Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 76



Mobil itu semakin dekat. Vino berusaha melepas sergapan Arnav tapi tidak bisa. Saat mobil itu tinggal beberapa centi lagi Arnav mendorong Vino hingga terjatuh.


"Iya, gue yang lakuin itu!"


Seketika mobil itu berhenti di depan Vino tanpa menyentuh Vino sedikitpun.


"Jangan melukai anak saya. Iya, saya salah!" Terdengar suara pengakuan juga di dalam mobil.


Kemudian Arsen dan Alex turun dari mobil bersama Papa Vino yang seorang polisi itu.


"Pak Anton, bayar berapa ke pemilik klub aquatik itu? Saya sudah melaporkan kasus ini ke atasan Anda. Selain masalah suap, Pak Anton juga terkena pasal melindungi pelaku kejahatan. Anda salah berurusan dengan kita!" Alex masih menyergap kedua tangan Anton.


Beberapa polisi juga telah datang dan menangkap Vino.


"Pak Albert juga telah ditangkap. Dia menyalahgunakan kekuasaannya. Dia tidak tahu, bahwa sebenarnya saya pemilik saham tertinggi di klub aquatik itu." Alex melepas tangan Anton dan menyerahkannya pada polisi. "Semua bukti sudah saya serahkan."


"Jadi Pak Alex pemilik saham tertinggi?" tanya Arsen.


"Iya, saya memang sengaja menyerahkan jabatan pada pemilik saham kedua yang dulunya dipegang Steven, dan baru-baru ini beralih pada Albert. Saya tidak mau mencampuri prestasi Sky dengan kekuasaan saya. Tapi ternyata justru Sky yang diusik." Alex menepuk bahu Arsen. "Terima kasih kamu dan putra kamu sudah membantu masalah ini. Saya akan adakan pertemuan malam ini agar Vicky bisa berangkat besok malam."


"Ini kunci mobil Pak Alex, biar saya pulang sama Arnav." Arsen menyerahkan kunci mobil itu pada Alex.


"Tidak menyangka, Pak Arsen bisa mengerem mobil dengan tepat disaat mobil melaju dengan kencang."


"Itu karena mobil Pak Alex yang bagus. Tapi sebenarnya saya juga mantan badboy seperti anak-anak." Arsen tertawa diujung kalimatnya. Tentu saja masa mudanya tak jauh beda dengan Arnav.


"Pantas saja, ya sudah saya akan mengurus kasus ini dulu. Di rumah sakit juga sudah ada anak buah saya yang menjaga di depan ruangan Sky. Mereka berdua pasti aman." Kemudian Alex masuk ke dalam mobil dan beberapa saat kemudian mobil itu melaju.


"Ayah, maaf kali ini aku melakukan kekerasan," kata Arnav.


"Gak papa, yang terpenting untuk mengungkap kebenaran. Kali ini Ayah bangga sama kamu." Kemudian Arsen duduk di motor putranya. "Sebenarnya Ayah sempat takut kamu tidak bisa menerima Sky menjadi adik ipar kamu tapi ternyata kalian saling melindungi."


"Iya, karena aku tahu kalau Shena bahagia bersama Sky. Sekarang kita saudara dan harus saling membantu."


Arsen memutar dirinya dan memakai helm Arnav. "Kamu pinjam motor dan helm teman kamu, kita balapan. Tapi jangan bilang sama Ibu, nanti Ayah dimarahi."


Arnav tersenyum lebar. "Melawan Ayah sendiri? Siapa takut. Gue pinjam motor sama helmnya." Arnav kini mengendarai motor temannya dan memakai helm. "Kalau aku yang menang, ganti motor baru ya Ayah."


"Kamu gak mungkin menang melawan Ayah."


Setelah hitungan ketiga mereka berdua melajukan motornya dengan kencang. Mereka saling menyalip sampai dua putaran, tapi mereka kini tertawa dan menghentikan motor mereka.


"Kita imbang. Ya udah kita pulang saja. Daripada Ayah beliin kamu motor lagi. Kembalikan saja motornya, Ayah yang bonceng kamu," kata Arsen.


Arnav menganggukkan kepalanya lalu dia mengembalikan motor dan helm pada temannya. Kemudian dia naik ke boncengan Ayahnya.


...***...


