
"Shena!" Vicky berlari mengejar Shena. "Kamu mau kemana?" tanya Vicky yang melihat Shena hanya berdiri saja di dekat mobil.
"Aku mau pulang. Ayo Kak antar aku pulang," pinta Shena karena Ayah dan Ibunya masih mengurus tamu di pestanya agar teman-teman Shena juga tidak terlalu kecewa karena pesta itu gagal.
"Kamu gak melanjutkan pesta kamu?"
Shena menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, aku chat dulu Om Arsen biar gak khawatir sama kamu." Vicky mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Arsen. "Shena, bagaimana kalau kamu ikut aku sebentar?"
"Kemana?" tanya Shena sambil mendongak menatap Vicky.
"Ke suatu tempat, sebentar saja."
"Tapi Kak Vicky sudah bilang sama Ayah kan?" tanya Shena. Dia tidak mau membuat Ayahnya khawatir karena mencarinya.
"Sudah." Vicky menggandeng tangan Shena menuju motornya. "Tapi naik motor? Bisa pakai gaun gini?"
"Bisa." Shena naik ke boncengan Vicky dan duduk miring. "Jangan kencang-kencang ya, aku duduk miring nih." Kemudian Shena berpegangan pada pinggang Vicky saat Vicky mulai melajukan motornya.
Sepanjang perjalanan, Shena hanya terdiam saja. Bahkan dia tidak menyahut saat Vicky mengajaknya berbicara. Entahlah, mengapa dia masih terbayang-bayang dengan wajah kecewa Sky.
Beberapa saat kemudian, Vicky menghentikan motornya di taman yang berada di dekat rumahnya. Mereka berdua turun dari motor lalu masuk ke dalam taman itu. Kemudian mereka berhenti di sebuah rumah kayu, tempat bermain mereka saat kecil. Meski jarang ke rumah kayu itu, tapi rumah kayu itu masih terawat.
Shena tersenyum melihat rumah kayu itu yang berhiaskan lampu warna-warni dan ada tulisan happy birthday, Shena.
"Ini kamu yang buat?" tanya Shena lalu masuk ke dalam rumah kayu itu. "Masih terawat rumahnya sampai sekarang. Udah lama aku gak ke sini." Shena kini duduk dengan kedua tangan yang berada di atas meja.
"Iya. Sebenarnya malam ini aku mau ajak kamu ke sini, tapi ternyata ada kejutan pesta untuk kamu. Ya, untungnya aku masih ada kesempatan untuk ajak kamu " Vicky duduk di depan Shena lalu membuka kotak yang berisi tujuh belas cupcake lalu menyalakan semua lilin kecil yang berada di atas cupcake itu.
"Ih, tujuh belas lilin dinyalain semua. Nanti aku kehabisan napas tiupnya." Shena tersenyum melihat Vicky yang menyalakan tujuh belas lilin itu.
"Nanti aku bantu tiup. Sekarang kamu berdo'a. Semoga semua yang kamu inginkan terkabul," kata Vicky setelah selesai menyalakan lilin itu.
Shena memejamkan matanya lalu memanjatkan keinginannya, setelah itu dia meniup tujuh belas lilin itu yang dibantu oleh Vicky.
"Selamat ulang tahun. Semua do'a yang terbaik untuk kamu." Satu tangan Vicky mengusap puncak kepala Shena. Kemudian dia mengambil satu cupcake dan menyuapi Shena.
"Makasih, Kak Vicky."
Vicky menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu dia berpindah duduk di samping Shena sambil menikmati cupcake berdua.
"Kak, menurut Kak Vicky apa yang aku lakukan sama Sky itu salah gak?" tanya Shena. Dia kini bersandar manja di bahu Vicky.
"Menurut aku sudah benar. Ya, setelah apa yang dia lakukan sama kamu, dia tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi yang paling penting, kamu harus dengarkan apa kata hati kamu. Apa kamu memaafkan Sky?"
Shena terdiam. Dia sendiri juga bingung. "Kak Vicky masih ingat gak, waktu aku bilang kalau aku punya pangeran impian yang aku nantikan dari kecil."
