
Setelah selesai mengurus surat pengadopsian Arion, dia kini sah menjadi bagian dari keluarga Sky dan sudah tinggal di rumah Sky.
Arion tak menyangka dia bisa merasakan kehidupan yang sempurna seperti ini. Mulai dari baju, peralatan sekolah sampai sepeda motor, semuanya baru dan tentu saja bermerk, tidak seperti miliknya dulu yang hampir semua bekas dari orang lain karena dia tidak mampu untuk membelinya. Bahkan dia juga mempunyai kartu ATM sendiri sebagai pegangannya.
Setelah memakai seragam dan jaketnya, Arion keluar dari kamarnya dan makan bersama di ruang makan bersama keluarga barunya.
"Wih, keren banget. Cewek-cewek pada kepincut kalau lihat penampilan kamu kayak gini," kata Sky yang kini duduk di samping Arion.
"Sky, kamu lihat tuh Arion rajin banget. Bangunnya pagi terus olahraga dan bantu bersih-bersih. Kamu masih molor kalau gak waktunya sarapan gak keluar dari kamar."
Sky semakin tersenyum mendengar kecerewetan Mamanya. "Sip, ini yang aku mau. Mama banding-bandingkan aku lagi. Aku kangen Mama yang kayak gini." Dulu Sky memang tidak senang dibanding-bandingkan tapi sejak kepergian Gala dan perbandingan itu sudah tidak ada, rasanya sangat berbeda.
"Ya udah cepat sarapan." Bu Ida mengambilkan nasi untuk Sky dan Arion.
"Rion, Papa sudah membuat janji dengan Dokter spesialis. Nanti kamu check up keseluruhan kondisi kamu. Setelah itu kamu bisa rutin terapi dan berobat. Karena kanker kamu masih stadium dua, kemungkinan besar masih bisa sembuh," kata Pak Alex.
Arion menganggukkan kepalanya. "Iya, makasih, Pa."
"Rion kamu jangan bilang makasih terus. Kita sudah jadi orang tua kamu," kata Bu Ida sambil tersenyum. "Semangat sembuh ya."
Arion menganggukkan kepalanya. Kemudian tidak ada pembicaraan diantara mereka saat makan bersama.
Setelah itu Arion dan Sky berpamitan dan berangkat karena Sky juga ada kelas pagi.
"Rion, kalau ada apa-apa sama Shena bilang sama aku."
"Iya, Kak." Arion menaiki motor barunya yang hampir sama dengan milik Sky.
"Udah bisa pakai motor kopling?"
"Udah."
"Oke. Aku duluan ya. Nanti kalau ada waktu aku ajak ke basecamp. Udah lama aku gak ke sana." Kemudian Sky mendahului Arion.
Arion masih menatap motor barunya. Dulu dia hanya bisa bermimpi memilikinya tapi sekarang dia bisa memilikinya. Kemudian Arion mulai melajukan motornya menuju sekolah.
Jika dulu Arion selalu mengeluh pada Tuhan bahkan hampir menyerah, sekarang saatnya dia bersyukur dan tidak sombong dengan apa yang dia miliki saat ini.
Beberapa saat kemudian, Arion menghentikan motornya di tempat parkir sekolah bersamaan dengan Shena dan Vicky. Beberapa temannya menatap kagum perubahan Arion termasuk Shena dan Vicky.
"Motor baru nih. Keren!"
Arion hanya tersenyum sambil berjalan bersama Vicky.
"Jadi adiknya Sky dong sekarang."
"Iya." Mereka berdua mengobrol sambil bejalan ke kelas.
Sedari tadi Shena hanya tersenyum. Akhirnya Arion memiliki keluarga yang utuh dan menyayanginya.
...***...
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Hubungan Sky dan Shena semakin erat. Di setiap Sky melakukan pertandingan renang di dalam kota, Shena selalu ikut. Dia sangat antusias melihat Sky berenang dan selalu memenangkan pertandingan itu. Tinggal selangkah lagi menuju kejuaraan dunia. Jika Sky lolos, dia akan mewakili Indonesia bertanding ke Jepang.
Tepuk tangan meriah mengakhiri pertandingan itu. Sky berhasil menjadi juara satu.
