
Shena tersenyum menatap hasil pengumuman kelulusannya, meskipun tidak menjadi peringkat pertama tapi dia sendiri bangga dengan nilai yang dia dapat.
"Shena, akhirnya kita lulus."
Shena menganggukkan kepalanya. "Nanti kita tinggal daftar ke kampus, beruntungnya kita bisa pakai jalur mandiri."
"Iya, untung ya, nilai rapor kita lumayan bagus meskipun gak pernah jadi ranking satu. Tapi aku gak nyangka, ternyata Arion sepintar itu bisa meraih ranking pertama di sekolah kita," kata Mila. Mereka kini berbincang sambil berjalan ke tempat parkir.
"Iya, diam-diam dia itu jenius. Tapi dia tidak bisa kuliah diluar negeri karena harus menyelesaikan pengobatannya dan dipantau terus sama Mama dan Papa. Tinggal sedikit lagi, Rion akan sembuh total."
"Terus, dia masuk ke kampus mana?"
"Kampus sebelah, yang diisi anak-anak pintar. Kalau gue bisa masuk di kampus bareng Kak Sky aja udah cukup."
"Sama, gue juga. Akhirnya bisa satu kampus sama Kak Ferdi." Mila tertawa lalu duduk di atas motornya. "Lo dijemput gak?"
Shena menganggukkan kepalanya. "Kak Sky masih belum boleh bawa motor. Kayaknya gue dijemput Kak Arnav."
"Kasihan yang gak jadi bulan madu."
"Jadi dong, di rumah." Shena tertawa lalu dia membalikkan badannya dan berjalan menuju gerbang sekolah karena tenyata Arnav sudah menunggunya.
"Shena, barang apa aja yang kamu bawa? Sky bilang pindah hari ini."
"Kok Kak Sky mendadak banget. Kan baru dapat rumah yang cocok dua hari yang lalu. Kalau gitu aku ke rumah aja, mau kemas barang aku yang penting."
"Ya udah biar Sky dibantu Arion di rumahnya. Vicky, ayo ikut gue!"
Vicky yang baru melewati gebang seketika menghentikan motornya. "Kemana?"
"Bantu kemas barang Shena di rumah."
"Oke."
Kemudian Arnav dan Vicky mulai melajukan motornya. Saat lampu merah, Vicky menghentikan motornya di sebelah mobil dengan kaca yang terbuka. Tanpa sengaja, Vicky menoleh ke sisi kanannya. Dia melebarkan kedua matanya saat melihat wajah yang sudah dua hari membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
"Nike!"
Wanita di dalam mobil itu menoleh. Meskipun dia memakai kacamata dan berpenampilan sangat sopan tapi Vicky sangat mengenalinya.
Seketika Nike menutup kaca mobil itu dan setelah lampu berwarna hijau mobil itu berbelok ke arah kanan.
Vicky akan mengejar mobil itu tapi terhenti karena ada mobil yang akan berbelok ke arah kanan juga menghalangi motornya.
"Vicky, mau kemana?" tanya Vicky karena arah mereka memang lurus.
Vicky menggelengkan kepalanya, akhirnya dia mengurungkan niatnya mengejar Nike.
Itu berarti dia ada di kota ini juga. Aku benar-benar terus terbayang-bayang Nike. Semoga saja aku bisa bertemu dia lagi.
Beberapa saat kemudian Vicky sampai di rumah Arnav, mereka bertiga turun dari motor dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kak Vicky kenapa melamun aja dari tadi? Capek habis pulang dari Jepang?" tanya Shena yang melihat Vicky seperti orang linglung.
Vicky menggelengkan kepalanya lalu dia duduk di ruang tamu dan melepas tas serta jaketnya. "Nggak capek, cuma panas aja cuacanya. Aku udah istirahat dua hari di rumah."
"Udah sampai rumah semua. Pasti haus banget nih, Ibu buatin minuman dingin dulu ya," kata Naya.
"Iya nih, Kak Vicky yang kehausan sampai loyo," kata Shena sambil berlalu.
