Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 91



Setelah selesai mengurus klubnya, Sky pulang saat malam telah larut. Beberapa kali Shena juga menghubunginya, tapi dia harus mengurus struktural yang berantakan dan membentuk anggota baru lagi.


Sampai di rumah, dia langsung menuju kamarnya dengan pintu yang setengah terbuka itu. "Kok belum tidur?" Sky duduk di tepi ranjang dan mengusap puncak kepala Shena yang masih duduk bersandar di headboard.


Shena hanya menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa tidur kalau gak ada Kak Sky."


"Iya, maaf. Tadi aku sekalian perbarui struktural jadi agak lama. Aku mandi dulu ya, semenit aja."


Shena menganggukkan kepalanya, kemudian dia merebahkan dirinya sambil menatap Sky yang masuk ke dalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Sky keluar dari kamar mandi lalu memakai piyamanya. Dia kini naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sebelah Shena.


"Sudah minum vitamin?" tanya Sky.


Shena menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kamu tidur, udah malam."


"Kak, periksa ke Dokter tiga hari lagi ya? Aku udah gak sabar mau lihat perkembangannya. Semoga detak jantungnya udah terdeteksi ya."


"Iya, kamu makan yang banyak dan rajin minum vitamin pasti perkembangannya bagus." Satu tangan Sky mengusap perut Shena yang memang terlihat lebih berisi.


"Kak Sky udah bicara sama Kak Vicky?" tanya Shena lagi.


"Udah. Nike menolak pertanggungjawaban Vicky. Nike ingin menggugurkan kandungannya."


"Terus? Kak Vicky ngebiarin?"


"Vicky gak mau. Aku suruh saja Vicky langsung lamar Nike. Seperti aku dulu sama kamu. Karena wanita itu butuh keseriusan."


"Dan juga kasih sayang. Kak Vicky apa sudah cinta sama Bu Nike?"


"Sepertinya Vicky jatuh cinta pada pandangan pertama karena dia mau memperjuangkan Bu Nike. Semoga saja semua lancar agar nanti ada teman main si kembar. Mereka nanti seumuran."


"Iya, pasti lucu." Shena semakin menempelkan wajahnya di dada Sky. "Ngantuk. Aku mau tidur dulu."


"Iya, ini memang udah malam banget. Sekarang kamu tidur."


Beberapa saat kemudian mereka tertidur dengan nyenyak.


...***...


Pagi hari itu, saat Vicky baru menghentikan motornya di tempat parkir kampus, Mila menghampirinya dengan wajah paniknya.


"Vicky, lo sedari tadi gue hubungi gak diangkat!"


"Gue gak tahu. Hp gue di tas. Kenapa?" Vicky membuka kaca helmnya.


"Gawat! Tante Nike akan gugurin kandungannya. Dia pamit sama Papa ada pembelajaran diluar kota tapi gue yakin, Tante Nike akan ke rumah sakit karena gue sempat dengar obrolan Tante Nike tadi pagi di HP."


"Apa sekarang udah berangkat?"


"Waktu gue berangkat ke kampus masih siap-siap."


Vicky kembali menutup kaca helmnya lalu dia memutar motornya dan keluar dari kampus. Dia melajukan motornya dengan kencang menuju rumah Mila.


Setelah hampir sampai di rumah Mila, Vicky melihat Nike masuk ke dalam mobil lalu mobil itu berjalan.


Vicky terus mengikuti mobil itu di belakangnya. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sakit yang lumayan jauh dari rumah Mila.


Di lantai tiga, Nike melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Pertama kalinya dia melakukan USG. Dia tersentuh melihat kantong janin yang telah berisi janin itu terlihat di layar USG. Air matanya tanpa sadar mengalir saat mendengar detak jantung janinnya.


"Ibu, pertumbuhannya sangat bagus. Usianya sekarang sekitar 8 minggu, dan detak jantungnya sudah terdengar. Dia sangat sehat. Apa Ibu masih mau melanjutkannya?"


Nike menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir.


"Jangan lakukan ini!" Tiba-tiba Vicky menerobos masuk. "Jangan aborsi anak kita."


Nike terkejut menatap kedatangan Vicky. "Tapi Vicky..."


"Kamu dengar detak jantungnya kan? Apa kamu tega membunuh dia? Aku mau bertanggung jawab dan menikahi kamu. Menjadi Ayah dari anak aku. Dia tidak bersalah, dia juga ingin hidup."


Tangis Nike semakin pecah. Dia tahu, apa yang dilakukan ini salah. Jauh di dalam lubuk hatinya dia juga tidak tega membunuh buah hatinya sendiri.


"Bagaimana kondisi kandungannya, Dok?" tanya Vicky.


"Perkembangannya sangat bagus dan juga sehat."


Detak jantung dari janin itu kembali terdengar. Vicky tidak pernah merasakan keharuan seperti ini. Rasanya sangat bahagia, tapi juga menyesakkan dadanya. Bahkan ujung matanya kini ikut mengembun saat Nike memeluknya dengan air mata yang membasahi bahunya.


"Maafkan aku..."


Vicky mengusap punggung Nike yang bergetar. "Kita besarkan anak ini sama-sama. Aku yakin, suatu saat nanti dia akan menjadi kebanggaan kita."


Nike mengangguk pelan. Perlahan air mata itu telah surut, hanya isak tangis yang tersisa.


"Sekarang kita pulang."


Nike menganggukkan kepalanya lagi.


Setelah Vicky selesai mengurus pembatalan dan membiarkan uang yang telah masuk hilang, dia menggandeng Nike keluar dari rumah sakit.


"Aku akan ganti uang kamu yang sudah masuk, yang terpenting aku gak kehilangan kamu dan calon anak kita." Vicky memakai helmnya lalu naik ke atas motornya.


Nike tak juga naik ke boncengan Vicky.


"Ayo, aku pelan-pelan. Nanti aku lewat gang karena kamu gak pakai helm."


Akhirnya Nike naik ke boncengan Vicky. Beberapa saat kemudian Vicky melajukan motornya dengan kecepatan standar. "Kamu pegangan."


Awalnya Nike ragu tapi akhirnya kedua tangan Nike memegang pinggang Vicky. Dia tidak menyangka, kisahnya akan berakhir dengan Vicky. Seorang pria yang empat tahun lebih muda darinya tapi memiliki pola pikir yang dewasa, bahkan tidak ada keraguan sama sekali untuk bertanggung jawab dengan dirinya.


"Kita mau kemana?" tanya Nike saat Vicky melajukan motornya tidak menuju rumahnya.


"Ke rumah aku. Bertemu kedua orang tua aku. Setelah itu, kita akan sama-sama bilang sama Kakak kamu agar kita bisa segera menikah."


"Tapi aku belum menemukan Ayah kandung aku."


Vicky menarik kedua tangan Nike agar memeluknya. "Aku tahu. Seorang Ayah harusnya bertanggung jawab atas kehidupan putrinya. Jika dia tidak bertanggung jawab sama sekali, anggap dia tidak ada di dunia ini. Masih ada Kakak kandung kamu yang bisa menjadi wali nikah kamu."


Nike bisa mendengar kalimat Vicky yang sesekali terbawa angin itu. Hatinya sangat tersentuh. Sepertinya takdir memang membawanya pada pria yang baik seperti Vicky. Dia semakin mengeratkan pelukannya dengan ujung mata yang kembali mengembun.


Terima kasih sudah hadir dalam hidupku...


💞💞💞


Like dan komen ya...