
"Sayang, aku duluan ya, ada meeting di kantor. Kamu masih ada kelas kan?" tanya Sky setelah keluar dari kelasnya.
"Iya, gak papa. Kak Sky duluan saja. Nanti aku bisa pulang sendiri."
"Ya udah, kamu hati-hati." Setelah mengusap puncak kepala Shena, Sky pergi dari tempat itu.
Shena kini duduk di kantin bersama Mila. Meskipun kemarin sudah bermesraan dengan Sky tapi rasanya dia masih takut jika Ratna mendekati Sky saat di kantor.
"Kenapa lo cemberut gitu. Gak dapat jatah dari Kak Sky?" tanya Mila sambil tertawa.
Shena mencubit lengan Mila. "Gue lagi khawatir soalnya pelakor mulai muncul."
Seketika Mila menatap Shena dengan serius. "Serius? Dia goda Kak Sky?"
"Ya, gue gak tahu sih. Kemarin pas gue di taman sama si kembar juga, ada wanita yang nyamperin Kak Sky, tapi dia sama sekali gak nyapa gue. Dia sangat cantik, modis, dan wanita karir. Gue jadi insecure. Sedangkan penampilan gue aja kayak gini. Kalau gue pakai baju kayak dulu, gue risih banyak yang godain."
"Iya, gue ngerti maksud lo. Apalagi sejak lo hamil sampai sekarang badan lo makin aduhai."
"Ih, makanya gue pakai baju yang longgar dan tertutup. Kayak berasa gue ini gemuk."
"Lo tuh gak gemuk tapi sekarang makin sexy. Gak papa lo kayak gini kalau diluar rumah, yang penting di rumah lo tuh jaga penampilan buat Kak Sky. Lo udah lama kan gak facial treatment. Ayo gue anterin perawatan, biar makin cantik dan harum. Sekalian gue nebeng bayarin." Mila tertawa di ujung kalimatnya, karena dulu saat mereka ke salon pasti Shena menambah uangnya untuk perawatan.
"Tapi si kembar nanti nyariin gue."
"Titipin sama oma-omanya seharian full, kalau bisa sampai malam deh. Pasti oma-omanya juga senang. Mereka kan full sufor jadi gampang. Iya kalau Vero, gue culik semalam aja rewelnya minta ampun, dikasih dot gak mau."
Shena kini terdiam dan berpikir.
"Sekalian makan romantis berdua di rumah, biar Kak Sky gak tergoda pelakor. Kak Sky itu Papa muda yang makin nambah umur makin kelihatan ganteng loh. Kapan lagi lo nyenengin suami dan quality time sama diri lo sendiri. Sama gue juga pastinya." Mila kembali tertawa, dia berharap mendapat perawatan gratis dengan menyuruh Shena ke salon.
"Ya udah deh sebentar gue hubungi Ibu dulu." Kemudian Shena menghubungi Ibunya yang saat itu sedang berada di rumahnya menjaga si kembar. Tak disangka Mamanya Sky juga ada di rumahnya. Mereka justru mendukung dan akan membawa si kembar ke rumahnya masing-masing.
Kemudian Shena mematikan panggilannya sambil tersenyum. "Ara mau dibawa Ibu ke rumah, sedangkan Ares dibawa Mama. Jadi nanti aku bisa berdua sama Kak Sky."
"Tuh kan, setelah kelas selesai kita langsung perawatan ya."
"Iya. Ih, yang pengen perawatan gratis."
Mila tertawa cukup keras. "Iya dong. Tahu sendiri kan, Mama gue gak mungkin ngasih jatah uang buat perawatan."
"Ya udah, kita sekarang ke kelas yuk." Kemudian mereka berdua berjalan ke kelas.
...***...
Setelah selesai meeting, Sky duduk di ruangannya sambil menatap layar laptopnya. Beberapa saat kemudian ada Ratna yang datang sambil membawa dua paper bag dan diletakkan di meja Sky.
"Iya, sebentar lagi aku mau balik ke kantor. Nanti malam jadi ya kita bahas proyek," kata Ratna.
Sky tak menyahutinya. Sebenarnya dia tidak ingin menangani proyek itu lagi. Barusan di meeting sudah jelas perinciannya, entah apa yang akan dibahas Ratna lagi atau mungkin memang ada kepentingan pribadi dibalik ajakan Ratna.
"Ini makan siang buat kamu. Kamu makan ya. Aku tunggu nanti malam." Tanpa menunggu jawaban dari Sky, Ratna membalikkan badannya.
Sky menarik napas panjang. Sebenarnya dia tidak mau mencari masalah, tapi semakin ke sini gelagat Ratna semakin aneh. Bahkan penampilan dia semakin sexy dengan aroma parfum yang harum saat berada di dekatnya.
Sky membuka paper bag itu dan melihat kotak makan serta minuman isotonik. Lalu paper bag satunya berisi jam tangan.
When you're working, remember the time, like I always remember you...
"Semakin gak beres. Aku harus segera memutuskan ini." Sky kembali memasukkan barang-barang itu ke dalam paper bag lalu dia menghubungi Papanya.
...***...
Setelah selesai dari salon, Shena pulang ke rumah dan mempersiapkan makan malam berdua yang romantis di taman samping rumahnya.
"Semoga Kak Sky suka." Setelah tempat siap dan tinggal menata makanan serta menyalakan lilin, Shena masuk ke dalam kamar dan memilih baju yang bisa menarik perhatian Sky.
"Pakai ini aja kali ya." Shena mengambil gaun pendek yang berwarna merah lalu dia memakainya. Setelah itu dia merias wajahnya dan menyemprot minyak wangi di tubuhnya. Tak lupa menghidupkan aroma terapi juga di kamarnya. "Udah wangi."
Lalu Shena keluar dari kamar dan menata makanan di atas meja. Dia nyalakan lilin untuk menambah kesan romantis. Lalu dia duduk sambil menatap ponselnya.
"Tumben Kak Sky gak chat. Biasanya jam segini udah pulang."
Shena mengirim pesan pada Sky tapi hanya centang satu. Kemudian dia menghubunginya tapi nomornya juga tidak terhubung. Shena berdiri dan masuk ke dalam kamar untuk mengambil cardigannya karena badannya terasa dingin terkena angin malam. Dia masih saja menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi Sky lagi.
"Apa Kak Sky ada kerjaan ya? Telepon Papa aja, eh, tapi gak enak. Sebentar kayaknya aku simpan nomor Hilda sekretaris Kak Sky." Shena mencari nomor ponsel Hilda sambil duduk di kursi. Setelah ketemu, dia segera menghubungi Hilda.
"Hilda, Kak Sky apa masih di kantor? Atau ada meeting hari ini?"
"Pak Sky tadi sore sudah keluar dari kantor. Tapi hari ini memang ada jadwal makan malam dengan Bu Ratna untuk membahas proyek."
"Ya udah, terima kasih ya." Shena mematikan ponselnya. Hatinya tiba-tiba terasa sakit seperti tersayat saat mendengar Sky sedang bersama Ratna.
Dia kini menatap lilin yang semakin meleleh. "Kak Sky, gak mungkin makan malam di rumah." Kemudian dia tiup lilin itu. Dia menyusut air matanya yang hampir terjatuh. "Aku gak boleh berburuk sangka. Iya, Kak Sky pasti hanya membahas soal pekerjaan."
💞💞💞
Like dan komen ya...