"Sky, idola banget." Pendukung wanita selalu meneriaki Sky dan menatapnya kagum. Entah itu teman sekampus atau memang fans Sky.
Kali ini Sky tidak memakai swim suit. Celana pendek yang ketat itu jelas mencetak sesuatu yang membuat para wanita semakin menatapnya.
"Kak Sky sengaja banget pamer tubuh gitu di depan wartawan lagi." Shena yang duduk di kursi VIP kini berdiri dan mengambil bathrobe lalu menutupi tubuh Sky setelah wartawan selesai mewawancarainya.
"Kak Sky kenapa gak pakai swimsuit?"
"Memang suruh pakai gini. Tiap pertandingan aturannya beda."
"Ih, diliatin tuh sama cewek-cewek."
Sky tertawa lalu mengacak rambut Shena. "Tunggu sebentar ya, aku mau ganti baju dulu."
Shena menganggukkan kepalanya lalu dia menunggu Sky di dekat ruang ganti.
Shena mengernyitkan dahinya. Apakah penampilannya seperti seorang assistant? Sky belum terkenal saja dirinya sudah disebut assistant, bagaimana jika nanti dia sudah mendunia.
"Emang kenapa?" tanya Shena dengan ketus.
"Titip ini ya buat Sky." Dua gadis itu menyerahkan satu buket bunga dan kotak hadiah berpita.
"Iya, iya nanti aku kasih."
"Thank you." Kemudian dua gadis itu pergi.
Shena hanya menggembungkan pipinya dan melempar dua barang itu ke bangku. "Ngeselin."
Beberapa saat kemudian Sky keluar dari ruang ganti. Dia mencubit pipi Shena yang terlihat menggembung. "Kenapa?"
"Tuh, dari fans." Shena menunjuk dua barang itu.
"Fans?" Sky justru tertawa dan menyingkirkan buket bunga dan kado itu. Dia kini duduk di sebelah Shena. "Kok ngambek? Aku juga gak kenal sama mereka. Udahlah, biarin gak usah diladeni."
"Tapi aku kesel, masa aku dikira assistant kamu."
Seketika Sky merengkuh bahu Shena. "Assistant, kayaknya ide bagus buat jadiin kamu assistant aku."
"Ih, Kak..."
"Iya, iya, kalau kamu cocoknya jadi istri dan ibu dari anak-anak kita nanti."
Seketika senyum merekah di bibir Shena. "Gombal banget."
"Aku serius."
"Ini pasti karena Kak Sky pamer tubuh." Shena menekan dada lalu ke perut Sky. "Makanya banyak yang nge-fans. Pasti mereka pada simpan foto Kak Sky yang bertelanjang dada."
"Oke, nanti kalau ada pertandingan lagi setelah keluar dari kolam aku langsung pakai handuk."
"Jangan kayak tadi pamer dulu di depan kamera."
"Iya, nanti aku pamernya di depan kamu aja."
"Kak Sky, godain terus." Shena mencubiti pinggang Sky yang selalu pintar menggodanya itu.
"Kalau aku sudah berhasil menaklukkan pertandingan internasional, aku akan berhenti jadi atlet renang."
"Loh, kenapa? Sayang kan."
"Tapi aku lebih sayang sama kamu dan keluarga. Entah nanti aku menang atau tidak di piala dunia renang itu, aku sudah memutuskan berhenti. Aku ingin belajar bisnis, karena itu pegangan seumur hidup aku. Selama ini Papa sudah bekerja keras mengembangkan perusahaan, jadi sudah saatnya aku membantu. Nanti setelah Rion kuliah, kita juga akan belajar bersama di perusahaan Papa."
Shena hanya menatap kagum Sky. "Rion udah sembuh?"
"Belum sepenuhnya, tapi kondisinya sudah semakin membaik."
Shena hanya tersenyum sambil menatap Sky.
"Kenapa?"
Shena menggelengkan kepalanya dan masih saja tersenyum menggoda.
Tiba-tiba saja Sky mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Shena dengan lembut. Meskipun hanya sesaat tapi sangat terasa.
"I love you," bisik Sky di telinga Shena.
"I love you too..."
💞💞💞
.
Maaf baru up. Othor lagi sakit.🤧🤢
Meriang, merindukan kasih sayang...ðŸ¤