segera panggil Dokter."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah Dokter keluar dari ruangan, Ida duduk di dekat brankar Sky sambil mengusap rambutnya.
"Sky, cepat sembuh." Ida mengusap rambut putranya yang masih memejamkan mata itu.
Alex menghela napas panjang sambil menatap putranya yang terbaring lemah. Selama ini dia memang terlalu sering memarahi Sky. "Ma, aku menyesal selama ini sering memarahi Sky. Harusnya aku bisa lebih adil. Harusnya aku bisa lebih membimbing Sky agar dia tidak salah jalan seperti ini."
"Mama sudah bilang berulang kali sama Papa. Sky itu butuh perhatian Papa juga. Bahkan dia berhenti mengikuti semua pertandingan renang hanya karena Papa tidak datang di pertandingannya yang terakhir. Padahal Sky menang di lomba antar provinsi itu."
Alex menghela napas panjang. "Iya, ini salah Papa. Papa melakukan ini karena memang sayang sama Gala. Sejak lahir Gala menderita AJB. Papa takut sekali penyakit jantung Gala kambuh."
"Iya, Mama juga takut. Tapi sebisa mungkin Mama juga memberi perhatian pada Sky karena Mama tahu, Sky terlihat kuat dari luar tapi hatinya sangat rapuh. Semoga dengan kejadian ini bisa mengubah sikap Sky menjadi lebih baik."
Tiba-tiba Sky membuka kedua matanya. Dia menatap kedua orang tuanya. Sedari tadi Sky memang setengah sadar. Dia memejamkan mata tapi dia bisa mendengar semua pembicaraan kedua orang tuanya.
"Jadi selama ini Gala sakit? Mengapa Mama sama Papa tidak cerita sama aku?"
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya jangan lupa, biar othor semangat up... 🤧😥