"Iya, dan aku sangat penasaran. Kira-kira siapa pangeran impian kamu itu?" Satu tangan Vicky kini merengkuh pinggang Shena.
"Pangeran impian aku adalah cowok yang sudah menolong aku saat aku akan tenggelam. Saat kita kecil, di taman hiburan. Kak Vicky masih ingat kan?"
"Iya, aku ingat. Memang kamu sudah bertemu dia?"
Shena mengangguk kecil. "Dia adalah Sky."
Shena menegakkan dirinya. "Aku sangat berharap bertemu pangeran impian aku itu. Harusnya aku bahagia bisa bertemu dia lagi, tapi ternyata dia juga yang sudah menghancurkan hidupku. Aku bingung harus bagaimana?"
"Shena..." Vicky mengusap pipi Shena sambil menatapnya. "Dengarkan apa kata hati kamu."
"Kak Vicky gak marah kalau aku maafin Sky?"
"Iya, aku memang gak rela dan aku sangat kesal kalau lihat kamu dekat dengan Sky. Tapi aku sadar, aku hanya bisa menjadi kakak kamu."
"Kak Vicky..." Shena memeluk Vicky dengan erat. "Seandainya kita tidak sepupuan pasti aku sudah memilih Kak Vicky jadi pacar aku, eh, ralat, calon suami aku. Tapi kita sepupuan, ya meskipun sebenarnya hubungan itu bisa kalau dipaksa tapi aku yakin kedua orang tua kita tidak akan setuju."
"Iya, kamu benar. Apapun keputusan kamu, aku cuma ingin kamu bahagia." Vicky semakin mendekap Shena dan mencium rambut Shena.
"Kak Vicky semoga segera menemukan seseorang yang bisa membuat Kak Vicky jatuh cinta dan bahagia. Maaf Kak, aku gak bisa membalasnya."
Vicky semakin mengeratkan pelukannya. "Gak papa, terkadang cinta memang tidak butuh balasan. Semoga kamu juga segera mendapatkan kebahagiaan kamu."
"Amin..."
...***...
Di basecamp Langit, Sky meneguk minuman keras berulang kali. Beberapa temannya bertanya padanya tapi sama sekali tidak ada yang dia respon.
Matanya sudah memerah, sepertinya dia sudah terpengaruh dengan minuman itu tapi dia masih terus meminumnya.
Beberapa saat kemudian Reynan masuk ke dalam basecamp dan menghampiri Sky. "Udah stop! Lo jangan minum lagi." Reynan menahan tangan Sky saat Sky akan meneguk minuman itu lagi.
"Kenapa hati gue rasanya sakit sekali? Semua usaha yang gue lakukan berakhir sia-sia." Sky menekan kedua ujung matanya saat air mata itu akan leleh. Rasa sakit di hatinya sudah berada di ambang batas. "Iya, gue tahu, apa yang udah gue lakukan itu keterlaluan. Tapi gue benar-benar ingin menebusnya."
"Sky, udah. Biarkan Shena sendiri dulu."
"Besok gue akan bilang sama orang tua gue untuk kuliah di luar negeri sama lo. Keputusan gue sudah bulat, dan mulai sekarang gue gak akan temui Shena lagi."
Kemudian Sky berdiri dan berjalan dengan sempoyongan keluar dari basecamp.
"Sky, gue antar aja. Lo mabuk." Reynan mengikuti Sky keluar dari basecamp.
"Gue bisa sendiri." Lalu Sky memakai helmnya dan menaiki motornya. Beberapa saat kemudian motor Sky mulai melaju dengan kencang meninggalkan basecamp.
"Wah, nekad nih anak." Reynan juga menaiki motornya dan menyusul Sky. Dia harus pastikan Sky aman sampai rumah.
Kepala Sky terasa semakin berat. Bahkan lampu jalanan terlihat sangat silau di matanya. Dia semakin menengah dan melaju di jalur lawan arah.
Apa yang ditakutkan Reynan terjadi. Sky melewati jalur tengah dan menabrak pengendara motor lain.
"Sky!"
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya..