
Sore hari itu seperti yang telah direncanakan, semua teman sekelas Shena telah berkumpul di kolam renang. Begitu juga dengan Shena dan Sky.
Shena berdiri di samping Sky dan mengamati outfit Sky yang memakai kaos pendek dan celana selutut itu. "Oke, gak papa yang penting gak ketat. Awas jaga mata!"
Sky tersenyum lalu mengacak rambut Shena. "Iya sayang, apa perlu aku pakai kacamata kuda."
"Ih, sayang-sayang. Ingat masih sekolah."
Semakin hari Sky semakin gemas dengan Shena. Apalagi sekarang Shena sangat posesif dengannya.
"Kak Sky, ayo dimulai," teriak salah satu teman Shena.
"Iya, iya. Aku jelaskan secara teori baru nanti praktek lima orang secara bergantian."
"Kalian sekalian dengar penjelasan Sky, nanti kalau mau praktek sama gue di kolam satunya. Gue gak bisa secara teori," kata Vicky.
"Gak papa, sekalian aja. Biar gak cewek semua nanti pawangnya ngambek." Sky tertawa sambil melirik Shena yang sedang duduk dan mengawasinya. Lalu dia menjelaskan teknik persiapan meluncur dan semua teori dasar berenang.
Shena tersenyum melihat Sky yang sangat fasih menjelaskan. Dia tidak hanya jago praktek tapi juga menguasai semua teori.
Vicky kini duduk di sebelah Shena. "Aku akui Sky memang hebat. Dia sudah setara dengan pelatih."
Shena hanya mengangguk. "Bahkan trauma aku juga sudah hilang. Kak Sky terus melatih aku secara perlahan."
"Syukurlah, jadi kamu sudah bisa bebas berenang. Aku dengar Sky terpilih mewakili Indonesia bertanding di Jepang."
Seketika Shena menoleh Vicky. "Tapi Kak Sky belum bilang sama aku."
"Iya, aku baru baca di grup. Mungkin nanti dia bilang sama kamu." Kemudian Vicky melihat kelas renang dadakan itu yang sangat hidup.
"Shena, lo gak ikut renang?" teriak Mila pada Shena.
"Nanti aja. Kan guru pribadi gue!" teriak Shena juga, yang langsung disambut satu senyuman dari Sky.
"Ya udah, gue mau bantu mereka dulu." Vicky berdiri dan ikut bergabung dengan mereka.
Shena terus menatap Sky yang sekarang mengajari teman-temannya praktek meluncur ke kolam. Sesekali dia tersenyum bangga memiliki kekasih seorang atlet renang yang hebat tapi mau berbagi ilmu.
Sampai hampir satu jam berlalu, Sky menghampiri Shena dan duduk di sebelahnya.
"Handuk Kak Sky." Shena memberikan handuk pada Sky.
"Kamu gak renang?" tanya Sky sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Hmm, lagi itu..."
"Oo, ya udah besok-besok aja private sama aku. Kalau gitu aku ganti baju dulu ya. Mereka sudah paham semua."
Shena menganggukkan kepalanya. Dia tidak berpindah tempat duduk dan hanya menatap teman-temannya yang satu per satu mulai pulang dan berpamitan padanya. Hingga akhirnya kolam renang itu mulai sepi.
"Sorry lama, tadi antri di toilet," kata Sky sambil menyodorkan pop mie yang sudah siap makan pada Shena. "Daripada antrinya sia-sia, sekalian beli ini."
"Makasih." Shena mulai memakan pop mie itu. Dia sebenarnya menunggu Sky bercerita tentang rencana pertandingannya ke Jepang.
"Jadi praktek renangnya minggu depan?" tanya Sky.
Shena menganggukkan kepalanya. "Iya, terus enam minggu lagi udah ujian."
"Cepat ya, bentar lagi kamu udah lulus SMA. Jadi kuliah dimana? Satu kampus sama aku aja ya."
"Iya, aku mau satu kampus sama Kak Sky aja." Shena kini menatap Sky.
"Kalau begitu, kamu bisa ikut aku ke Jepang."
Senyum di bibir Shena semakin mengembang, itulah kalimat yang dinantikan Shena. "Ke Jepang?"
Sky menganggukkan kepalanya. "Iya, aku terpilih untuk mengikuti piala dunia renang di Jepang. Sekitar dua bulan setengah lagi. Masih ada waktu untuk membuat paspor dan kamu juga udah selesai dengan ujian kamu."
"Kalau begitu, aku mau izin ke Ayah dan Ibu sekarang aja."
"Iya, kamu habisin dulu. Lalu aku temani untuk izin. Kita gak berdua kok ke sana. Ada coach dan beberapa atlet renang lain juga, tapi kalau sama kamu aku booking hotel di tempat lain juga. Setelah semua pertandingan selesai, kita bisa jalan sendiri dan tinggal beberapa hari di sana untuk liburan."
"Ayo Kak. Moga aja diizinin sama Ayah." Shena berdiri lalu menarik tangan Sky.
"Semangat banget."
"Iya dong. Kapan lagi liburan sama Kak Sky."
Satu tangan Sky kini merengkuh bahu Shena sambil berjalan menuju tempat parkir. "Tapi jangan lupa semangatnya buat aku."
"Pasti. Pasti Kak Sky bisa memenangkan pertandingan itu."
Setelah sampai di tempat parkir, Sky memakaikan helm di kepala Shena.
"Makasih."
Sky tersenyum sambil memakai helmnya. Setelah mereka naik ke atas motor, Sky segera melajukan motornya menuju rumah Shena.
Shena kini melingkarkan kedua tangannya di perut Sky. Mereka menikmati angin sore hari itu karena Sky melajukan motornya cukup pelan. Setelah puas berputar di jalanan, Sky menghentikan motornya di depan rumah Shena. Kemudian mereka turun dan melepas helm mereka. Kebetulan sekali Ayah Shena sudah pulang.
"Mobil Ayah sudah ada, itu berarti Ayah sudah pulang." Shena segera mengajak Sky masuk ke dalam rumah. "Kak Sky duduk dulu. Biar aku panggil Ayah dan Ibu."
Shena segera berjalan masuk ke dalam rumah sedangkan Sky kini duduk di ruang tamu.
"Ayah, sini Shena mau bicara."
"Bicara apa? Mau menuduh Ayah lagi?"
"Ih, Ayah."
Sky hanya tersenyum mendengar perdebatan antara Ayah dan anak itu. Dia jadi mengandai, mungkin suatu saat nanti jika dia sudah memiliki anak pasti juga sering berdebat seru seperti itu.
"Mau bicara apa?" tanya Naya. Dia kini sudah duduk bersama Arsen di ruang tamu.
Shena juga telah duduk di dekat Sky. "Shena mau minta izin ke Jepang setelah ujian nanti."
"Ngapain? Kalian berdua yang pergi?" tanya Arsen.
Shena menganggukkan kepalanya.
"Jadi saya terpilih mewakili Indonesia bertanding renang di Jepang. Tidak berdua, ada pelatih dan teman atlet renang lainnya. Saya ingin mengajak Shena untuk memberi semangat saya sekalian kita berlibur," jelas Sky.
Kedua orang tua Shena terdiam untuk berpikir sesaat. Mereka tidak mungkin memberi izin mereka berdua begitu saja.
"Itu berarti sekitar dua bulan setengah lagi?" tanya Arsen memastikan waktunya.
"Iya."
"Shena, Ayah gak bisa menemani liburan ke Jepang karena ada proyek penting di bulan itu, Kak Arnav juga sepertinya tidak bisa menemani kamu. Dia ada pertandingan basket di luar kota juga bulan-bulan itu."
"Ayah, kan ada Kak Sky," kata Shena.
"No, kalian belum sah."
"Iya," sahut Naya. "Kita gak akan izinin kalian pergi jauh berdua. Kecuali kalau kalian menikah terlebih dahulu, baru Ayah dan Ibu izinin."
"Iya, benar kata Ibu kamu. Kalau kamu mau ikut ke Jepang kalian menikah dulu baru Ayah dan Ibu bisa tenang, gak kepikiran tingkah kalian di sana."
Shena menggembungkan pipinya lalu dia bersandar dan melipat tangannya. "Shena kan masih mau kuliah."
"Ya udah, terserah. Dukung Sky lewat layar aja." Arsen berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
"Kalian berpikir dulu. Mumpung masih ada waktu dua bulan." Naya juga berdiri meninggalkan Shena dan Sky.
"Shena, gimana? Kalau aku sih yes." Sky menatap Shena sambil tersenyum. Tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan yang ada.
💞💞💞
Siapa yang yes lagi nih?
ðŸ¤