Shena terbangun di pagi hari itu, badannya terasa pegal tidur di sofa semalaman. Kemudian dia melihat Sky yang masih tertidur.


"Kak Sky masih tidur."


Lalu dia mengambil ponselnya. Ada beberapa pesan dari Arnav, Vicky, dan Ayahnya. Seketika senyum mengembang di bibirnya setelah membaca pesan dari mereka. "Akhirnya pelaku sudah ditangkap."


Shena berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Kemudian dia duduk di dekat brankar Sky. "Pagi..."


Perlahan Sky membuka kedua matanya dan tersenyum melihat Shena. "Pagi sayang. Pasti badan kamu pegal semua tidur di sofa." Satu tangan Sky mengusap pipi Shena. Wajahnya terlihat lelah tapi bibir Shena terus menyunggingkan senyum.


Shena menggelengkan kepalanya. "Nggak. Aku semalam tidur nyenyak. Kak Sky minum air hangat dulu ya." Shena sedikit menegakkan brankar Sky lalu dia mengambil air hangat dari dispenser. "Kak Sky minum dulu, sebentar lagi aku bantu ke kamar mandi."


Setelah minum, Sky menatap Shena yang terlihat bahagia. "Kamu terlihat bahagia hari ini, ada apa?"


"Vino sudah tertangkap."


"Serius?"


Sky ikut bahagia mendengar kabar itu. "Syukurlah, mereka cepat tertangkap."


"Dan Vicky yang akan menggantikan Kak Sky bertanding di Jepang."


"Bagus kalau gitu. Pasti dia juga bisa memenangkan pertandingan itu. Vicky juga hebat."


Shena menganggukkan kepalanya. "Iya, semoga saja Kak Vicky memenangkan pertandingan itu."


"Sayang, aku mau ke kamar mandi." Perlahan Sky menegakkan dirinya lalu menurunkan kedua kakinya.


"Sekalian Kak Sky ganti baju aja ya. Ayo, aku bantu." Satu tangan Shena menyeret tiang infus sedangkan satu tangannya menggandeng lengan kanan Sky.


"Sayang, aku bisa sendiri."


"Aku ambil baju ganti dulu, Kak Sky gak bisa kalau lepas baju sendiri." Shena keluar dari kamar mandi lalu mengambil baju ganti Sky dan juga handuk kecil.


"Sini, aku bantu." Shena melepas kancing Sky lalu membuka bajunya. Dia mengelap seluruh badan Sky dengan air hangat.


"Shena, aku berhutang banyak sama kamu."


"Hutang apa?"


"Kamu merawat aku kayak gini, hatiku jadi tersentuh."


Shena semakin tersenyum. "Ya udah, nanti aku tagih kalau udah sembuh. Gantian Kak Sky yang manjain aku."


"Oke, siap."


"Tapi Kak Sky ganti celana sendiri ya," goda Shena meski demikian dia tetap mengganti celana Sky.


"Nanggung banget kenapa gak diterusin."


"Ih, nakal. Masih sakit juga."


Sky semakin tertawa, karena reaksi alami dari tubuhnya memang tidak bisa bohong.


"Shena." Belum selesai Shena menaikkan celananya, Sky menarik lengan Shena dan memeluknya.


"Kak, hampir kena bekas operasi Kak Sky. Nanti sakit lagi."


"Bekas operasinya kecil."


"Kecil? Tapi sampai buat pingsan."


Sky menciumi pipi Shena karena dia merasa sangat gemas.


"Kak, dibenerin dulu celananya. Ini nyenggol-nyenggol."


"Jadi pengen ngerasain kehangatan lagi."


"Ya, nanti aja di rumah." Shena melepas pelukan Sky lalu dia membenarkan celana Sky.


"Oke, nanti aku atur gayanya biar gak kena bahu aku."


"Terserah Kak Sky, yang penting Kak Sky cepat sembuh."


"Iya, aku akan semangat sembuh. Baru bayangin aja rasanya udah gak tahan."


"Ih, omes terus." Kemudian Shena membuka pintu itu. Tak disangka ada kedua orang tua Sky yang sudah berdiri di dekat pintu kamar mandi.


"Habis ngapain di dalam?" tanya Bu Ida sambil tersenyum menggoda sepasang pengantin baru itu.