Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 109



Area basah dikit... 🥱


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


"Jangan menghiburku, Kak Sky jawab dengan jujur. Apa aku sekarang jelek? Jangan dilihat dari mata hati tapi secara nyata."


Sky semakin tersenyum lalu mencium bibir Shena. Bukan jawaban yang didapat Shena tapi justru pagutan lembut yang membuat hatinya tenang.


"Kak Sky belum jawab pertanyaanku," kata Shena sambil sesekali menggigit bibir bawahnya yang terasa berdenyut karena hisapan dari Sky.


"Meskipun ada banyak wanita cantik diluar sana, aku akan tetap mencintai kamu." Perlahan Sky mendorong Shena hingga tubuh mereka jatuh di tengah ranjang.


Sky semakin menatap Shena dengan satu tangan yang mengusap lembut pipi Shena. "Dulu aku pernah bilang sama kamu, kita pasti akan menemui masa seperti ini. Dimana kita harus berinteraksi dengan orang lain diluar sana, berbagai jenis manusia dengan sifat dan fisik yang berbeda. Walau bibir berkata ramah, tapi hati ini akan tetap terjaga buat kamu. Kamu satu-satunya wanita dalam hidup aku. Kamu yang telah melahirkan dan merawat anak-anak kita, aku tidak mungkin bisa mencintai wanita lain."


Shena akhirnya tersenyum menatap Sky. Keraguan di dalam hatinya hilang dengan kata manis itu. Dia kini melingkarkan kedua tangannya di leher Sky lalu mencium bibir Sky.


Ciuman yang awalnya lembut itu semakin liar. Tangan Sky sudah menelusup di balik baju Shena dan menyentuh area sensitif Shena hingga membuat Shena melenguh tertahan.


"Mumpung si kembar tidur, yuk." Sky meloloskan baju Shena dari kepalanya. Kemudian dia membuka penutup buah sintal lalu me re mas nya. "Sayang, aku tahu kamu memakai baju yang lebih sopan setelah menikah sama aku dan mungkin itu berpengaruh pada penampilan kamu, tapi aku suka kamu kayak gini. Kamu sudah tidak pernah lagi pakai rok pendek maupun baju ketat. Kamu menjaga diri dari pria lain, apalagi di kampus banyak cowok playboy. Aku suka kamu yang seperti ini. Keseksian kamu hanya buat aku." Sky semakin membungkukkan dirinya lalu melahap kedua dada Shena secara bergantian. Menghisapnya dan sesekali menggigitnya kecil.


Shena semakin membusungkan dadanya. Suara de sah nya sudah terdengar semakin keras. Kedua tangannya menekan kepala Sky yang semakin mengeksplor dadanya.


"Kak Sky..."


Sky mendongak dan menatap wajah Shena yang telah bersemu merah. Satu tangannya kini menelusup ke dalam celana Shena dan memainkan inti Shena yang telah basah.


Shena semakin melenguh. Permainan jemari Sky selalu bisa membuatnya melambung tinggi. "Kak, ayo." Shena melepas kaos pendek Sky lalu membalik posisinya hingga Sky berada di bawahnya.


"Sayang, mau di atas?" Sky menangkup dada Shena dan memijatnya pelan.


Kedua tubuh itu sudah sama polos. Shena masih duduk di atas Sky sambil menggoyang pinggulnya.


"Sayang, masukin." Sky mengarahkan miliknya lalu menghentaknya dari bawah.


"Aw, Kak Sky." Hentakan keras dari Sky membuat Shena terkejut tapi sedetik kemudian dia mulai menggerakkan pinggulnya yang membuat Sky dimabuk dengan bibir yang sesekali berdesis nikmat.


Sky semakin memeluk tubuh Shena. Gerakan mereka saling beradu dengan napas yang semakin memburu. Keringat sudah membasahi tubuh polos mereka berdua.


"Sayang, kamu mau keluar?" Merasakan gerakan Shena semakin cepat, dia tahu jika Shena akan segera keluar. Sky membalik tubuh Shena hingga dia kini berada di atasnya dan memelankan gerakannya agar Shena tidak mencapai puncaknya terlebih dahulu.