"Katanya mau adain syukuran karena udah berhasil jadi runner up? Gue tunggu undangannya buat makan-makan."
"Kak Vicky mau adain syukuran? Sekalian aja di rumah baru aku," sahut Shena dari ruang tengah.
Naya ikut tertawa dan menepuk bahu ponakannya itu. "Ini keturunannya Kak Virza banget. Tapi gak papa. Biar ramai. Kebetulan sekali Reynand juga pulang. Kita kumpul bersama di rumah baru Shena, nanti juga ada keluarga Sky."
"Beres, Tante." Kemudian Vicky melepas kemeja putihnya karena akan membantu Shena mengemas barang-barangnya.
"Leher kamu kenapa?" tanya Naya yang melihat tanda merah di leher Vicky. Meski sudah memudar tapi masih terlihat jelas.
Seketika Vicky menaikkan krah kaosnya. "Gatal, Tante."
"Gatal?" Naya justru semakin kepo dan melihat tanda merah di leher Vicky.
"Iya gatal." Vicky menjadi salah tingkah. Sudah dua hari kejadian tapi tanda merah dari Nike itu belum juga hilang.
"Apaan? Kepo!" Arnav ikut mendekat dan melihat, begitu juga dengan Shena.
"Ih, ini sih bekas cu pang!" kata Shena terang-terangan.
"Sama siapa lo? Lo kan jomblo."
"Itu sih kelihatannya udah beberapa hari," kata Shena lagi.
Naya hanya menggelengkan kepalanya mendengar Shena. "Shena, hafal sekali kamu sekarang."
"Wah, jangan-jangan lo one night stand di Jepang ya? Sama siapa? Cewek Jepang? Jangan-jangan lo jadi pemeran dadakan di film blue?"
Seketika Vicky menjotos lengan Arnav. "Nggaklah, dosa." Pipi Vicky terasa memanas. Ternyata mereka semua lebih jeli daripada kedua orang tuanya.
"Ciee, Kak Vicky honeymoon..."
"Kamu sih kasih paket honeymoon jadi dipakai beneran kan."
Kedua kakak beradik itu terus menggoda Vicky.
"Kalau kalian berdua terus menggoda, aku tinggal pulang nih."
"Udah, jangan ganggu privasi Vicky. Kita makan siang dulu sebelum bekerja." Naya mengajak mereka bertiga ke ruang makan.
Vicky menarik napas panjang dan berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdebar karena lagi-lagi dia teringat dengan Nike dan malam panas yang membara itu. Malam itu Nike memang menghisap lehernya seperti seorang vampir yang kehausan darah. Harusnya terasa sakit tapi rasanya justru semakin nikmat dan tercetaklah bekas merah yang sampai sekarang belum hilang.
"Shena, nanti di rumah sendiri kamu harus memasak. Jangan beli terus. Kalau memang Sky mau pakai assistant rumah tangga ya kamu tetap masak kalau ada waktu. Biar cinta kalian berdua semakin terpupuk, karena hasil masakan kamu untuk suami itu ada cinta di dalamnya."
"Tapi kalau masakan Shena gak enak gimana?"
"Kan masih belajar. Semua itu butuh proses. Kalian berdua juga masih dalam pantauan Ibu dan Ayah."
Shena menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makan siang sambil sesekali mengobrol dengan Ibunya.
Sedangkan Vicky masih saja melamun. Dia sendiri juga belum tentu bisa menjadi seorang suami.
Aku udah lakuin itu sama Nike, terus nanti kalau seandainya Nike hamil dan minta pertanggung jawaban sama aku, aku belum siap apa-apa. Udah terlanjur aku lepasin di dalam sampai tiga kali lagi dalam semalam.
"Lo makan tapi bengong aja." Arnav menepuk bahu Vicky agar berhenti melamun. "Ceritain sama gue pengalaman lo di Jepang gimana?" bisik Arnav. "Tiba-tiba lo lepas perjaka aja dahuluin gue."
Seketika Vicky memukul lengan Arnav lagi. "Sial lo!"
💞💞💞
.
Like dan komen ya...