"Kak Sky main tarik ulur lagi?"


"Iya, biar kamu double kli maks." Mereka berdua semakin bergulat dan menikmati permainan itu.


"Kak Sky..." Tubuh Shena semakin terasa ringan. Dia sudah hampir mencapai puncak tapi lagi-lagi Sky mengubah posisinya. Sky semakin menindih dan memeluk tubuh Shena.


"Sayang, kita keluarkan sama-sama ya."


"Kak Sky jangan pindah posisi lagi."


"Iya, kita sama-sama biar makin enak." Sky semakin menambah gerakannya hingga akhirnya tubuh mereka bergetar bersama dengan erangan yang tertahan.


"Aku sayang banget sama kamu." Sky mencium pipi Shena lalu dia melepas dirinya dan berbaring di samping Shena. "Rambut kamu sampai basah kena keringat."


Shena menarik napas panjang lalu memutar tubuhnya dan memeluk Sky. "Udaranya panas, makin panas kena Kak Sky."


"Mau lagi gak?" goda Sky seraya mengeratkan pelukannya.


"Oke, mumpung staminanya masih ada sisa dan sebelum si kembar bangun." Sky meraih ponselnya dan melihat kamar si kembar dari cctv yang terhubung ke ponselnya. "Aku sambung ke cctv, biar kalau bangun kita bisa dengar." Kemudian Sky kembali mencium Shena. Mereka nikmati momen bersama selagi kedua buah hatinya tertidur.


...***...


"Sayang, Ayah juara lagi." Nike bertepuk tangan bersama putranya saat melihat pertandingan renang Vicky dan lagi-lagi Vicky menjadi juara.


Setelah Vicky berganti baju, Nike dan putranya menghampirinya. Dia langsung mendapat satu kecupan dari Vicky lalu Vicky menggendong putranya yang sudah berusia satu tahun itu.


"Vero, senang sekali lihat Ayah," kata Vicky sambil menciumi pipi bulat itu.


Vero masih saja bertepuk tangan dan tertawa.


"Mungkin kalau sudah besar Vero ingin menjadi seperti Ayahnya." Nike kini berjalan di samping Vicky sambil menggandeng satu lengan Vicky.


"Iya, Vero mau jadi seperti Ayah?"


Vero menganggukkan kepalanya seolah dia mengerti ucapan Vicky.


"Pintar." Vicky semakin gemas dan mencium lagi kedua pipi putranya. "Sekarang kita pulang ya, saatnya Vero tidur siang. Nanti kalau ada pertandingan yang dekat, Vero lihat lagi ya."


Setelah sampai di tempat parkir, Nike kembali menggendong Vero. Lalu Vicky memakaikan helm di kepala Nike.


"Sayang, maaf ya, aku belum bisa beli mobil," kata Vicky sambil naik ke atas motornya.


"Gak papa, yang penting rumah kita sudah hampir jadi." Kemudian Nike naik ke boncengan Vicky.


"Sayang, pegangan yang erat."


Nike memegang pinggang Vicky dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya mendekap putranya.


Kemudian Vicky melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia menggenggam tangan Nike yang ada di perutnya.


Beberapa saat kemudian Vicky menghentikan motornya di depan rumahnya. "Sayang, Vero tidur?"


"Iya, ketiduran."


"Ya udah kamu tidurin di kamar ya. Aku mau langsung ke bengkel."


"Kak Vicky gak makan dulu. Istirahat dulu juga."


"Tadi kan udah makan." Vicky turun dari motor dan melepas helm Nike. "Kamu istirahat saja sama Vero."


Nike tersenyum sambil menatap Vicky dengan mata berbinarnya. Semakin hari, Vicky semakin menjadi seorang suami dan ayah yang sempurna.


"Ya udah, aku buatkan minuman ya."


"Iya."


"Nanti malam, sebagai penghilang penat," bisik Nike di telinga Vicky yang membuat dada Vicky berdebar. Kemudian Nike masuk ke dalam rumah.


Nike, kamu memang anugerah terindah yang aku miliki...


💞💞💞


Like dan komen ya...